DAMPAK KENAIKAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP PERMINTAAN CRUDE PALM OIL (CPO) UNTUK BIODIESEL
Minyak bumi dalam bahasa inggris ‘petroleum’, dari bahasa Latin petrus–karang dan oleum–minyak), atau disebut juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar yang berada di lapisan atas dari beberapa area kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar meruapakan deret senyawa alkana, bervariasi dalam komposisi dan kemurniannya. Minyak bumi bersumber dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga makin hari cadangannya makin menipis sejalan dengan tuntutan kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat.
Menipisnya cadangan minyak bumi serta pencemaran lingkungan merupakan isu global yang meresahkan manusia dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Hal ini berakibat melonjaknya harga minyak dunia yang memberikan dampak besar terhadap perekonomian dunia tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak bumi secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan pembangkitan tenaga listrik. Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak pada makin meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi serta aktivitas industri. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan akan bahan bakar cair juga akan semakin meningkat.
Semakin menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia berdampak pada ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak bertambah. Oleh karena itu pengembangan energi bahan bakar terbarukan menjadi penting selama beberapa tahun terakhir. Salah satu alternatif sumber energi terbarukan yang cukup menjanjikan adalah biodiesel. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
Dewasa ini, banyak penemuan mengenai bahan lain pengganti bahan bakar minyak dari crude oil. Salah satunya adalah Crude Palm Oil (CPO). Minyak sawit Crude Palm Oil (CPO) merupakan komoditas strategis Indonesia dan sekaligus salah satu komoditas penting di pasar internasional.
Trend baru ini menunjukkan bahwa peran CPO tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan (antara lain minyak goreng) dan industri hilir lainnya. Dengan meningkatnya permintaan CPO di pasar dunia, maka permintaan CPO juga akan meningkat dan juga memiliki dampak yang lebih luas pada industri perkelapasawitan di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas maka studi tentang permintaan CPO untuk biodiesel dan dampaknya bagi industri kelapa sawit domestik menarik untuk dicari tahu.
Biodiesel atau metal ester merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel atau solar. Penggunaan biodiesel sebagai sumber energi merupakan solusi menghadapi kelangkaan energi fosil pada masa mendatang. Hal ini karena biodiesel bersifat dapat diperbaharui (renewable),dapat terurai (biodegradable) dan memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin karena termasuk kelompok minyak tidak mengering (non-drying oil) dan mampu mengurangi emisi karbon dioksida dan efek rumah kaca. Biodiesel juga bersifat ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan diesel/solar, yaitu bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) rendah, terbakar sempurna (clean burning), dan tidak menghasilkan racun (non toxic).
Mengkonversi CPO menjadi biodisel memang memerlukan investasi yang tidak sedikit dan memerlukan effort yang lebih banyak, sehingga mengekspor CPO mentah tentu lebih mudah dan cepat mendatangkan uang. Jelas jauh lebih mudah daripada harus mengkonversi menjadi biodisel. Seharusnya pemerintah bisa melakukan langkah-langkah yang lebih baik untuk mendorong agar pengusaha kepala sawit dapat mengembangkan hasilnya menjadi bahan baker biodisel seperti membantu mengatasi penyediaan teknologi, serta menyiapkan sasaran pasar biodisel yang dihasilkannya.
Kajian ekonomi kelapa sawit Indonesia umumnya melihat permasalahan minyak sawit sebagai komoditas ekspor untuk memenuhi permintaan domestik maupun pasar internasional sebagai sumber bahan baku industri maupun pangan. Korelasi untuk mencari hubungan harga CPO dunia dengan harga BBM dunia disajikan pada gambar berikut.
Tahun 2008, total ekspor biofuel di pasar dunia mencapai 771 juta ton, yang bersumber dari minyak kedele dan minyak sawit. Volume ekspor USA tahun 2008 adalah 353 juta ton (45,8%) atau mendekati separuh total ekspor dunia, diikuti Negara Argentina sebesar 264 juta ton (34,2%). USA, Argentina dan Brazil adalah negara eksportir utama biodiesel di pasar dunia yang menggunakan bahan baku minyak kedele (soybean oil), sedangkan negara Indonesia menggunakan sumber minyak sawit. Pangsa ekspor biodiesel Indonesia tahun 2008 adalah 13,32% (102 juta ton).
Jika dibandingkan dengan Malaysia, net ekspor Malaysia adalah 6,6% (51 juta ton). (Oil World, 2009) Berdasarkan proyeksi Oil World (2009) dalam satu dekade ke depan (2008-2018), ekspor biodiesel Indonesia akan bertumbuh (growth) sebesar 1,62% per tahun, sementara Malaysia menurun (negative growth) 0,78% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen utama dan sekaligus negara eksportir utama biodiesel yang bersumber dari minyak sawit di pasar dunia. Data ini mendukung hasil studi di atas, dimana produksi CPO Indonesia memiliki peran penting untuk memenuhi permintaan energi di pasar internasional.
Trend hingga tahun 2018, dimana pertumbuhan produksi biodiesel Indonesia meningkat rata-rata 7,01% per tahun, sedangkan pertumbuhan konsumsi mencapai 15,32% per tahun, dan pertumbuhan ekspor biodiesel Indonesia ke pasar internasional adalah 0,17% per tahun. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan yang relatif baik, dimana selain untuk tujuan ekspor, produksi biodiesel Indonesia juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, bahkan komoditas substitusinya juga akan naik.
Kenaikan harga BBM terhadap permintaan CPO domestik akan memberikan dampak yang luas dalam industri kelapa sawit Indonesia, antara lain pada industri hilir minyak goreng domestik. Hal ini sangat logis, dimana permintaan CPO untuk energi akan berkompetisi dengan permintaan CPO untuk energi dan juga akan berdampak pada penurunan volume ekspor CPO domestik. Selanjutnya, penurunan ekspor CPO akan dirasakan oleh negara-negara pengimpor : RRC, India dan Uni Eropa. Sejak tahun 2000, rata-rata kenaikan harga BBM dunia mencapai 18,71% per tahun. Selanjutnya angka ini digunakan sebagai dasar penetapan besarnya kenaikan harga BBM.
Dari data-data diatas dapat kita lihat bahwa kenaikan harga minyak bumi secara terus menerus dapat diatasi dengan menggunakan energi terbarukan yaitu biodiesel. Selain lebih menghemat biaya untuk kedeepannya, sumber energi ini juga lebih ramah lingkungan serta merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui apabila persediaan minyak bumi dunia telah habis. Beberapa perusahaan kelapa sawit sebenarnya ada yang memproduksi biodiesel namun hanya skala kecil. Pemerintah seharusnya lebih mendukung lagi proses produksi biodiesel oleh perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit sehingga biodiesel yang mereka buat dapat dipasarkan keluar tidak hanya mereka pakai sendiri. Karena, kita tidak mungkin selamanya dapat menggunakan bahan bakar fosil yang suatu saat nanti cadangannya akan habis untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari maupun kebutuhan industri.
Illegal Drilling
(sumber : http://www.zimsentinel.com/wp-content/uploads/2014/10/oil.jpg)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan suatu aktivitas. Dimulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah, kerja ataupun kuliah, dan sampai kita pulang lagi ke rumah untuk beristirahat. Sebagian besar aktivitas dalam kehidupan kita difasilitasi dengan minyak bumi. Bagaimana tidak? Dimulai dari sarapan, makanan yang kita makan tentunya harus diolah atau dimasak dahulu. Makanan dimasak menggunakan bahan bakar agar makanan kita menjadi matang yaitu minyak tanah apabila memakai kompor minyak dan LPG apabila memakai kompor gas. Saat kita berangkat kuliah atau kerja baik kendaraan umum atau kendaraan pribadi, memakai bahan bakar agar kendaraan itu dapat bergerak. Bahan bakar yang digunakan bersumber dari turunan fraksi minyak bumi seperti solar dan bensin. Didalam mesin kendaraan, terdapat oli yang digunakan untuk mencegah keausan mesin. Jalan yang dilewati oleh kendaraan kita, terbuat dari aspal. Aspal ini terbuat dari residu yang merupakan fraksi terakhir dalam minyak bumi, Bahkan saat kita merayakan ulang tahun, lilin kue yang akan kita tiup serta korek yang digunakan untuk menyalakan lilinnya menggunakan bahan baku paraffin yang juga merupakan salah satu fraksi turunan minyak bumi.
Crude oil atau minyak bumi mentah diambil dari pengeboran minyak bumi yang berada di dalam perut bumi. Minyak bumi sendiri berasal dari makhluk hidup yang tertimbun ratusan juta tahun lalu lamanya dengan proses pembusukan. Mengingat akan pentingnya kebutuhan minyak bumi di dunia ini, khususnya di Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya oknum-oknum yang menggunakan berbagai cara untuk bisa mendapatkan minyak bumi ini. Salah satu caranya adalah dengan pengeboran minyak secara terlarang. Menurut undang – undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, bahwa kegiatan hulu migas yaitu eksplorasi dan ekspoitasi serta kegiatan hilir migas yang meliputi pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, dan niaga, yang tidak memiliki izin sebagaimana yang diatur dengan undang-undang dikategorikan dengan tindakan pidana.
Praktek pengeboran illegal bisa mengurangi pendapatan daerah dan negara yang tentunya sangat merugikan dan tidak adi untuk sebagian pihak, Kegiatan pengeboran minyak secara illegal ini tidak hanya merugikan negara, tetapi dapat membahayakan masyarakat sekitar. Sumber daya alam yang kita miliki seperti migas seharusnya dikuasi oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kebutuhan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Jika dilakukan pengeboran secara illegal, ini berarti hanya oknum-oknum tertentu yang bisa menikmati hasilnya. Selain itu, karena terbatasnya pengetahuan dan biaya, praktek pengeboran secara illegal tidak memakai cara yang benar dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam hulu migas sehingga bisa membahayakan lingkungan masyarakat sekitar.
Dan juga, pengeboran secara illegal bisa membahayakan kesehatan manusia, kenapa? Karena dengan pengeboran illegal, manusa bisa terkena beberapa kandungan minyak mentah yang berbahaya karena terpapar langsung akibat kurangnya peralatan dan perlengkapan pelindung. Bahan berbahaya itu antara lain adalah benzene (C6H6), toluene (C7H8), cylene (C8H10) serta sejumlah logam berat seperti tembaga (cu), arsen (ar), merkuri (hg), dan timbal (pb). Zat-zat tersebut bisa menyebabkan gangguan pada pernafasan, pencernaan, bahkan menyebabkan kanker. Selain itu dampak lain yang ditimbulkan adalah bisa menyebabkan tumbuhan yang ada disekitar sumur minyak bisa tercemar oleh logam-logam yang terkandung. Jika tumbuhan tersebut dikonsumsi oleh manusia, maka logam tersebut bisa berpindah ke tubuh manusia dan menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatannya.
Salah satu kasus pengeboran illegal yang merugikan ini terjadi di Aceh Timur, Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak. Sumur yang di bor, merupakan bagian dari wilayah Pertamina EP Aset I, yang dikelola dengan kerja sama operasi BUMD. Akibat dari pengeboran sumur illegal tersebut mengakibatkan meledaknya sumur tersebut, sehingga menimbulkan kebakaran. Dari masalah tersebut tercatat 5 korban jiwa dan puluhan warga mengalami luka bakar akibat kebakaran sumur minyak ini.
Selain itu, kasus seperti ini terjadi di Jambi tahun 2018, dimana polisi berhasil menangkap 10 orang pelaku karena kedapatan mengangkut sekitar 20 ton minyak secara illegal. Minyak tersebut didapat dari pengeboran terlarang di daerah Bajubang, kabupaten Batanghari di Jambi. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa seperti kasus di Aceh Timur, tetapi kerugian materil yang dialami oleh beberapa pihak.
Setiap tahun, jumlah pengeboran sumur yang illegal terus bertambah. Bermacam modus yang dilakukan oleh pelaku misalnya seperti dengan cara menyewa tanah seseorang yang diduga mengandung minyak. Sementara itu oknum petinggi tidak berani menutup sumur minyak ilegal dengan alasan agar warga sekitar bisa mencari nafkah di lokasi yang telah digali.
Untuk itu, pemerintah diharapkan untuk lebih menegakkan hukum bagi pelaku yang berusaha pemberantasan pengeboran minyak secara illegal dan lebih melakukan pengawasan lagi. Seperti memberikan hukuman yang berat kepada sang pelaku, dan lubang bekas pengeboran ditutup agar tidak membahayakan masyarakat sekitar dan tidak disalah gunakan lagi. Dilansir dari website migas.esdm.go.id, saat ini pemerintah telah berusaha memberantas oknum-oknum tersebut dengan membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengatasi illegal drilling ini. Namun satgas ini belum bisa beroperasi karena terkendala oleh biaya. Hal ini sangat disayangkan, semoga satgas yang bertugas mengatasi masalah ini bisa beroperasi secepatnya untuk mengurangi maraknya illegal drilling yang terjadi di Indonesia.
referensi :
- https://migas.esdm.go.id/post/read/atasi-illegal-drilling-pemerintah-bentuk-satgas
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180425084554-20-293338/pengeboran-minyak-ilegal-di-aceh-terbakar-lima-orang-tewas
- https://news.detik.com/berita/d-4427483/polisi-tangkap-10-orang-pengangkut-20-ton-minyak-ilegal-di-jambi
Gas Alam Untuk Kemakmuran Bangsa

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Berbagai macam agama, suku, adat istiadat, dan budaya berbaur bersatu di Indonesia. Keanekaragaman hayati yang didukung dengan kekayaan alam yang melimpah menjadikan Indonesia negeri yang kaya. Sumber daya alam terutama batu bara, minyak bumi, dan gas alam tersebar di sepanjang wilayah negara Indonesia ini. Ada banyak sekali industri-industri yang berkembang dan membuat pabriknya di wilayah Indonesia, Salah satu industri yang menjadi pemasok devisa negara yaitu industri minyak bumi dan gas. Akan tetapi, pemanfaatan sumber daya alam ini mengesampingkan kemakmuran rakyat selama ini.
Pemerintah melalui Presiden mendeklarasikan membangun pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW yang menandakan kemajuan bagi bangsa Indonesia dengan pembangunan pembangkit listrik yang akan menerangi seluruh wilayah Indonesia sampai ke pelosok negeri sekalipun. Tapi, dibalik kemajuan pembangunan Indonesia ada permasalah besar yang sedang dialami Indonesia. Salah satu bahan utama pembangkit listrik adalah batu bara. Batu bara itu sendiri adalah sisa-sisa makhluk hidup yang mengendap selama ribuan tahun dan membentuk batuan-batuan. Negara ini memiliki pasokan batu bara yang sangat banyak terutama di Kalimantan dan Sumatera. Eksploitasi batu bara semakin terus meningkat seiring dengan rencana pembangunan pembangkit listrik. Mungkin pilihan yang tepat bagi pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya tetapi tidak dengan rakyat sekitar pembangkit maupun area tambang yang terkena imbas perusakan lingkungan dari tambang batu bara.

Menurut data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi batu bara tahun 2018 mencapai 548,58 juta ton. (Tulisan ini juga dimuat di www.mbisnis.com oleh Lucky Leonard). Batu bara akan terus menjadi sumber utama untuk kebutuhan PLTU. Berbagai macam keluhan maupun protes yang dilakukan masyarakat seperti yang terjadi di Jambi, sungai untuk bercocok tanam tercemar batu bara, lokasi tambang yang berjarak 500 meter lama kelamaan semakin mendekati rumah warga. Di Kalimantan Timur, lubang bekas galian tambang belum semuanya di reklamasi sehingga menyebabkan hilangnya korban jiwa yang notabene anak anak yg berjumlah 24 orang. Di Cilacap, ekspansi PLTU menimbulkan konflik lahan dan juga warga harus terpapar dampak limbah dari pengolahan batu bara itu sendiri.
Sudah saatnya ada solusi lain yang bisa ditawarkan ke masyarakat. Tidak ada lagi keluhan maupun penolakan hingga menyebabkan nyawa melayang. Pengurangan produksi batu bara patut diperhitungkan terlebih banyak dampak buruk yang dirasakan oleh masyarakat. Salah satu solusinya adalah peningkatan produksi gas alam. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga akhir 2017, bahan bakar pembangkit listrik yang berasal dari gas bumi atau alam hanya sebesar 24,82 % Sedangkan untuk batu bara melebihi angka 50 %. Ini mengindikasian jika Indonesia masih bergantung dengan batu bara padahal berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh General Electric, jumlah simpanas gas alam di Indonesia lebih banyak lima kali lipat dari simpanan sumber daya minyak buminya. Kurang lebih ada 157,14 triliun kaki kubik (TCF) jumlah gas yang telah terdeteksi.( Tulisan ini juga dimuat di www.geologinesia.com/2017/10/pemanfaatan-gas-alam-di-indonesia.html?m=1). Belum lagi baru-baru ini sebuah perusahaan asal spanyol, repsol menemukan cadangan gas terbesar kelima di dunia. Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan, “ cadangan gas yang ditemukan diperkiran mencapai 2 triliun kaki kubik (TCF)”.
Bukan tidak mungkin gas alam akan menjadi sumber utama pembangkit listrik kedepannya jika saja pemerintah bisa serius dan mau mengembangkan teknologi dengan berlandaskan aspek-aspek kemanusiaan kepada masyarakatnya. Ada tiga faktor mengapa gas alam harus menjadi pemasok kedepannya. Pertama, sumber yang melimpah. Potensi pengembangan gas alam didukung dengan cadangan gas yang besar dapat mengembangkan teknologi lain selain batu bara. Kedua, bersih dan ramah lingkungan. gas alam memiliki emisi yang lebih kecil yaitu menghasilkan karbon dioksida 45 % lebih sedikit dari batu bara. Gas alam tidak berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan dibandingkan batu bara dan juga gas alam adalah sumber yang relatif “bersih” yang hasil proses ataupun emisi buang lebih rendah dari batu bara. Ketiga, harga yang relatif sama. Walaupun gas alam memiliki harga yang lebih mahal sedikit dengan batu bara tetapi dengan stok yang melimpah diikuti dengan dampak ke lingkungan kecil harusnya pemerintah Indonesia dapat sedikit demi sedikit beralih ke energi yang ramah lingkungan dan dapat memakmurkan rakyatnya. Sudah sepatutnya kita sebagai bangsa Indonesia mengharapkan perubahan menjadi lebih baik lagi. Perubahan yang akan membawa keadilan, kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
PEMBANGKIT ENERGI TERBARUKAN, SIAPKAH INDONESIA?
Indonesia merupa negara yang memiliki banyak sumber daya alam, banyak potensi energi terbarukan yang tersebar di seluruh wilayahnya. Berdasarkan data dari RUPTL PLN 2016-2026, besar potensi energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan menjadi listrik melebihi besar kapasitas pembangkit listrik di Indonesia saat ini. Potensi besar tersebut terdiri dari energi matahari, energi angin, energi laut, energi biomassa, energi panas bumi, dan energi aliran air. Jadi, apabila Indonesia dapat memaksimalkan potensi ini, tidak hanya kebutuhan listrik di Indonesia, tetapi bisa juga di ekspor ke negara-negara lainnya. Tentu untuk mencapai titik tersebut diperlukan infrastruktur transmisi energi listring yang cukup, minimal untuk menghubungkan ke seluruh pulau-pulau besar di Indonesia. Dengan begitu, tiap-tiap daerah di Indonesia dapat terlibat dalam mengembangkan potensi energi terbarukan yang dimiliki sumber daya alam tiap wilayahnya masing-masing.
Namun nyatanya, berdasarkan data dari Outlook Energi Indonesia 2018 dari BPPT, saat ini energi terbarukan yang telah dimanfaatkan kurang dari 15% dari potensi yang ada. Energi terbarukan yang banyak dipakai di Indonesia adalah energi aliran air dengan kapasitas pembangkit lebih dari 4 gigawatt dilanjutkan dengan pembangkit listrik energi panas bumi dan energi matahari. Pembangkit listrik energi terbarukan tersebut pun sekitar 20%-nya merupakan pembangkit listrik off-grid atau pembangkit listrik yang tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional. Sementara itu pembangkit listrik tenaga fosil masih sangat banyak digunakan dan mendominasi bauran energi nasional dengan pembangkit listrik tenaga gas dan batubara mengambil bauran paling tinggi dibandingkan sumber energi lainnya. Hal ini terjadi karena batubara dan gas digunakan untuk menyalakan pembangkit listrik besar yang harus andal dalam memenuhi tugasnya dalam menopang beban listrik seluruh rakyat Inodnesia pada jaringan listrik nasional. Selain itu sumber daya tersebut masih banyak tersedia di Indonesia dengan harga yang relatif murah.
Energi terbarukan tidak akan bisa menggantikan bahan bakar fosil untuk menjadi pembangkit listrik utama di Indonesia, setidaknya sampai ditemukannya penemuan baru yang akan meningkatkan kinerja dari pembangkit pembangkit energi terbarukan. Selain karena masih banyak tersedianya sumber daya alam untuk menjalankan pembangkit listrik tenaga fosil, hal ini juga disebabkan oleh karakteristik dari listrik hasil pembangkit tenaga energi terbarukan yang besarnya tidak bisa selalu tetap. Faktor ketidakpastian alam akan sangat dan selalu mempengaruhi besar listrik yang dihasilkan, seperti misalnya pembangkit listrik tenaga matahari yang besar listriknya sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari, pembangkit listrik tenaga air yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang dialami saat itu, dan masih banyak lagi. Tetapi, tentu ada pembangkit listrik energi terbarukan yang cukup stabil, yakni seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi, karena prinsip kerjanya mirip dengan pembangkit listrik tenaga uap.
Penggunaan listrik oleh masyarakat tidak selalu sama dalam sehari. Ada jam-jam tertentu dimana konsumsi listrik masyarakat akan tinggi dan jam tertentu dimana konsumsi listrik masyarakat akan rendah. Pada titik konsumsi listrik masyarakat terendah, pembangkit yang digunakan adalah pembangkit berkapasitas besar yang memiliki keandalan yang tinggi sehingga energi listrik yang dihasilkan stabil. Sedangkan pada titik konsumsi listrik masyarakat tertinggi digunakan pembangkit listrik dengan skala yang lebih kecil, hal tersebut agar dapat digunakan lebih fleksibel. Pembangkit listrik terbarukan tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik titik konsumsi listrik masyarakat terendah, karena sifatnya yang tidak stabil dan dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Oleh karena itu, dengan teknologi yang tersedia saat ini, penerapan pembangkit listrik energi terbarukan tidak boleh melebihi 5-10% kapasitas pembangkit konsumsi listrik masyarakat terendah agar jaringan listrik di wilayah tersebut tetap stabil.
Meningkatkan keandalan dan kestabilan sistem pembangkit energi terbarukan selalu menjadi tantangan bagi para peneliti di institusi dan industri yang bergerak di bidang energi. Di Indonesia sendiri banyak penelitian dengan topik yang menunjang pembangkit energi terbarukan. Banyak faktor yang dapat memengaruhi mulaidari teknologi hingga kesadaran masyarkat. Kesadaran, kepemahaman, dan rasa kepemilikan dari masyarakat harus menjadi aspek penting dalam menimbang kesiapan suatu daerah untuk menerima teknologi energi baru dan terbarukan sebagai salah satu solusi meningkatkan kesejahtaraan hidup mereka. Karena pada akhirnya tujuan dari pembangkit ini bukan sekedar disebarkan ke seluruh daerah, melainkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Jadi apabila ditanyakan apakah bangsa ini siap menerapkan energi baru terbarukan, maka jawabannya adalah siap. Namun saat ini penerapannya tidak untuk menggantikan pembangkit listrik skala besar (pembangkit pembangkit fosil). Sebelum bisa meningkatkan lebih jauh bauran energi terbarukan, dibutuhkan infrastruktur transmisi listrik yang lebih bagus dari saat ini ke seluruh wilayah di Indonesia, minimal ke pulau-pulau besar di Indonesia. Sedangkan untuk usaha meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, kesiapan penerapan energi baru dan terbarukan di berbagai daerah di Indonesia sudah lebih dari cukup.
Sampah? Permasalahan lingkungan terbesar Indonesia
Sampah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan. Kini sampah sudah menjadi masalah yang klasik bagi setiap negara di seluruh dunia khususnya Indonesia. Hampir seluruh negara memiliki masalah dalam mengatasi timbunan sampah yang jumlahnya terus meningkat setiap harinya. Masalah ini menjadi fokus utama karena berkaitan dengan kondisi lingkungan yang sangat memprihatinkan.
Di negeri kita ini, sampah adalah permasalahan yang tak kunjung menemukan penyelesaiannya. Meskipun pemerintah telah melaksanankan program re-use maupun re-cycle, bahkan permasalahan ini menjadi kompleks dan menjalar ke berbagai masalah lainnya, sehingga memperparah kerusakan lingkungan. “Tulisan ini juga dimuat di Website www.romadecade.org”
Polusi juga merupakan masalah lingkungan yang sebagian diakibatkan oleh sampah, baik udara, tanah, maupun air. Dimana masalah ini mendukung permasalahan lingkungan lainnya seperti banyaknya asap pabrik, kendaraan bermotor, limbah yang dibuang secara liar dan mesin lainnya yang masih banyak lagi dengan tingkat polusi udara yang sangat tinggi. Sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara yang bertanggung jawab atas terjadinya global warming di dunia. Antisipasi masalah polusi ini bisa ditanggulangi dengan meminimalkan sampah plastik yang digunakan dalam keseharian seperti kantong belanjaan, sedotan, maupun yang lainnya. Sehingga secara tidak langsung, perlahan permasalahan lingkungan di Indonesia teratasi.
Kurangnya ketersediaan tempat pembuangan sampah juga menjadi masalah besar khususnya untuk menanggulangi sampah yang terus meningkat produksinya. TPA saat ini sudah tidak bisa lagi menampung jumlah sampah yang ada. Selain itu juga keberadaan TPA ini sering sekali menimbulkan permasalahan, karena banyak warga setempat yang menuntut untuk memindahkan TPA dari tempat mereka karena mengganggu proses aktivitas masyrakat. Penempatan TPA ini juga harus memperhatikan SOP yang ada sehingga tidak berdampak buruk baik bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar.
Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan juga merupakan masalah yang sangat mendukung bagi kerusakan lingkungan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya sampah yang beserakan karena rendahnya rasa simpati dan rasa malas dalam membuang sampah pada tempatnya. Mereka menganggap bahwa akan ada tukang sampah yang membersihkannya ataupun lebih memilih membuang sampah di sungai daripada di tempat sampah yang telah disediakan. Tanpa adanya teguran ataupun tindak tegas membuat masyarakat Indonesia ini semakin manja dan hilangnya rasa empati pada lingkungan sekitar. Setidaknya menyediakan pamflet atau sejenisnya untuk mengingatkan bahwa menjaga lingkungan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia.
Berdasarkan penjabaran masalah di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah lingkungan di Indonesia ini belum bisa terselesaikan bahkan semakin kompleks dengan permasalahan lain yang mendukung kerusakan lingkungan seperti penebangan kayu liar dan lubang tambang yang dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Maka dari itu, perlu dilakukan peningkatan pengelolaan lingkungan, baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi dan menanggulangi kerusakan lingkungan. Penanggulangan masalah ini dapat dimulai dari kedisiplinan diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya dan sesuai kategorinya. Mari kita sama-sama menjaga kelestarian lingkungan ini untuk kelangsungan hidup yang lebih sehat, damai, dan sejahtera.
Biodiesel dari Pemanfaatan Minyak Biji Bunga Matahari sebagai Energi Alternatif Pengganti Minyak Bumi
Biodiesel dari Pemanfaatan Minyak Biji Bunga Matahari sebagai Energi Alternatif Pengganti Minyak Bumi
Oleh : Tri Utami
Universitas Sriwijaya
|
Minyak Bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang berasal dari fosil dan tidak bisa diperbaharui. Kebutuhan masyarakat terhadap minyak bumi semakin meningkat setiap tahunnya, sedangkan ketersediaan minyak bumi di Indonesia pun semakin berkurang, dan minyak bumi juga tidak bisa diperbaharui. Kelangkaan minyak bumi dan meingkatnya permintaan pasar terhadap minyak bumi, ditambah lagi kenaikan harga minyak dunia menyebabkan terjadinya pula kenaikan harga minyak bumi di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah diharuskan melakukan kebijakan impor minyak, sementara di sisi lain kelangkaan minyak bumi perlu segera diatasi, salah satunya dengan melakukan penghematan terhadap penggunaan minyak bumi ini. |
Salah satu upaya untuk menghemat penggunaan minyak bumi adalah dengan menciptakan energi alternatif sebagai bahan pengganti yang bisa diperbaharui. Energi alternatif merupakan istilah untuk semua energi yang bisa digunakan untuk menggantikan bahan bakar konvensional. Hal ini merujuk pada teknologi untuk menciptakan bahan bakar pengganti minyak bumi, karena minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Selain itu, energi alternatif merupakan energi yang dapat digunakan berulang-ulang, jumlahnya berlimpah, proses pengolahannya tidak merusak alam, tidak berbahaya bagi lingkungan, aman, tidak menimbulkan penyakit akibat pengolahan maupun penggunaannya, dan juga ramah lingkungan. Ada berbagai macam energi alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan penggunaan minyak bumi. Salah satunya yaitu biodiesel. Biodiesel merupakan salah satu energi alternatif energi terbarukan. Biodiesel dapat membantu meminimalisir ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil (minyak bumi). Biodiesel merpakan produk dari reaksi kimia dari minyak nabati yang memiliki sifat seperti solar. Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dilakukan dengan mengkonversi trigliserida (komponen utama minyak nabati) menjadi metil ester asam lemak, dengan memanfaatkan katalis pada proses metanolisi atau esterifikasi. Teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu mengurangi impor Bahan Bakar Minyak, meningkatkan kesempatan kerja dalam artian membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan telnologi pertanian dan industri di dalam negeti, memperbesar basis sumber daya bahan bakar minyak nabati, mengurangi pemanasan dan pencemaran udara karena biodiesel ini merupakan energi yang ramah lingkungan. bahan bakar ini ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan solar. Selain itu, biodiesel ini memiliki cetane number yang lebih tinggi dan pemanasan lebih sempurna. Minyak nabati tersebut bisa didapat dari berbagai jenis tanaman seperti tanaman jarak, randu, kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kemiri, kacang tanah, biji bunga matahari, dan lain sebagainya.
Kandungan minyak pada biji bunga matahari cukup besar yaitu sekitar 48%-52%, namun hanya dimanfaatkan sebagai minyak bumi. Di sisi lain, kandungan minyak yang cukup besar dari biji bunga matahari ini bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi yaitu biodiesel. Minyak biji bunga matahari merupakan trigliserida yang tersusun atas asam lemak dan gliserol yang memiliki rantai karbon panjang. Biji bunga matahari ini juga mengandung 45%-50% lipid, sehingga memungkinkan untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Produk yang ingin diperoleh dari proses pengolahan biji bunga matahari ini adalah metil ester, yang bisa digunakan untuk menggantikan minyak bumi. Metil ester merupakan bahan kimia dasar turunan minyak dan lemak, yang diproduksi dengan proses alkoholisis, dimana minyak atau lemak tersebut direaksikan dengan methanol atau biasa disebut dengan proses methanolisis. Biodiesel bisa dibuat dari pengolahan minyak biji bunga matahari dengan proses foolproof. Proses foolproof ini terdiri dari empat tahap. Minyak yang dihasilkan dari biji bunga matahari kemudia diekspor sebagai crude oil (minyak mentah) atau bisa diartikan dimurnikan pada tahap pertama, yaitu proses degumming, yakni dengan menamnbahkan air panas dan dikombinasikan dengan centrifuge. Minyak tersebut kemudian dicuci dan diharumkan dengan proses pemanasan atau proses pendingingan dan penyaringan akhir, yang tidak membutuhkan proses hidrogenasi. Proses degumming ini berguna untuk memisahkan gum yang berupa phospatida dengan tambahan asam phospat (H3PO4). Tahap yang kedua adalah tahap esterifikasi, yaitu penambahan larutan NaOCH3 10% untuk menetralkan kandungan asam lemak bebas. Kemudian tahap yang ketiga adalah proses transerifikasi yang berguna untuk mereaksikan triglisarida dalam minyak dengan methanol membentuk gliserin dan metil ester yang digunakan sebagai biodiesel. Kemudian untuk tahap yang terakhir adalah tahap refinery atau tahap pemurnian biodiesel untuk memperoleh biodisel dengan tingkat kemurnian yang tinggi.
Berdasarkan uraian diatas, dapat kita lihat bahwa permintaan pasar yang tinggi terhadap minyak bumi yang langka dapat diatasi dengan menggantinya dengan energi alternatif. Ada banyak jenis energi alternatif, yaitu methanol, biomassa, biodiesel dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua jenis energi itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang menggunakan minyak bumi untuk lebih menghemat penggunaan dan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar yang bisa digunakan untuk menggantikan penggunaan minyak bumi.
Potensi Cangkang Telur Ayam (Gallus gallus) menjadi Sumber Energi Listrik dengan Proses Kalsinasi
Potensi Cangkang Telur Ayam (Gallus gallus) menjadi Sumber Energi Listrik dengan Proses Kalsinasi
Ide ini secara spontan terlintas dipikiran ketika melihat tante saya yang sedang membuat kue. Semua bahan yang ada diatas meja dicampurkan dan siap diubah menjadi adonan kue yang kemudian akan di panggang di dalam oven. Hingga akhirnya mata saya tertuju pada tumpukan cangkang telur yang berada di bawah meja.
Selama ini saya menyadari bahwa cangkang telur umumnya hanya di daur ulang menjadi sebuah kerajinan tangan, katakanlah: guci, lukisan, dan miniatur-miniatur mini yang sangat kecil dan kompleks yang dibuat dengan indah menggunakan tangan. Namun jarang sekali yang memanfaatkan limbah cangkang telur ini dalam bidang pemanfaatan energi, padahal cangkang telur ini tak jarang kita temukan dalam limbah rumah tangga, terlebih lagi limbah ini sering ditemukan di bagian sampah dapur anak kost, bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa santapan anak kost pada dasarnya tak akan pernah jauh dari hidangan indomie dan telur.
Pemanfaatan cangkang telur sebagai alternatif listrik merupakan solusi yang tepat guna menciptakan sebuah inovasi energi pada masa kini. Hal ini sesuai dengan UU Lingkungan hidup No. 81 tahun 2012 mengenai pengelolaan sampah atau limbah rumah tangga dan sampah sejenis sampah atau limbah rumah tangga. Dari data Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan, jumlah produksi telur pada tahun 2018 mencapai angka 73.078 ton/tahun dan angka ini akan selalu bertambah dari tahun ke tahunnya. Menurut data World Intellectual Property Organization (2009), di Amerika Serikat, ada sekitar 190.000 ton kulit telur yang terbuang, yang dari jumlah ini, sekitar 120.000 ton dihasilkan dari industri pengolahan makanan dan sekitar 70.000 ton dihasilkan dari penetasan telur. Sementara itu, di Indonesia produksi kulit telur akan terus berlimpah selama telur diproduksi di bidang peternakan serta digunakan di restoran, pabrik roti dan mie sebagai bahan baku pembuatan makanan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa limbah dari cangkang telur ini banyak dibuang secara percuma apabila tidak bisa dimanfaatkan secara bijak. Jika teknologi ini dapat dikembangkan, maka akan meningkatkan nilai guna dari limbah cangkang telur sehingga tidak hanya sekedar menjadi limbah rumah tangga, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis.
Cangkang telur yang sudah kita anggap sebagai limbah rumahan ini ternyata mengandung listrik apabila dikaji dengan studi ilmiah. Kulit telur kering mengandung sekitar 95% kalsium karbonat dengan berat 5,5 gram (Butcher dan Miles, 1990). Berdasarkan hasil penelitian, serbuk kulit telur ayam mengandung kalsium sebesar 401 ± 7,2 gram atau sekitar 39% kalsium, dalam bentuk kalsium karbonat (Schaafsma, 2000). Sementara itu, Hunton (2005) melaporkan bahwa kulit telur terdiri atas 97% kalsium karbonat. Selain itu, rata-rata dari kulit telur mengandung 3% fosfor dan 3% terdiri atas magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga (Butcher dan Miles, 1990).
Proses yang digunakan pada percobaan ini adalah proses kalsinasi. Kata kalsinasi berasal dari bahasa latin yaitu calcinare yang artinya membakar kapur. Proses kalsinasi yang paling umum dilakukan adalah pengaplikasiaanya untuk dekomposisi kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO) dan gas karbondioksida (CO2). Produk dari kalsinasi biasanya disebut “kalsin”, yaitu mineral yang telah mengalami proses pemanasan (Andra, 2013). Berdasarkan penelitian Andra (2013), proses kalsinasi dilakukan dalam sebuah tungku atau reaktor yang disebut dengan kiln atau calciners dengan beragam desain seperti tungku poros, rotary kiln, tungku perapian ganda, dan reaktor fluidized bed. Normalnya proses kalsinasi dilakukan dibawah temperature leleh (melting point) dari bahan produk. Untuk batu kapur, proses kalsinasi umumnya dilakukan pada temperature antara 900oC – 1000oC. Menurut penelitian Nurlaela dkk (2014), Proses kalsinasi mengakibatkan massa cangkang telur berkurang. Dari cangkang telur ayam diperoleh 65,67% (b/b) serbuk hasil kalsinasi. Menurut penelitian Edy dan Rio (2013) yang berjudul pembuatan gypsum dari limbah cangkang telur, sampel cangkang telur setelah dikalsinasi beratnya berkurang dari 1 Kg menjadi 657 gram, ini disebabkan terjadi dekomposisi dan pelepasan senyawa CO2 dari senyawa CaCO3 yang terkandung didalam cangkang telur menjadi CaO yang persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
CaCO3(S) → CaO(s) + CO2(g)
Tahap pertama dari proses pengolahan cangkang telur menjadi energi listrik adalah bahan baku yang berupa cangkang telur dibersihkan dan dikeringkan, kemudian dihaluskan dengan mortar porselen. Setelah halus, kemudian dilakukan proses kalsinasi, atau pembakaran sampel cangkang telur. Cangkang telur dikalsinasi dengan furnace pada suhu 900oC selama 2 jam. Cangkang yang telah melewati proses kalsinasi ini kemudian akan direaksikan dengan H2SO4 (asam sulfat) dan H2O (air) sehingga terjadi reaksi eksoterm. Hasil dari proses ini kemudian dipanaskan kembali dan dilarutkan dengan akuades. Dan dari proses ini kemudian akan dihasilkan energi panas yang diperoleh dan dirangkai dengan termoelektrik untuk diukur analisa besar daya yang dihasilkan kemudian baru bisa dikonversikan menjadi energi listrik.

Statement terakhir dari saya, sumber energi yang berasal dari olahan limbah organik masih harus dieksplorasi dan dikaji lebih lanjut secara efektif, sehingga kebutuhan energi umat manusia pada masa kini dapat terpenuhi, terlebih apabila limbah organik tersebut bisa diolah menjadi sumber atau cadangan energi di masa mendatang. Dengan menggunakan cangkang kulit telur yang ‘hanya’ berpotensi menjadi limbah rumahan saja, dapat diubah menjadi limbah yang bermakna dan memiliki nilai ekonomis apabila ditangani dengan cara yang tepat.
Kata Kunci: Cangkang telur, Kalsinasi, Reaksi eksoterm, Energi alternatif.
Kurangnya Sosialiasi Kebijakan B20 Kepada Masyarakat
Minyak bumi merupakan sumber energi utama dan sumber devisa negara. Namun demikian, cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia jumlahnya terbatas. Sementara itu, kebutuhan manusia akan energi semakin meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu produk turunan minyak bumi yang banyak digunakan oleh masyarakat umum adalah Bahan Bakar Minyak (BBM). Berdasarkan data kementerian energi dan sumber daya mineral (ESDM) konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dari tahun 2015 – 2017 mengalami kenaikan,tercatat konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) pada tahun 2017 hampir mencapai 71 juta kiloliter. Diesel oil atau lebih sering disebut sebagai solar merupakan jenis bahan bakar minyak yang paling banyak kedua digunakan dibawah bensin. Hal ini tidak terlepas bahwa sebagian besar kendaraan pengangkut logistik menggunakan solar sebagai bahan bakar.Tingginya konsumsi bahan bakar minyak masyarakat dan menurunnya produksi minyak dalam negeri menyebabkan negara harus mengimpor minyak dari luar negeri yang mengakibatkan neraca perdagangan negara mengalami defisit hingga mencapai US$ 12,4 Milliar pada tahun 2018 atau naik sekitar 44 % dari tahun 2017 menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Untuk mengatasi defisit neraca dagang sekaligus mengurangi impor bahan bakar dari luar,pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Menteri (Permen) no 41 Tahun 2018.Dimana kebijakan ini mengatur mengenai badan usaha bahan bakar minyak wajib melakukan pencampuran bahan bakar antara solar dengan bahan bakar nabati biodiesel dengan presentasi sebesar 20%. Namun, kebijakan pemerintah dalam rangka mewajibkan penggunaan B20 mendapatkan banyak kritikan dari masyarakat khususnya pengusaha perusahaan angkutan yang merasa dirugikan .Gagasan yang penulis pikirkan adalah bagaimana seharusnya pemerintah menerapkan kebijakan ini tanpa menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan tidak merugikan bagi masyarakat yang menggunakan bahan bakar B20 tersebut.
Identifikasi Topik Bahasan
Biodiesel
Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar kendaraan terbarukan yang mengandung Fatty Acid Methyl Ester (FAME),biodiesel secara umum diproduksi dengan cara transestersifikasi dari minyak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Dalam reaksi ini,trigliserida sebagai komponen utama dari minyak nabati bereaksi dengan alkohol menghasilkan fatty acid monoalkil ester dan gliserol. Minyak nabati yang digunakan sebagai biodiesel umumnya dibedakan atas 2 kategori yaitu Straight Vegetable Oils (SVO) dan Waste Vegetable Oils (WVO). Sesuai dengan namanya, SVO adalah minyak nabati mentah yang langsung digunakan setelah diekstrak dari sumbernya, sementara WVO adalah minyak nabati yang telah digunakan sebelumnya, pada umumnya untuk memasak (Kedelai).
Standar mutu biodiesel nasional telah dikeluarkan dalam bentuk SNI No. 04-7182-2006, melalui keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) nomor 73/KEP/BSN/2/2006 tanggal 15 Maret 2006. Sementara standar lainnya yaitu ASTM D6715 dikeluarkan oleh lembaga American Society of Testing Materials.
Kelebihan Biodiesel
Sejumlah keunggulan terkait dengan penggunaan bahan bakar biodiesel dibandingkan bahan bakar diesel yang diturunkan dari fosil. Produksi biodiesel dinyatakan berkelanjutan, ramah lingkungan, tidak beracun, dan biodegradable Sifat biodiesel sama dengan sifat diesel yang diturunkan dari fosil, biodiesel dapat digunakan tanpa modifikasi dalam mesin diesel injeksi tidak langsung . Biodiesel memiliki titik nyala yang lebih tinggi daripada diesel berbasis minyak bumi sehingga lebih aman dalam penyimpanan dan pengangkutan. Biodiesel terbakar dengan bersih, dan emisi yang dihasilkan memiliki lebih sedikit polutan termasuk lebih sedikit karbon monoksida, sulfat dan sulfur oksida, hidrokarbon, nitrogen dan partikulat . Rendahnya kadar sulfur yang dikandung biodiesel menurunkan kemungkinan hujan asam yang terjadi. Emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh bahan bakar ini pun relatif lebih rendah sekitar 75% dibandingkan dengan solar lainnya. Biodiesel juga memiliki peningkatan kecil dalam penghematan bahan bakar dan pelumasan unggul dibandingkan dengan diesel yang diturunkan dari fosil, yang dapat mengurangi keausan mesin dan juga dapat bercampur dengan bahan bakar fosil dalam perbandingan berapapun.
Kekurangan Biodiesel
Kandungan energi yang dimiliki oleh biodiesel lebih rendah sekitar 11% dari solar berbahan fosil hewan. Konsekuensinya, bahan bakar ini akan menghasilkan tenaga yang lebih rendah dibandingkan dengan solar umumnya. Kekurangan lainnya terkait dengan kekuatan proses oksidasi pada bahan bakar ini. Kelemahan pada oksidasi menyebabkan bahan bakar ini lebih bermasalah pada proses penyimpanan. Kecenderungannya, jika disimpan terlalu lama maka bahan bakar ini dapat menyumbat mesin akibat dari pengentalan.Mikroba juga berkemungkinan hidup dalam biodiesel yang dapat menggangu keawetan mesin. Mikroba jenis tertentu dapat mengganggu keawetan dan kinerja mesin dalam kurun waktu jangka panjang. Metil ester asam lemak memburuk dalam kondisi dengan tinggi suhu, sinar matahari, oksigen atau logam non-ferrous
Menurut Bambang Sudarmanta, Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Pembakaran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dilansir dari CNN, B20 merupakan bahan bakar pengganti yang kandungannya sudah mendekati solar.Namun, penggunaan B20 dapat menyebabkan ruang pembakaran lebih kotor dibandingkan solar,B20 juga memiliki viskositas yang lebih tinggi daripada solar yang cenderung memperlambat atomisasi (proses pembakaran pada mesin). Selain itu, B20 juga dikatakan mengandung gliserin (kotoran yang tidak terbakar) lebih banyak. Tonton Eko, GM Product Development Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mengatakan, sifat B20 yang lebih kental dan kotor dibanding solar seperti dijelaskan peneliti ITS memengaruhi masa pakai komponen saringan bahan bakar. Lebih jauh dampak serupa bisa terjadi pada injektor alias penyemprot bahan bakar di mesin,hal ini dapat terjadi karena B20 memiliki sifat deterjen, maka penggunaannya bisa menguras kotoran yang sudah ada sebelumnya di tangki bahan bakar. Akibatnya, kotoran bakal bercampur dengan bahan bakar dan berpotensi masuk ke ruang pembakaran.
Gagasan yang Ditawarkan
Banyaknya permasalahan yang terjadi akibat pemakaian B20 yang dikeluhkan oleh masyarakat diakibatkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai penggunaan B20. Pemerintah seharusnya menggandeng para peneliti dan para pengusaha kendaraan angkutan dalam memutuskan kebijakan penggunaan bahan bakar B20. Dilansir dari detikfinace tertanggal 30 Agustus 2018, masih banyak pengusaha truk yang masih ragu dalam menggunakan biodiesel sebab kurangnya sosialisasi maupun uji yang jelas terhadap pengaruh biodiesel B20 bagi kendaraan mereka. Kebijakan pemerintah saat ini hanya dianggap sebagai solusi sementara dalam mengurangi impor dan meningkatkan nilai jual kelapa sawit tanpa mempertimbangkan efek bagi kendaraan.
Pemerintah juga harus berupaya menjaga kualitas dari B20 yang dihasilkan selama masa pendistribusian dan penyimpanan sehingga kualitas B20 tidak rusak karena biodiesel merupakan produk yang mudah rusak akibat aktifitas bakteri. Kualitas dari B20 sendiri sebaiknya lebih ditingkatkan lagi sehingga mampu meminimalisir kerusakan mesin kendaraan dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pemerintah juga harus mampu meningkatkan animo masyarakat untuk beralih dari bahan bakar fosil menuju bahan bakar terbarukan. Pemerintah dapat bekerja sama dengan para designer visual maupun para komikus untuk mengedukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan bahan bakar terbarukan pada masa sekarang.
Penutup
Kebijakan pemerintah dalam mewajibkan penggunaan campuran solar dan biodiesel 20% atau disebut dengan B20 harusnya diiringi dengan sosialisasi dan pengenalan kepada masyarakat. Bukan hanya pengenalan apa itu B20 melainkan juga kelebihan dan kekurangan B20 bagi kendaraan bermotor sehingga masyarakat dapat mengetahui cara mengantisipasi pengaruh dari bahan bakar B20 terhadap mesin kendaraan nya. Selama ini, pemerintah tidak proaktif dalam sosialisasi yang berujung kepada keengganan masyarakat dalam menggunakan B20. Kebijakan ini juga diharapkan bukan hanya sebagai solusi sementara dalam mengurangi impor dan meningkatkan nilai jual dari kepala sawit tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan ketahanan energi negara berbasis bahan bakar ramah lingkungan. Jangan sampai kebijakan mewajibkan penggunaan bahan bakar B20 ini menjadi blunder bagi masyarakat dan lingkungan kita alih-alih untuk menyelamatkan devisa negara.
Daftar Pustaka
Afriadi,Achmad Dwi.2018.Pengusaha Truk Butuh Kepastian Biodiesel 20% Tak Merusak Mesin.Detik Finance. https://finance.detik.com/industri/d-4189424/pengusaha-truk-butuh-kepastian-biodiesel-20-tak-rusak-mesin (Diakses pada tanggal 18 April 2019).
Ardani,F.2018.Bongkar Dampak Biodiesel B20,Risiko Ditanggung Konsumen.CNN. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180815092405-384-322379/bongkar-dampak-biodiesel-b20-risiko-ditanggung-konsumen (Diakses pada tanggal 17 April 2019).
Hamdani,T.2018.B20 Dengan Solar Boros mana.Detik Finance. https://finance.detik.com/energi/d-4190192/b20-dengan-solar-biasa-boros-mana (Diakses pada tanggal 18 April 2019).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Minyak dan Gas.Konsumsi/Penjualan BBM. http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=konsumsiBbm/index (Diakses pada tanggal 18 April 2019)
Murni.2010.Kaji Eksperimental Pengaruh Temperatur Biodiesel Minyak Sawit Terhadap Performansi Mesin Diesel Direct Injection Putaran Konstan.Thesis.Program Studi Magister Teknik Mesin.Semarang : Universitas Diponegoro.
Purnomo,Herdaru.2018.Resmi! Aturan B20 Dirilis, Solar Wajib Campur Biodiesel.CNBC. https://www.cnbcindonesia.com/news/20180829105810-4-30721/resmi-aturan-b20-dirilis-solar-wajib-campur-biodiesel (Diakses pada tanggal 18 April 2019).
S.I Gusti Anom Rai.2018. Pengaruh Penggunaan Jenis Bahan Bakar Solar, Biodiesel dan Dexlite Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Pada Engine Dengan Sistem Common Rail Ford Ranger 3000 cc.Skripsi.Jurusan Teknik Mesin. Samarinda : Politeknik Negeri Samarinda.
PERAN TEKNIK KIMIA DAN INDUSTRI TERHADAP MASA DEPAN KEROSIN
Minyak bumi merupakan salah satu sumber bahan bakar terbesar dunia yang diolah menjadi beberapa fraksi salah satunya adalah kerosin ( minyak tanah ). Kerosin atau disebut parrafin merupakan hasil pengolahan minyak bumi dengan cara destilasi fraksionasi pada suhu 150°C-275°C.
Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki banyak cadangan minyak yang tersebar di berbagai daerah. Terlebih lagi Indonesia memiliki banyak pulau dan berada di garis khatulistiwa sehingga dimungkinkan ekspetasi terhadap cadangan migas banyak ditemukan. Teknologi yang digunakan di Indonesia sudah cukup mahir dalam pengolahan migas. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia juga mengimpor kerosin karena kebutuhan bahan bakar semakin meningkat sementara cadangan minyak bumi semakin lama berkurang.
Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2016 (sumber : www.esdm.go.id/), tercatat investasi tahun 2016 menurun sekitar 29,18% atau sebesar US$ 5.247,97 juta dibandingkan tahun 2015. Indikasi penurunan investasi di bidang industri migas ini sudah terlihat dua tahun terakhir. Mengenai fakta penurunan investasi yang cukup signifikan, diperlukan sejumlah cara alternatif dalam mengolah kebutuhan bahan bakar sebagai upaya penggunaan cadangan migas secara optimal.
Sebagai cara mengoptimalkan penggunaan migas, diperlukan disiplin ilmu teknik kimia dan industri dalam perkembangan kerosin. Sejauh ini, berkat penerapan ilmu teknik kimia dan industri kerosin telah banyak digunakan sebagai bahan bakar dalam keperluan rumah tangga seperti memasak, penerangan, dan pembasmi serangga. Namun kebanyakan orang telah meninggalkan penggunaan kerosin dan menggantikannya dengan bahan bakar yang lebih efektif dalam skala rumah tangga seperti penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak, dan listrik sebagai penerangan. Selain kebutuhan rumah tangga, kerosin saat ini terfokus sebagai penggunaan bahan bakar mesin jet yang disebut avtur. Avtur memiliki kemiripan sifat dengan kerosin yaitu volalitas yang kecil sehingga dapat meminimalisir kemungkinan kekurangan bahan bakar akibat penguapan pada saat pesawat terbang. Menurut ilmugeografi.com, ” Mutu dari avtur ini dinilai dari beberapa aspek seperti kemurniannya, performa pada suhu yang rendah dan model pembakaran pada turbin. Berdasarkan aspek tersebut maka avtur harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sebelum digunakan seperti titik beku pada suhu maksimal -47 derajat Celcius dan titik nyala minimal pada suhu 38 derajat Celcius. ”
Penggunaan kerosin sebagai bahan bakar mengalami perkembangan. Selain sebagai bahan bakar kompor, kerosin telah digunakan sebagai pelumas, penggerak diesel listrik, sumber pengolahan pupuk, sebagai bahan poliuretan, sebagai solvent pada industri, bahkan telah dilakukan uji sebagai bahan bakar kendaraan mobil yang sedang dikembangkan di Kediri. Dilansir dari halaman isroi.com, “ Ini merupakan salah satu ide kreatif untuk menyiasati melambungnya harga BBM. Di daerah-daerah seperti Kediri harga minyak tanah masih cukup rendah, yaitu sekitar Rp. 3.300/liter. Bisa dibandingkan dengan harga solar yang Rp. 6000/liter. Hebatnya lagi mobil ini jarang sekali bermasalah. Lampu-lampu masih sangat terang. Suaranya cukup halus, bahkan menurut saya lebih halus daripada suara mobil Panther yang juga bermesin diesel”. ( sumber https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/ )
( “Mesin kendaraan mobil yang menggunakan bahan bakar kerosin”
Sumber : https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/ )
Berdasarkan optimalisasi kerosin yang telah dilakukan masyarakat, dapat dilihat bahwa kemajuan kerosin di era teknologi yang serba canggih sudah dilakukan di berbagai daerah secara antusias. Terlebih lagi tuntutan di perkotaan dimana harga BBM yang semakin meningkat membuat masyarakat mulai memperhatikan kembali bahan bakar kerosin yang sudah lama ditinggalkan.
Hambatan terhadap perkembangan kerosin adalah kurangnya pengetahuan dan pembinaan tentang manfaat kerosin. Masyarakat di pedesaan saat ini hanya memanfaatkan kerosin sebagai bahan bakar kompor dan penerangan. Dimana hal ini menjadikan kerosin kurang berkembang di masyarakat pedesaan. Kurangnya sosialisasi pentingnya ilmu teknik kimia dan industri sebagai agen perubahan di masa yang akan datang. Ilmu teknik kimia dan industri sangat penting dalam kemajuan teknologi migas khususnya pada kerosin. Kurangnya dana dan lapangan kerja dalam mengembangkan kerosin sehingga mengurangi intensitas kepedulian masyarakat.
Semakin maju teknologi, tidak menutup peluang terhadap perkembangan migas terutama kerosin yang telah jarang digunakan dengan harga jual yang masih rendah. Teknik kimia dan industri sangat dibutuhkan dalam perkembangan kerosin di masa yang akan datang. Tentu hal ini akan menjadi peluang untuk mengembangkan potensi bangsa, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan bagi lulusan teknik kimia. Diharapkan, aplikasi perkembangan kerosin dapat menjadi salah satu hal yang membawa Indonesia mencapai standar industri 4.0.
Daftar Pustaka
https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/
https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-statistik-minyak-dan-gas-bumi-tahun-2016.pdf

