Wednesday, May 13, 2026
Home Blog Page 10

List Sumbangan Sukarela HBH dan Muscab Sumsel IATEK 2019

0

untuk mendukung HBH, Musyawarah Cabang Sumsel dan Penerbitan Kartu Anggota IATEK UNSRI, Mari kita galang pengumpulan Dana, iuran seiklhlasnya, 

Sumbangan dapat di transfer ke rekeninng IATEK UNSRI :

Bank Mandiri no Rek 103 000 22 000 18

an. IATEK UNSRI

Setelah transfer, mohon agar menginformasikan ke yuk Epeng (88) dan atau Yuk Een (97) via whatsapp atau dapat mengisi form online berikut :

Sumbangan Sukarela HBH Muscab dan Kartu Anggota IATEK

Update Final per 13 Juli 2019 , Total Sumbangan yang masuk sebesar : Rp 91.370.482 dari 83 Donatur.

Berikut Rekapitulasi Donatur Sumbangan Sukarela tersebut  :

(Note : Daftar ini akan diupdate setiap hari sekali

NoNamaAngkatanSumbangan (Rp)
83Donasi on the spot HBH1.350.000
82KMS H Abubakar1974250.000
81Budi Santoso1995300.000
80Belum konfirmasi100.000
79Merry Marteighianti19862.000.000
78Ketut Sugita19861.000.000
77Jani Satriadi19891.000.000
76Belum konfirmasi1.000.000
75Kolektif Angkatan 9319935.500.000
74Achmad Aswin2000250.009
73Belum konfirmasi200.000
72Jurusan Teknik Kimia Unsri5.000.000
71Belum konfirmasi250.000
70Aprillena TB1997200.000
69Munandar Sai Sohar19761.000.000
68Rachmadi1991200.000
67Kolektif Angkatan 9819986.000.000
66Ratna MDA250.000
65Frandi Sahattua Silalahi300.000
64Ahmad Fahrizal19841.000.000
63Man Winardi19841.000.000
62Hasanal Kemal19861.500.000
61Noezran Azwar19931.000.000
60M Sabiquun2006100.106
59Bintoro198310.000.000
58Belum konfirmasi3.000.000
57Nyayu Zubaidah1976250.000
56Syamsul Bahri1976250.000
55Dewi Putri Yuniarti1983150.000
54Yedi Efriandi1997970.000
53Hans Prawiradinata19691.000.000
52KA Badaruddin19765.000.000
51Belum konfirmasi250.000
50Yohana Mutiara Dewi2013100.000
49Eman Salman Arief198310.000.000
48Lamda Muchjin19861.000.000
47Triyono1996500.003
46Teguh Sutrisno19851.000.000
45Hendri Agustian1992500.000
44Rigel Andonie2004250.000
43Ipmawan Hidayatullah1996100.000
42David Bahrin1999300.000
41Mirwazi Kesai1965100.000
40Samiha1975500.000
39Belum konfirmasi150.000
38Ismet1977500.000
37Kgs Ade Anggara P2013100.000
36Novia Sumardi1992250.092
35Dian Kharisma Dewi150.000
34Belum konfirmasi250.000
33A Roni Alwis1991500.000
32Syaiful1979300.079
31Lia Cundari2002500.002
30Rahmatullah2006200.000
29Yayan Abdhi2000100.000
28RA Rahim Umar19861.000.000
27Yunus Bahfen19821.500.000
26Arief Budiyanto1991300.091
25AA Yunaedy1964150.000
24Andri Azmi1997500.000
23Veronica Kosasih1976250.000
22Alwie Syarofie1975250.000
21Rizka Rachmiyanti2012200.000
20Indriyawati Sofyeni2001300.000
19Dedi Haryanto1999200.000
18Fahrurrozi1987500.000
17Reza200550.000
16Usman Kamis1982600.009
15Masputra Agung19821.000.000
14Lisa Lestari1997350.000
13Winny Andalia2008200.000
12Khairul Rozaq198510.000.000
11Kms.M.Saleh1991500.091
10Serigianto19981.000.000
9Amrullah Rangkuti2004200.000
8Susila Arita1978200.000
7Dian Mayasari201250.000
6Eddy Kurnia1992200.000
5Syamsul Bachri19891.000.000
4Zulham Rizanur1989500.000
3Johnly Tamunu1982250.000
2M Zaki Shofahaudy2013150.000
1Daniel Al Habsy19991.000.000
TOTAL91.370.482

Mari Sukseskan HBH dan Musyawarah Cabang Sumsel IATEK UNSRI 13 Juli 2019.

Informasi lebih detail mengenai acara HBH dan Muscab Sumsel ini dapat dibaca disini

Salam

Pan-Pel

There are no views with that ID

Penggunaan Pupuk Nanopartikel Kitosan-NPK sebagai Solusi dalam Peningkatan Kualitas Tanaman di Indonesia Tema: Teknologi Nano dalam Bidang Chemical

Penggunaan Pupuk Nanopartikel Kitosan-NPK sebagai Solusi dalam Peningkatan Kualitas Tanaman di Indonesia

Tema: Teknologi Nano dalam Bidang Chemical

(Yuda Daffa Derlyansza/03031181621009)

 

            Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan target utama pemerintah di dalam bidang pertanian. Degradasi lahan seperti penurunan pada kesuburan tanah, pengelolaan lahan yang tidak tepat seperti pemupukan yang tidak berimbang serta pencemaran sumber daya tanah dan air merupakan salah satu penyebab terjadinya leveling off produksi pangan. Permasalahan yang sama juga dialami oleh banyak negara berkembang. Dari persepsi ilmu termodinamika, sistem pertanian saat ini dianggap sebagai sistem pertanian yang paling tidak efisien dibandingkan sistem pertanian di masa lalu dilihat dari kalori yang dihasilkan dibandingkan dengan jumlah kalori yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk  sebagai penunjangnya.

            Peningkatan ketahanan pangan membutuhkan suatu inovasi dari teknologi yang dapat memecahkan persoalan dalam kesuburan tanaman. Penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan sumberdaya alam seperti keracunan tanaman, polusi tanah, dan juga air. Di lain pihak kekurangan dari unsur hara menyebabkan penurunan produktivitas lahan, sehingga dibutuhkan suatu teknologi ramah lingkungan yang mempertimbangkan keseimbangan antara eksploitasi sumberdaya alam dengan lingkungan melalui pengurangan input terhadap bahan sintetik seperti pupuk kimia dan juga pestisida. Namun dengan demikian, meskipun secara kuantitatif jumlah pupuk yang akan  diaplikasikan sangat kecil, produksi diharapkan jauh melebihi produksi rata-rata.

            Salah satu jenis pupuk yang sering digunakan dalam pertanian adalah pupuk NPK. Pupuk NPK ini adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama nirogen, posfor, dan kalium. Pupuk NPK ini juga merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang paling umum digunakan. Ketiga unsur yang ada di dalam pupuk NPK ini sangat membantu pertumbuhan tanaman dalam tiga cara. Nitrogen akan membantu pertumbuhan vegetatif pada daun. Posfor untuk membantu pertumbuhan pada akar dan tunas. Kalium untuk membantu pembungaan dan pembuahan pada tanaman (Subbaiya dkk, 2012).

            Adanya program peningkatan produksi pangan untuk menjaga ketahanan pangan perlu didukung pula oleh teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan nilai produksi pangan. Terdapat beberapa teknologi yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dikembangkan diantaranya adalah produk input pertanian yang berteknologi nano. Teknologi nano telah mampu berkontribusi secara nyata dalam bidang penerapan yang luas diantaranya adalah pada bidang pertanian dan lingkungan. Pemanfaatan teknologi nano ini pemberian pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman (precision farming) dan tepat guna pada tanaman yang akan diaplikasikan.

            Melalui teknologi nano ini dihasilkan pupuk-pupuk berukuran nano (nano fertilizer) baik dalam bentuk tepung (nano powder) maupun cair. Penggunaan pupuk nano yang berukuran kecil ini (1 nm = 10-9 m) memiliki keunggulan lebih reaktif, langsung mencapai sasaran atau target karena ukurannya yang halus, serta dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan pupuk konvensional.

            Pupuk NPK-kitosan adalah pupuk dengan penambahan nano kitosan di dalamnya. Kitosan tersusun atas distribusi acak N-aceyl-D-glukosamine dan D-glucosaminelinked β-(1-4) (Hasaneen dkk, 2014). Kitosan diperoleh melalui deasetilasi senyawa kitin yang ditemukan pada cangkang arthropoda, mollusca, dan algae. Kitosan merupakan polimer yang memiliki banyak manfaat, salah satunya di dalam bidang pertanian terhadap tambahan pupuk agar daya kerja pupuk akan lebih maksimal terhadap pertumbuhan dan proteksi pada tanaman.      

            Pupuk NPK-kitosan dapat dibuat dengan menggabungkan pupuk NPK dengan partikel nano asam kitosan poli-metakrilat. Partikel nano kitosan poli-metakrilat diperoleh dengan reaksi polimerisasi metakrilik asam dalam larutan kitosan. Perawatan tanaman dengan NPK-kitosan menyebabkan pupuk yang signifikan peningkatan progresif di dalam semua pertumbuhan (panjang akar, panjang tunas, berat segar, kadar air, luas dari daun dan ketahanan terhadap mikroorganisme pengganggu seperti gulma, serangga, dan jamur) (Zul dkk, 2018).

            Hasil menunjukkan nanopartikel kitosan poli-metakrilat di dalam pupuk NPK-kitosan akan masuk ke dalam stomata dan akan masuk ke sistem floem. Floem terdiri dari satuan jaringan hidup jaringan pembuluh yang mentranslokasi produk fotosintesis termasuk sukrosa, protein, dan juga beberapa ion-ion mineral untuk pertumbuhan tanaman (Aziz dkk, 2016). Sebelumnya, partikel nano akan diserap oleh akan dan terbawa dalam aliran aliran zat hara melalui silinder untuk mengalir disepanjang akar sebagai akibat dari perbedaan tekanan antara sumber dari akar ke batang dan juga daun. Berdasarkan hipotesis aliran atau tekanan aliran, yang menjelaskan keberadaan nanopartikel kitosan-NPK di dalam floem jaringan tanaman dimana nanopartikel kitosan-NPK ini juga akan berdifusi ke jaringan xilem. Sehingga hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nanopartikel kitosan-NPK  di dalam floem itu akan ikut meningkatkan kinerja tissue tanaman dengan mentranslokasikan partikel nano dan juga akan berpengaruh besar di dalam dalam pertumbuhan, perkembangan, dan ketahanan terhadap hama pada tanaman yang diberi oleh pupuk nanopartikel kitosan-NPK (Mujahid dkk, 2017).

               Dengan demikian percepatan pertumbuhan tanaman dan produktivitas melalui penerapan pupuk hayati nanokitosan dapat membuka perspektif baru dalam praktik pertanian, karena pupuk nanokitosan ini telah menjanjikan cara yang aman untuk memperkaya nutrisi tanaman tanpa merusak lingkungan. Namun demikian, studi lapangan yang lebih lanjut diperlukan untuk mempelajari efek konsentrasi pada pertumbuhan dan metabolisme tanaman agar dapat memastikan keamanan nanotreated tanaman dan tidak berbahaya (toxic) pada tanaman ketika tanaman tersebut akan dikonsumsi oleh manusia ataupun juga oleh hewan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, H. M. M. A., dkk. 2016. Nano Chitosan NPK Fertilizer Enchances the Growth and Productivity of Wheat Plants Grown in Sandy Soil. Spanish Journal of Agricultural Research. Vol. 14(1): 1-9.

Hasaneen, M. N. A., dkk. 2014. Preparation of Chitosan Nanoparticles for Loading with NPK Fertilizer. African Journal of Biotechnology. Vol. 13(31): 3158-3164.

Mujahid, A., dkk. 2017. Uji Aplikasi Pupuk Berteknologi Nano pada Budidaya Tanaman Bayam Merah (Alternanthera amoena Voss). Jurnal Produksi  Tanaman. Vol. 5(3): 538-545.

Subbaiya, R., dkk. 2012. Formulation of Green Nano Fertilizer to Enhance the Plant Growth through Slow and Sustained Release of Nitrogen. Journal of  Pharmacy Research. Vol. 5(11): 5178-5183.

Zul, N. A., dkk. 2018. Karakterisasi Nano Kitosan dari Cangkang Kerang Hijau dengan Metode Gelasi Ionik. Jurnal Teknologi  Bahan Alam. Vol. 2(2): 106-111.

KALIBERAU PENGHAMBAT KRISIS MIGAS DI INDONESIA

KALIBERAU PENGHAMBAT KRISIS MIGAS DI INDONESIA

Oleh: Untung Waluyo (03031181722011)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya termasuk minyak dan gas bumi (migas). Industri minyak dan gas bumi (migas) sudah lama menjadi tulang punggung negara Indonesia. Namun Indonesia belum begitu banyak mengetahui bagaimana mekanisme pengolahan minyak dan gas (migas). Sehingga menyebabkan negara Indonesia kedepannya akan mengalami krisi migas. Dalam hal ini terdapat fakta-fakta mengenai krisisnya minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

Dikutip dari Liputan6, negara Indonesia saat ini kekurangan minyak dan gas, ternyata negara Indonesia saat ini sudah menjadi net oil importer dari tahun 2004, sehingga dalam hal ini mengakibatkan impor minyak Indonesia dari negara lain lebih besar daripada ekspor minyak dari dalam negeri ke luar negeri. Pada saat ini dalam negeri hanya mampu memproduksi sekitar 800 ribu barel minyak per hari, sementara konsumsi minyak dalam negeri yang dibutuhkan adalah mencapai 1,6 juta barel minyak per hari. Selain itu apabila dilihat dari sisi gas bumi, saat ini Indonesia sebenarnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan gas secara domestik. Namun, lapangan gas bumi yang ada di Indonesia kebanyakan berlokasi sangat jauh dari pemukiman dan juga jauh dari pusat industri yang mengelolah gas bumi tersebut, hal lain yang dapat menghambat juga adalah infrastruktur penerimaan gas belum begitu memadai di Indonesia, sehingga menyebabkan tidak semua gas bumi yang dimiliki alam Indonesia tidak dapat tererap dengan sempurna. Hal lain yang perlu dicermati dalam hal yang dapat menyebabkan kurangnya minyak dan gas bumi (migas) indonesia adalah  pertumbuhan konsumsi gas dalam negeri mengalami peningkatan di setiap tahunnya, dimana rata-rata pertumbuhan kebutuhan migas naik 9 persen di setiap tahunnya. Dalam hal ini apabila Indonesia dalam penambahan cadangan lambat dari pada pertumbuhan konsumsi maka akan menyebabkan Indonesia impor dari negara lain.

Indonesia apabila di bandingkan dengan negara-negara lain, masih sangat ketinggalan jauh untuk cadangan migasnya. Di kutip dari Liputan6, menurut data pada Dirjen Migas, cadangan minyak bumi di Indonesia pada januari 2016 hanya 3,3 miliar barel dan 101,2 triliun kaki kubik untuk gas. Sedangkan menurut BP Statistical Review 2016, cadangan minyak indoneia hanya sebesar 0,2 persen dari total cadangan minyak dunia. Sedangkan untuk gas, cadangan terbukti hanya 1,5 persen dari cadangan gas dunia. Tanpa adanya penambahan cadangan baru, kesenjangan antara konsumsi migas dengan produksi migas yang di hasilkan semakin melebar. Menurut data dari SKK Migas, tren lifting migas di Indonesia mengalami penurunan. Lifting migas telah turun dari 2,34 juta barel setara minyak per hari di tahun 2010 menjadi 1,96 juta barel setara minyak per hari di tahun 2015. Sehingga apabila tanpa adanya penemuan cadangan migas baru, maka lifting diperkirakan akan terus merosot menjadi 1,75 juta barel yang setara minyak per hari di tahun 2020. Cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk 12 tahun saja, sedangkan cadangan gas akan habis 37,8 tahun lagi. Tentunya hal ini bisa dicegah apabila penambahan cadangan migas berhasil ditemukan.

Sumber:www.jawapos.com

Secara geologis alam Indonesia masih kekayaan cadangan migas yang begitu menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan migas di Indonesia itu sendiri. Dalam kurun waktu hangat-hangat ini dunia perindustrian migas dikejutkan dengan berita penemuan cadangan gas di wilayah kerja Sakakemang, Musi Banyuasin,  Sumatera Selatan. Dimana di kutip dari Kata Data penemuan ini masuk dalam 4 besar penemuan cadangan gas terbesar di dunia pada tahun 2018-2019 dan terbesar di Indonesia dalam 2 dekade terakhir sehingga menjadi bukti bahwa alam Indonesia masih menyimpan cadangan migas dan lain itu juga dengan adalanya penemuan ini dapat pemicu untuk mencgeksplorasi keberadaan cadangan migas di alam Indonesia.

 

Sumber: http://m.katadata.co.id

Penemuan ini dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Repsol melalui sumur Kaliberau Dalam-2X. Di kutip dari JawaPos sumur Kaliberau ini diperkirakan memiliki potensi cadangan migas kurang lebih 2 triliun kaki kubik gas (TCF). Akan tetapi jumlah tersebut merupakan asumsi saat ini, sehingga masih ada kemungkinan terdapata pontensi cadangan migas lainnya di lokasi tersebut. Pada awal Februari 2019, Respol dan SKK Migas menemukan potensi cadangan dengan kedalaman sumur mencapai target 2.430 MD. Keberhasilan sumur KBD2X, akan membuka eksplorasi dengan target fractured basement di Sumatera Selatan.

Sehingga dapat dicermati dengan adanya penemuan cadangan gas di sumur Kaliberau Dalam-2X ini menjadi pemicu untuk mencegah terjadinya krisis migas di Indonesia untuk kedepannya dan dapat menambah pendapatan negara untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, di samping menambah dana bagi hasil (DBH) migas di daerah Musi Banyuasin sebagi dearah penghasil. Selain itu juga, penemuan gas ini dapat menjadikan aset vital energi negara dimana dapat memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, penggunaan jaringan gas di daerah setempat dan juga dapat menyerap tenaga kerja lokal semaksimal mungkin, sehingga dapat meminimalisir angka kemiskinan di daerah serta untuk pembangunan Sumatera Selatan, khususnya daerah Musi Banyuasin itu sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

JawaPos. 2019. Penemuan Besar, Potensi Gas Blok Sakamemang Hingga 2 Tcf. www.jawapos/24/02/2019/penemuan-besar-potensi-gas-blok-sukamemang-hingga-2-tcf. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Liputan6. 2017. Enam Fakta Migas Indonesia yang Wajib Kamu Tahu. www.liputan6.com/read/2017/03/27/ enam-fakta-migas-indonesia-yang-wajib-kamu-tahu. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Setiawan, V. 2019. Blok Sakakemang, Temukan Gas Terbesar ke-4 Dunia dalam Dua Tahun. http://m.katadata.co.id/berita/2019/02/22/blok-sekakemang-temukan-gas-terbesar-ke-4-dunia-dalam-dua-tahun. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Wulandari, D. 2019. Musi Banyuasin Masih Potensial Sumber Migas Nasional. http://m.bisnis.com/sumatra/read/20190222/534/892239/musi-banyuasin-masih-potensial-sumber-migas-nasional. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

 

 

 

 

Resah Lautan Plastik, Limbah Kresek Dijadikan Aspal

 Foto: Mongabay Indonesia

Forum Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 membahas terkait solusi pengurangan limbah plastic sebagai bahan campuran untuk aspal. Uji coba tersebut telah dilakukan di Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali. Jalan sepanjang 700 meter terkait pemanfaatan limbahan plastic sebagai campuran aspal dengan cara kering (dry process) dengan kada plastic sebesar 6% dari berat aspal. Menurut Kepala Balitbang Kementrian PUPR setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter membutuhkan campuran limbah plastic sebanyak 2,5 ton hingga 5 ton dimana apabila penelitian ini dapat terealisasikan akan mampu mengurangi banyak sampah plastik dengan jalan di Indonesia yang  ribuan kilometer.(sumber: mongabay)

Presiden Joko Widodo saat pertemuan G-20 memiliki komitmen atas pengurangan limbah plastic laut sebesar 70% hingga tahun 2025. Sampah plastic di Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai angka 9,52 ton yang apabila dikonversi menjadi aspal dapat membuat jalan sepanjang 190.000 km. Aspal plastic yang dihasilkan lebih lengket dan memiliki stabilitas serta ketahanan yang lebih baik dari aspal biasa. Aspal dengan campuran plastic dapat menjadi salah satu inovasi terkini dalam mewujudkan pengurangan limbah plastic yang dibuang ke laut sebanyak 0,48-1,29 juta metric ton demi lingkungan hidup yang sehat. (Dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2017/08/02/limbah-plastik-digunakan-untuk-aspal-jalan-ternyata-berisiko-kenapa/.)

Penelitian yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik tahun 2016, Marine debris di Indonesia didominasi oleh kantong plastic (kresek) dan residu sebesar 62%. Salah satu bahan campuran pembuatan aspal yakni polimer. Kantong plastic yang biasa digunakan merupakan contoh polimer dari jenis plastomer yang mampu untuk digunakan sebagai bahan tambahan pengeras jalanan. Bahan campuran limbah plastik untuk aspal hanya dibatasi untuk jenis LDPE(Low Density Polyehtylene) yang telah melalui proses pretreatment yaitu pencucian dan pencacahan. Cacahan limbah plastik harus memliki persyaratan kering, bersih, dan terbebas dari bahan organik dengan ukuran maksimal 9,5 mm. Limbah plastic dicampurkan melalui agregat panas di mixing plant pada temperature 170oC. Setelah dilakukan pengadukan secara kering, maka selanjutnya dilakukan secara basah dengan menambahkan aspal pada suhu 160 oC. Tahap terakhir aspal dimobilisasi ke jalanan untuk dilakukan penghamparan dan pemadatan.

Potensi pemanfaatan limbah plastik dengan penggunaan limbah plastik sebesar 6% dari kadar aspal serta probabilitas penggunaan teknologi aspal limbah plastic sebesar 50% maka limbah plastic yang dapat berkurang untuk campuran aspal polimer atau aspal plastic dapat berkurang sebesar 0,45 ton / tahun. Namun pemanfaatan limbah plastic juga terdapat dampak buruk dari penggunaannya yakni terkait potensi pemaparan racun dikarenakan plastic yang terkena pancaran sinar matahari mampu menaikan suhu aspal plastic yang berisiko menimbulkan zat dioksin yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Zat dioksin berasal dari sintesis kimia pada proses pembakaran zat organik yang bercampur dengan unsur halogen pada suhu tinggi salah satunya terdapat pada limbah plastic. Plastik yang terdapat di kondisi panas akan memuai serta mengeluarkan racun seperti degradasi mikroplastik yang mampu masuk ke dalam ekosistem.

Pemilihan aspal dengan campuran limbah plastic perlu kehati-hatian jika menjadikan proyek besar karena dampak buruk yang akan timbul oleh polyethylene walaupun belum ada temuan bukti tentang racun dari aspal plastic. Teknologi yang belum aman atau tersertifikasi maka belum waktunya untuk diaplikasikan secara luas. Semua usaha untuk menciptakan teknologi baru ialah untuk membantu mengurangi limbah plastic yang dibuang ke laut dan menjaga ekosistem laut serta lingkungan hidup yang lebih memadai.

Mandat B20: Langkah Awal Menuju Ketahanan Energi Nasional

0

Mandat B20: Langkah Awal Menuju Ketahanan Energi Nasional

Oleh: Sayidil Tohari (03031281722061)

     Seringkali, kita dicekoki dengan anggapan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya energinya, baik dari kuantitas maupun keragaman jenis energi yang terkandung. Memang, itu bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Namun, tidak halnya dengan potensi minyak bumi.

     Per tanggal 10 September 2008, Indonesia menandatangi kesepakatan resmi untuk menghentikan sementara keanggotannya dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) karena telah beralih menjadi importir dan tidak lagi melakukan kegiatan ekspor minyak bumi.

     Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, cadangan pasti minyak bumi Indonesia pada tahun 2018 adalah sebesar 3,1 miliar barel. Jumlah ini terus menurun tiap tahunnya setelah tahun 2009 yang pernah menyentuh angka 4,3 miliar barel.

(Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)

     Angka tersebut bukanlah nilai yang banyak atau melimpah karena data dari OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) pada tahun 2017 menunjukkan bahwa cadangan terbukti minyak bumi dunia berada pada angka 1.482, 77 miliar barel. Berarti, cadangan minyak Indonesia hanya berkisar 0,2% dari cadangan minyak bumi dunia.

(Sumber: OPEC)

     Belum lagi diperparah dengan prediksi para ahli yang menyatakan bahwa apabila Indonesia tidak menemukan adanya cadangan baru, produksi minyak bumi nasional dapat terhenti dalam 11 hingga 12 tahun mendatang. Prediksi para ahli sangat mungkin untuk dicegah. Kunci keberlangsungan produksi minyak bumi nasional yaitu dengan adanya teknologi dan temuan dari cadangan terbaru. Namun hingga saat ini, belum ada teknologi yang dapat digunakan untuk menguras lebih.

     Terlihat seperti alarm merah bagi keberlangsungan energi nasional. Apakah kita akan menyerah dengan keadaan? “Tidak!” tentu merupakan jawaban yang diharapkan. Berkaca dengan iklim energi saat ini, pemerintah tengah berupaya mengurangi ketergantungan negara akan minyak bumi yang merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui. Salah satunya yaitu dengan menerapkan kebijakan B20.

(Sumber: Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE))

     Implementasi kebijakan B20 sudah berlaku sejak paruh akhir tahun lalu tepatnya pada tanggal 1 September 2018. Mandat B20 merupakan kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) sebanyak 20% dengan BBM jenis solar sebanyak 80%. Sebenarnya, program biofuel ini sudah mulai diaplikasikan pemerintah sejak tahun 2006 dengan dimulai dari B3. Kenaikan persentase pertama terjadi pada tahun 2007 dari B3 ke B5. Campuran yang ditambahkan ke dalam solar menggunakan minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palm Oil).

     Berbagai jenis komoditas nabati lain juga dapat digunakan sebagai komponen campuran untuk solar, seperti tebu, ubi kayu, kedelai, ataupun jagung. Pemilihan minyak kelapa sawit sangatlah masuk akal mengingat Indonesia merajai produksi dan ekspor minyak kelapa sawit dunia. Direktorat Jenderal Perkebunan bersama Kementerian Pertanian dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat sebanyak 43,9 juta ton CPO diproduksi pada tahun 2018. Angka yang fantastis jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, yang menempati posisis kedua dengan 28 juta ton.

(Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI))

     Awalnya, B20 hanya diwajibkan bagi kendaraan PSO (Public Service Obligation) seperti kereta api. Namun, perluasan kebijakan diberlakukan kepada kendaraan non-PSO alias kendaraan pribadi. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat menekan angka impor BBM demi penghematan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah, serta pengurangan emisi karbon.

     Dikutip dari Kata Data, kebijakan B20 berhasil menghemat devisa sebesar Rp28,4 triliun pada tahun 2018 akibat jumlah impor solar yang berkurang. Ditargetkan hingga hampir Rp50 triliun penghematan cadangan devisa di tahun 2019 dan itu bukanlah hal yang mustahil mengingat pada kuartal terakhir 2018 saja sudah menyentuh angka sebesar itu.

     Produksi biofuel yang juga dilakukan di dalam negeri turut menambah penyerapan CPO nasional. Akan ada jutaan petani kelapa sawit yang terdampak secara langsung melalui penerapan kebijakan B20. Diperlukan adanya konsistensi dari pemerintah untuk tetap menggaungkan dan menegakkan regulasi ini demi ketahanan energi nasional yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi. 2018. Yuk, Kenali Istilah B20, B100, Biofuel dalam Bioenergi. http://ebtke.esdm.go.id/post/2019/02/25/2144/yuk.kenali.istilah.b20.b100.biofuel.dalam.bioenergi?lang=en. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. 2019. Volume Produksi Minyak Kelapa Sawit (CPO), 2000-2018. https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/volume-produksi-kelapa-sawit-cpo-2000-2018-1550473390. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2019. Cadangan Minyak Bumi. http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=cadanganMinyakBumi/index. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Organization of the Petroleum Exporting Countries. 2018. OPEC Share of World Crude Oil Reserves. https://www.opec.org/opec_web/en/data_graphs/330.htm. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Sulmaihati, F. 2019. Selama 2018, Program B20 Hemat Devisa Rp28,4 Triliun. https://katadata.co.id/berita/2019/01/08/selama-2018-program-b20-hemat-devisa-rp-284-triliun. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

 

Limbah Plastik dari Aku, Kamu, Kita Semua sebagai Salah Satu Alternatif Bahan Bakar

0

Limbah Plastik dari Aku, Kamu, Kita Semua sebagai Salah Satu  Alternatif Bahan Bakar

Fanny Aldanasti, Teknik Kimia Universitas Sriwijaya

     Di era modern seperti sekarang, seseorang tidak akan lepas dari barang berbahan plastik. Barang tersebut memiliki berbagai macam fungsi seperti beberapa diantaranya sebagai pembungkus makanan, perabotan rumah tangga, alat-alat listrik, dan lainnya. setiap barang dari bahan plastik tersebut tentu saja menjadi limbah yang merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Banyak peneliti maupun pemerintah mengupayakan berbagai macam cara agar limbah dari bahan plastik ini bisa diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat lain.

     Seperti yang kita ketahui, limbah dari bahan plastik memerlukan waktu yang sangat lama agar bisa terurai. Dikutip dari BBC.com, sampah plastik khususnya dalam bentuk kantong, membutuhkan waktu 20 hingga 1000 tahun untuk akhirnya dapat terurai. Hal ini tentu sangat membahayakan lingkungan dan ekosistem yang ada di bumi. Selain waktu untuk terurai yang lama, jumlah limbah plastik yang dihasilkan pun sangat besar. Sebagai contoh, Indonesia diperkirakan akan menghasilkan sampah sekitar 66-67 juta ton sampah pada tahun 2019. Adapun Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan jenis sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 15 persen. Jumlah yang banyak tersebut mendorong para peneliti untuk mengubah limbah dari bahan plastik tersebut menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai jual yang tinggi seperti dijadikan bahan bakar.

     Indonesia merupakan negara dengan konsumsi energi yang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% per tahun. Angka tersebut berada di atas pertumbuhan konsumsi energi dunia yaitu sebesar 2,6% per tahun. Konsumsi energi di Indonesia pada tahun 2015 terbagi untuk sektor industri sebesar 31,79%, rumah tangga sebesar 15,27%, komersial sebesar 5,09%, transportasi sebesar 45,51%, dan lain-lain sebesar 2,34%. Dari data tersebut terlihat bahwa peningkatan konsumsi energi pada sektor transportasi meningkat beberapa tahun belakangan ini.

     Dari penjelasan di atas, dengan jumlah limbah plastik yang banyak serta kebutuhan akan bahan bakar minyak (energi tidak terbarukan), pengolahan lebih lanjut limbah tersebut telah banyak dilakukan. Menggunakan alat-alat yang sederhana, limbah plastik ini bisa diubah menjadi bahan bakar minyak. Seperti yang diketahui, plastik sendiri dibuat dari polimer-polimer yang sebelumnya didapat dari olahan minyak bumi. Dengan melelehkan kembali plastik, maka bisa didapat kembali minyak bumi. Minyak-minyak ini harus melewati proses pemisahan dan pemurnian terlebih dahulu agar dapat dipakai sebagai bahan bakar.

     Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar. Salah satunya adalah Tamilkolundu dan Murugesan, 2012, melakukan penelitian dengan mengubah sampah plastik jenis PVC menjadi bahan bakar minyak. Bahan bakar minyak dari plastik PVC ini mempunyai densitas 7% lebih tinggi dari solar. Demikian juga dengan viskositasnya, lebih tinggi 300% dibanding solar. Selanjutnya bahan bakar minyak yang berasal sampah plastik tersebut dicampur dengan solar. Campuran bahan bakar ini diuji coba pada mesin diesel satu silinder. Untuk kerja yang diamati antara lain konsumsi bahan bakar, konsumsi bahan bakar spesifik, dan efisiensi termal. Solar yang dicampur dengan minyak dari plastik menghasilkan unjuk kerja konsumsi bahan bakar lebih rendah dan efisiensi termal yang lebih tinggi. Serta masih banyak lagi penelitian lain yang belum sempat disebut oleh penulis satu per satu. Semua penelitian tersebut diharapkan dapat menjadikan limbah bahan plastik yang jumlahnya banyak sebagai alternatif bahan bakar fosil yang jumlahnya semakin berkurang.

 

IATEK UNSRI

FREE
VIEW