Log in

Lomba Menulis IATEK IMATEK 2019

  •  

    Green Energy Bahan Bakar Renewable Resources Untuk Generasi Masa Depan

    Oleh Silvia Ramadhanty

    03031181722027

    (foto: Dok ekpor sawit PTPN VI)

                  Indonesia menjadi surga dari berbagai macam plasma nutfa . Lagu koep plus era 70an yang berjudul “Kolam Susu” menggambarkan bahwa tanah air Indonesia memiliki sumber daya alam hayati dan non hayati yang melimpah. Dengan jumlah yang banyak sampai tak terhitung lagi besarnya kekayaan alam di Indonesia dari sabang sampai merauke. Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan yang luas menjadi sumber aktivitas masyarakat Indonesia untuk bertahan hidup. Agar tidak sia-sia maka sumber daya yang melimpah tersebut harus diolah menjadi barang yang bernilai tinggi. Salah satu hasil olahan yaitu dalam bentuk energi untuk kehidupan manusia.

    Dari kekayaan tersebut banyak yang bisa dijadikan energi  yang layak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Energi ini terdiri dari energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Menurut Wikipedia energi terbarukan merupakan energi yang berasal dari "proses alam yang berkelanjutan", seperti tenaga suryatenaga anginarus air proses biologi, dan panas bumi, sedangkan energi tak terbarukan adalah  energi yang diperoleh dari sumber daya alam yang waktu pembentukannya sampai jutaan tahun (dikutip dari Wikipedia, 2018).

    Dikatakan tak terbarukan karena, apabila sejumlah sumbernya dieksploitasikan, maka untuk mengganti sumber sejenis dengan jumlah sama, baru mungkin atau belum pasti akan terjadi jutaan tahun yang akan datang. Hal ini karena, disamping waktu terbentuknya yang sangat lama, cara terbentuknya lingkungan tempat terkumpulkan bahan dasar sumber energi inipun tergantung dari proses dan keadaan geologi saat itu.

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi energi terbarukan (renewable energi) yang sangat melimpah. Sayangnya sumber-sumber energi terbarukan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Namun sejak tahun 2000-an mulai banyak penemuan yang berkaitan dengan energi hijau. Menurut Soemarno (2012) Energi hijau merupakan energi yang bertumpu pada energi yang terbarukan untuk menggantikan minyak fosil (batubara, minyak dan gas alam) serta konservasi energi menuju penggunaan energi yang efisien. Salah satu bentuk hasil dari energi hijau seperti biofuel (Heyko, E, 2016) . Pemerintah juga telah mendukung untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Selain itu telah banyak perusahaan pertambangan dan energi berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi energi hijau ini.

    Salah satu perusahaan pertambangan nasional Indonesia, Pertamina RU 3 Plaju misalnya menciptakan inovasi green energi berupa mengolah minyak kelapa sawit CPO (crude palm oil) menjadi bahan bakar minyak (BBM). Prosesnya dengan mencampurkan residu  kelapa sawit atau bagian lain dari ke bahan bakar yaitu VGO (vaccum gas oil) dari reisidual minyak bumi. Inovasi ini tentu akan membawa dampak yang positif bagi lingkungan. Hal ini juga merupakan sebuah jawaban tantangan dunia agar bisnis migas mulai bepindah dari sumber energi fosil menuju ke green energi. Dengan adanya green energi ini, Indonesia dapat menghemat kas Negara hingga 2,3 trilliun dan mengurangi konsumsi impor minyak bumi hingga 7,36 ribu barel per hari (Pertamina, 2018). Selain itu penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar dapat mengurangi polusi. Indonesia menjadi Negara pertama yang memperkenalkan dan mengimplementasikan Co-Processing CPO menjadi green gasoline dan green LPG. Serangkaian uji coba dilakukan dan hasilnya cukup menggembirakan karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number yang cukup tinggi Untuk kebutuhan CPO yang banyak untuk memproduksi biofuel Pertamina Plaju telah bekerja sama dengan perusahaan PTPN III dan RNI (Indrawan,Rio, 2019).

    CPO merupakan biomassa yang mengandung lignoselulosa yang bisa dikonversi menjadi bahan bakar cair melalui proses co-prosessing pirolisis cepat. Konversi CPO menjadi gasoline juga lebih besar dibandingkan HDO. Namun pada proses co-prosessing, CPO sedikit sulit untuk di proses karena kurangnya reaktif selama masa cracking. Berdasarkan sumber penelitian Thegarid , untuk mencampurkan CPO dengan VGO ada syaratnya yaitu CPO bisa di co-prosseing dengan VGO di dalam FCC unit dengan tanpa adanya upgrading tambahan dalam proses jika jumlah bio-oil yang ditambahkan persen berat nya sekitar 20 wt% , menggunakan FCC katalis, operasi pada temperature tinggi sekitar 500℃ (Thegarid,N.,dkk.2013).

    Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik hingga tahun 2017 Indonesia merupakan Negara produsen CPO terbesar di dunia. Dibuktikan dengan peningkatan nilai ekspor hingga 15.385,3 ton/tahun (BPS, 2017). Dengan adanya sumber energi bahan bakar CPO ini diharapkan Indonesia nantinya dapat terbebas dari berbagai dampak polusi lingkungan, menghemat kas Negara, mengurangi impor minyak bumi, dan bahan bakar yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

    Sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya kita berpikir kritis untuk menciptakan inovasi dan pembaharuan energi alternatif terbarukan berkelanjutan untuk masa depan yang berfokus pada ketahanan lingkungan seperti meminimalkan pencemaran udara, pemanasan global, serta degradasi lingkungan, dan tidak mengimpor bahan bakar namun justru melakukan ekspor bahan bakar.

     

    Daftar Pustaka

    Badan Pusat Statistik. 2017. “Ekspor Minyak Kelapa Sawit Menurut Negara Tujuan Utama 2000-2015”. Http://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/1026/ekspor-minyak-kelapa-sawit-menurut-negara-tujuan-utama-200-2015.html. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

    Heyko, E.,dkk.2016. “Strategi Pemanfaatan Energi Terbarukan Dalam Rangka Kemandirian Energi Daerah Provinsi Kalimantan Timur”. Inovasi: Jurnal Ekonomi Keuangan, dan Manajemen, Volume 12, (1), 2016. ISSN online: 2528-1097.

    Indrawan,Rio.2019. ”Green Refinery Plaju dan Dumai Akan Serap 15 Juta Ton CPO Per Tahun”. http://www.dunia.energi.com/green-refinery-plaju-dan-dumai-akan serap-15-juta-ton-cpo-per-tahun/. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

    Pertamina.2018. ”Pertamina Olah CPO Menjadi Green Gasoline dan Green LPG, Hemat Devisa USD 160 Juta/Tahun”. http://www.pertamina.com/id/news-room/news-release/pertamina-olah-cpo-menjadi-green-gasoline-dan-green-lpg-hemat-devisa-usd-160-juta-tahun. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

    Thegarid,N.,dkk.2013.”Second-Generation Biofuels By CO-Processing Catalytic Pyrolysis Oil In FCC Units”. Applied Catalysis: B: Environtmental.

    Wikipedia.2018. ”Energi Ramah Lingkungan”. http://id.m.wikipedia.org/wiki/Energi_ramah_lingkungan. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

  •  

     

     

     

     

     

    “BIOMASSA, BIOENERGI, BERHEMAT, BERMANFAAT”

    Tedi Andrianto, Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Sriwijaya

     

            Sebuah teori dasar yang harus diketahui oleh setiap mahasiswa ialah, segala hal yang terlihat,yang dirasakan, serta yang didengar merupakan rangkaian feomena fisik yang disebabkan oleh adanya perpindahan energi. Definisi tentang energi dapat menjadi sangat luas. Di mata para insinyur seperti kita, energi bisa bertautan dengan istilah minyak bumi, listrik, panas bumi, gas alam, dan sebagainya. Di mata masyarakat, energi bisa berarti bensin, diesel (solar), pertamax, minyak tanah, baterai, dan bahkan makanan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), energi berarti kemampuan untuk melakukan kerja atau daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan . Tapi secara umum, energi itu ialah sesuatu yang menghasilkan kerja. Jika boleh berandai-andai, jika hal yang dinamakan energi hilang seketika dimuka bumi, baik itu energi panas,listrik, bunyi dan lainnya. Apa yang terjadi? Segala sesuatu yang seharusnya berfungsi sesuai dengan tempatnya masing-masing akan berhenti berfungsi, lampu yang berdinar tak lagi menghasilkan cahaya, peralatan pabrik yang akan berhenti beroperasi karena kehilangan suplai energi listrik. Berdasarkan fenomena permasalahan di atas, penulis mencoba memaparkan mengenai penggunaan biomassa dan bioenergi.

           Penulis memakai sumber di bawah ini sebagai sumber acuan dalam memaparkan cara berhemat untuk alam dengan memanfaatkan biomassa. Sebelum melanjutkan pemaparan penulis, kita perlu mengetahui apa itu biomassaBiomassa adalah suatu energi yang didapatkan dari sumber alami yang dapat diperbaharui dan dibuat untuk bahan bakar. Jadi selama masih ada tumbuhan ataupun mikro dan makroorganisme, maka energi biomassa akan tetap bisa diproduksi. Berbeda halnya dengan bahan bakar fosil yang akan habis suatu saat nanti, selain itu juga bahan bakar fosil menjadi penyebab gas rumah kaca, karena karbon dioksida yang dilepaskan di atmosfir keberadaannya akan menghalangi panas yang akan meninggalkan bumi sehingga temperatur bumi pun akan meningkat terus menerus selama kita masih menggunakan bahan bakar fosil.  Sedangkan energi biomassa termasuk sumber energi terbarukan yang berbasis pada siklus karbon yang nantinya konsentrasi CO2 dalam atmosfer akan seimbang karena berbagai tanaman yang digunakan untuk penggunaan biomassa mengurangi kadar karbondioksida di atmosfer dengan kata lain karbondioksida yang dihasilkan akan diserap kembali oleh tanaman jadi biomassa lebih bersifat carbon neutral.

            Pengertian tentang energi, sumber energi, sumber energi alternatif, dan energi terbarukan menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 pasal 1 sebagai berikut :

    1. Energi adalah daya yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan meliputi listrik, mekanik dan panas.
    2. Sumber energi adalah sebagian sumber daya alam antara lain berupa minyak dan gas bumi, batubara, air, panas bumi, gambut, biomassadan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dimanfaatkan sebagai energi.
    3. Sumber energi alternatif tertentu adalah jenis sumber energi tertentu pengganti Bahan Bakar Minyak.
    4. Energi Terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran air sungai, panas surya, angin, biomassabiogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

     

           Bahan – bahan energi biomassa bisa berasal dari limbah pertanian dan kehutanan, residu, komponen organik dari limbah kota dan industri, gas metana dari tempat pembuangan sampah, bahkan kotoran dari hewan dan manusia. Biomassa bisa digunakan secara langsung maupun tidak langsung sebagai bahan bakar. Contoh bahan bakar biomassa yang digunakan secara langsung adalah briket arang, briket sekam padi, briket ranting dan daun kering. Biomassa juga dapat diolah menjadi berbagai jenis biofuel padatan, cairan atau gas bakar yang merupakan bahan bakar terbarukan. Biofueldipandang sebagai bahan bakar alternatif yang penting karena dapat mengurangi emisi gas dan meningkatkan ketahanan energi. Dalam penggunaan Minyak Nabati (BBN) sebagai bahan biofuel secara langsung harus memodifikasi terlebih dahulu mesin diesel yang dipakai, misalnya dengan penambahan pemanas BBN untuk menurunkan viskositas. Pemanas tersebut dipasang sebelum sistem pompa dan injector bahan bakar.

        Dengan melihat Indonesia sebagai negara agraris, maka sangat potensial untuk memanfaatkan biomassa karena berdasarkan data dariesdm.go.id potensi bioenergi dari limbah biomassa diperkirakan mencapai 49.810 MW dan pemanfaatannya hingga saat ini baru mencapai sekitar 1.618 MW atau sekitar 3,25 % dari potensi yang ada. Minimnya pemanfaatan potensi bioenergi yang tersedia, menjadi focus perhatian dari Kementerian ESDM dan menjadi salah satu agenda utama pengembangan energi baru dan energi terbarukan di Indonesia. Dengan pemanfaatan teknologi bioenergi, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan energinya, namun juga mempunyai kesempatan yang besar di dalam memberikan kontribusi terhadap penyediaan energi bersih kepada masyarakat dunia melalui penyediaanbiodiesel, kemudian penggunaan biodiesel juga mengurangi ketergantungan pada minyak bumi serta meningkatkan keamanan energi. Sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia seharusnya mempunyai potensi untuk menjadi salah satu penghasil biodiesel terbesar. Industri lain yang berpotensi adalah industri gula untuk pengolahan bioethanol dan potensi biogas dari limbah hewan ternak yang diperkirakan mencapai 1 juta unit alat penghasilbiogas dari limbah hewan ternak. Jika potensi tersebut dimaksimalkan, maka Indonesia akan mampu menghemat sekitar 700 ribu ton elpiji atau setara dengan 900 juta liter minyak tanah.

        Dengan melihat penjelasan penulis, kita dapat mengetahui bahwabiomassa adalah sumber energi terbarukan yang mana jadi tujuan untuk menghemat dan mengehentikan ketergantungan kepada energi fosil sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 pasal 1.Biomassa yang kemudian menghasilkan bioenergi seperti biofuel, biodiesel, bioethanol dan biogas yang menjadi salah satu potensi terbesar untuk menjadi sumber energi alternative dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya itu, penggunaan biomassa mampu mengurangi berbagai permasalahan manajemen polusi dan pembuangan, menghemat dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Tidak diragukan lagi kalau mengoptimalkan penggunaan biomassa adalah solusi yang tepat dengan potensi yang dimiliki Indonesia dan keadaan saat ini. Maka dari itu, dengan tujuan penulis yaitu menjelaskan cara berhemat untuk alam dengan mengoptimalkan biomassa, penulis berharap agar semua pihak harus mulai dilatih untuk dapat menciptakan biomassa sendiri. Dari pelatihan ini akan mengurangi bahkan menghilangkan budaya masyarakat Indonesia membuang sampah dan limbah dimana saja serta dapat memproduksi energi sendiri sebagai bentuk hemat untuk alam.

     

  •  5 Jurus Jitu Tuntaskan Permasalahan Bahan Bakar Minyak di Indonesia

    Erika Sisilia

    Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

    E-mail: erika.sisilia@yahoo.com

     

                 Permasalahan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia seperti menipisnya cadangan minyak bumi dan kenaikan harga BBM  merupakan penyakit kronis yang telah menggerogoti Indonesia dan belum ditemukan obatnya sampai saat ini.

                Pemerintah seperti sudah kehabisan akal dalam menyelesaikan permasalahan pelik BBM ini dengan memutuskan untuk menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidi secara besar-besaran. Padahal jika ditinjau kembali, menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidi tidak menyelesaikan permasalahan ini sama sekali, malah menambah beban rakyat karena kenaikan ini berimbas terhadap semua sektor perekonomian Indonesia. Dan parahnya lagi, ketika harga BBM naik, pemerintah tidak dapat mengontrol sektor perekonomian lain seperti harga sembako, biaya transportasi kendaraan umum, dan lain sebagainya. Pemerintah seakan membiarkan rakyat tercekik dengan kenaikan harga BBM sambil tenggelam di dalam banyaknya kenaikan sektor perekonomian lain.

                Langkah penghematan BBM juga sering digalakkan oleh pemerintah dalam menuntaskan permasalahan ini padahal penghematan bukanlah solusi yang tepat karena penghematan tidak akan menambah pasokan BBM, hanya bisa memperlambat habisnya pasokan BBM. Dampak dari penghematan ini juga hampir sebanding dengan biaya yang dihemat oleh pemerintah. Sehingga penghematan, menaikkan harga, dan mengurangi subsidi BBM bukan merupakan solusi tepat dalam menyelesaikan masalah ini. Rakyat butuh kepastian, kepedulian, dan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan yang telah mengakar sangat dalam ini. Pemerintah seharusnya lebih serius lagi melihat akar permasalahan BBM ini karena jumlah kebutuhan BBM yang sangat tinggi dan ini merupakan masalah yang benar-benar ‘urgent ‘.

                Terdapat beberapa jurus jitu dalam menuntaskan permasalahan BBM di Indonesia yang dapat dijadikan pertimbangan oleh Pemerintah dan solusi tepat bagi rakyat.

                Pertama, menggalakkan naik kendaraan umum seperti bis. Berdasarkan data statistik banyak kendaraan bermotor yang menggunakan BBM karena fasilitas pelayanan publik yang sangat sedikit dan kurang nyaman.

                Kedua, menurunkan ongkos produksi BBM dengan memaksimalkan fungsi Pertamina  untuk memproduksi BBM serta memutus mata rantai pembelian BBM melalui pasar sekunder.

                Ketiga, meninjau ulang subsidi BBM kepada rakyat yang kurang mampu karena sebenarnya subsidi BBM merupakan langkah bantuan yang tidak tepat sasaran. Hampir 92% subsidi BBM dirasakan oleh masyarakat yang tidak layak menerima subsidi, sedangkan 8% lagi baru dirasakan oleh masyarakat yang kurang mampu. Sebaiknya, pemerintah lebih cermat lagi dalam pemberian subsidi ini, subsidi BBM seharusnya diganti dengan subsidi berobat, sekolah, melahirkan, atau dibebaskan dari pajak dan tetap diawasi jalannya subsidi agar subsidi benar – benar membantu masyarakat kurang mampu dan tepat sasaran.

                Keempat, meluruskan kembali paradigma bahwa seluruh sumber daya alam yang ada di wilayah Indonesia hanya boleh dikuasai oleh negara, bukan asing atau swasta. Salah satunya minyak bumi. Serta meninjau kembali dan memperbaiki tata kelola energi yang ada di Indonesia.

                Kelima, menekankan konversi energi BBM ke gas alam dan energi baru terbarukan. Pemerintah seharusnya lebih berorientasi kepada mencari energi baru yang dapat diperbarui dengan mudah dan memanfaatkan energi yang benar-benar melimpah di Indonesia seperti gas bumi. Pemerintah seharusnya menggenjot pembangunan pabrik biodiesel, bioetanol, infrastrutur penerima gas, dan jaringan transmisi gas, bukannya sibuk mengimpor BBM. Kita dapat megambil contoh biodiesel, biodiesel merupakan BBM yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor tanpa pengubahan spesifikasi mesin. Kita dapat menjadikan biodiesel sebagai produk unggulan karena Indonesia salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Selain kelapa sawit, pemeritah juga dapat mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar pengganti bensin. Pemerintah dapat memanfaatkan jutaan hektar hutan yang terbakar menjadi lahan produksi aren, ubi kayu, tebu, dan bahan baku etanol lainnya.

                Pemerintah juga harus memfokuskan diri terhadap penelitian anak bangsa mengenai bioenergi ini demi kelangsungan BBM di Indonesia. Indonesia seharusnya mulai bergerak dalam langkah konversi energi BBM ke gas alam dan bioenergi agar Indonesia mampu mengikis harga BBM dengan tidak tergantung harga BBM dunia karena diproduksi sendiri, mengurangi penggunaan energi konvensional yang akan habis dalam waktu dekat, dan bahkan menjadi raksasa bioenergi di dunia dengan mengekspor bioenergi karena yang seperti yang kita ketahui bahwa sumber daya alam sebagai bahan baku bioenergi sangat melimpah di Inonesia.

                Saya berharap jurus-jurus diatas dapat membantu menuntaskan permasalah pelik BBM di Indonesia karena menaikkan harga dan penghematan BBM bukan merupakan solusi yang tepat guna. Harapan seluruh rakyat Indonesia kepada Pemerintah Indonesia adalah keterbukaan terhadap permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia  sehingga dengan keterbukaan tersebut rakyat Indonesia akan sama-sama berusaha serta bersinergi membangun Indonesia yang lebih baik.

  •       Minyak mentah adalah sumber daya yang penting dalam masyarakat kita.  Hidup kita benar-benar dijalankan dengan bahan bakar fosil ini dan sulit membayangkan dunia tanpa itu.  Meskipun karena fakta bahwa bahan bakar fosil adalah sumber energi yang tidak dapat diperbarui segera, inilah yang akan terjadi.  Dalam tulisan ini saya akan berbicara tentang minyak mentah menjadi sumber daya berharga yang akan segera habis.

          Bahan bakar fosil adalah hidrokarbon yang mengandung sumber daya alam yang ditemukan di bawah tanah.  Sumber daya alam ini dibentuk oleh sisa-sisa hewan dan tumbuhan, juga dikenal sebagai biomassa, dari lebih dari 150 juta tahun;  ini adalah ketika kehidupan laut mati dan hewan dimakamkan di bawah manik laut.  Selama jutaan tahun biomassa menjadi tertutup lumpur, pasir, lumpur dan berbagai produk lainnya yang perlahan terbentuk menjadi batuan sedimen.  Massa batuan sedimen memungkinkan tekanan besar untuk diberikan pada biomassa, faktor ini dikombinasikan dengan suhu dan fakta bahwa ada sedikit atau tidak ada oksigen dan ada bakteri yang membantu membusuk sisa-sisa hewan dan tumbuhan, menyebabkan bahan  menjadi minyak atau bahan bakar fosil lainnya.

         Ada 3 contoh utama bahan bakar fosil, Batubara, gas alam, dan minyak mentah.  Meskipun semuanya dibuat dengan cara yang sama, semuanya sedikit berbeda.  Batubara terbentuk oleh sebagian besar kehidupan tanaman di daratan yang mati seperti pohon;  kehidupan tanaman yang mati kemudian mengalami tekanan dan suhu tinggi yang sama, seperti halnya minyak mentah dan gas alam.  Selulosa dari dari tumbuhan mati berubah menjadi asam humat, yang merupakan produk dari dekomposisi kehidupan tanaman yang tidak lengkap.  Kemudian berubah menjadi bitumen, cairan hitam ganas yang merupakan campuran bahan organik yang terutama terdiri dari hidrokarbon aromatik polisiklik;  itu kemudian menjadi karbon elementer.

       Minyak mentah adalah produk dari dekomposisi kehidupan laut, yang terlalu terkubur di bawah batuan sedimen, yang diletakkan di bawah tekanan dan temperatur yang tepat dari minyak mentah.  Minyak ini disimpan dalam batu berpori, merembes melalui batu sampai berhenti oleh batu yang tidak berpori.  Dengan minyak muncul bahan bakar fosil lain yaitu gas alam.

         Gas alam terutama terdiri dari metana, ditemukan dengan bahan bakar fosil lain seperti batubara atau minyak, dan dibentuk oleh dekomposisi anaerob dari organisme metanogenik dan biomassa umum.  Setelah organisme ini dikompresi, dan jika berada pada suhu yang lebih rendah menjadi minyak, dan semakin tinggi suhu (menuju inti bumi) di sana semakin banyak gas yang dihasilkan, itulah sebabnya gas alam biasanya dikaitkan dengan minyak mentah.

         Bahan bakar fosil diketahui tidak terbarukan karena mereka membutuhkan jutaan tahun untuk terbentuk, dan pada tingkat yang mereka gunakan tidak akan tersisa untuk menopang kita sampai lebih banyak terbentuk, ini dikatakan, ada alternatif lain yang  telah diperiksa. Alternatif seperti biodiesel, gas alam, minyak nabati, sel bahan bakar hidrogen, bioalkohol dan tenaga nuklir telah dibicarakan. Masalah dengan menggunakan gas alam, adalah bahwa itu juga terbatas seperti bahan bakar fosil, meskipun konsep mengompresi gas alam (CNG) adalah bahan bakar efisien energi bersih.

        Udara terkompresi juga dapat digunakan dan dikompresi sekitar 1/10 dari harga bahan bakar fosil.Sel bahan bakar hidrogen adalah cara baru ke depan;  sel bahan bakar adalah perangkat konversi energi elektrokimia.  Ini mengubah bahan kimia di dalamnya menjadi hidrogen oksigen dan air dan menghasilkan listrik;  dengan cara ini tidak menyebabkan polusi, karena ada aliran bahan kimia yang konstan sel tidak pernah mati.

       Alternatif untuk mencemari bahan bakar fosil sedang dipertimbangkan, dan merupakan bidang yang akan datang karena para peneliti baru mulai melihat bagaimana polusi benar-benar mempengaruhi lingkungan kita.

  •  

         Seiring dengan perkembangan zaman, minyak bumi dan gas alam memiliki peran penting dan strategis. Berdasarkan data statistik Indonesia telah mengalami peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sedangkan Cadangan minyak dunia diperkirakan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan selama 30 tahun kedepan. Di Indonesia ini minyak solar yang paling banyak dikonsumsi adalah BBM . Sekarang ini Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari luar negeri agar kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk bidang transportasi dan energi dapat tercukupi. Sedangkan harga minyak mentah dunia yang semakin naik memberikan dampak besar bagi perekonomian Indonesia, terutama kenaikan harga BBM. Hal tersebut mengakibatkan naiknya biaya pada proses industri dan juga transportasi. Minyak bumi yang dibutuhkan sekarang ini terus meningkat. Hal tersebut harus diantisipasi yaitu dengan mencari sumber energi alternatif. Krisis BBM yang melanda dunia telah mendorong berbagai negara untuk bertindak kreatif mengeksploasi sumber-sumber energi baru sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan energinya, baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang.

          Minyak bumi adalah energi yang tidak dapat diperbarui dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengkonversi bahan baku utama menjadi minyak bumi. Pada krisis energi saat ini, perlu adanya pengembangan energi yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil seperti pengalihan kepada energi terbarukan yaitu teknologi bioetanol.

         Bioetanol merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari biomassa yang mengandung pati, gula, dan lignoselulosa. Bahan bakar nabati merupakan alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) konvensional, sehingga dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada BBM konvensional. Penggunaan BBM konvensional telah diketahui tidak dapat dipertahankan lagi penggunaannya. Hal ini disebabkan jumlah cadangan minyak bumi semakin berkurang dan juga kontribusinya terhadap pemanasan global akibat terakumulasinya karbondioksida (CO2) di atmosfer hasil pembakaran minyak bumi.

         Proses dasar pembuatan bioetanol dari tumbuh-tumbuhan dalam skala besar adalah dengan menggunakan mikroba dari golongan bakteri yang mampu memfermentasikan gula yang terkandung didalamnya, setelah proses fermentasi terjadi, gula kemudian mengalami proses distilasi, dehidrasi dan denaturisasi sebagai tahap akhir.

    Gambar: limbah ampas sagu untuk bioethanol 

         Ampas sagu merupakan substrat yang berpotensi untuk dimanfaatkan  untuk produksi bioetanol karena masih mengandung karbohidrat tinggi seperti amilum yang masih cukup tinggi. Penggunaan ampas sagu sebagai substrat untuk produksi etanol membutuhkan bakteri yang mempunyai aktivitas ganda, yaitu mampu menghidrolisis amilum (aktivitas amilolitik) sehingga komponen tersebut tersedia untuk dikonversi menjadi etanol.

         Pemanfaatan limbah cucian sagu sebagai bioetanol sangat berpotensi dalam mengatasi krisis energi, dan mempu menjadi sumber energi  yang lebih ramah lingkungan dan sifatnya yang terbarukan. Hal ini dikarenakan melihat luas hutan sagu di Indonesia sekitar 1,25 juta hektar dan budidaya sagu sekitar 148 ribu hektar. Hampir 96% areal hutan sagu ada di Papua. Dalam skala dunia, lahan sagu Papua sebesar 53% dari total areal sagu dunia sekitar 2,25 juta hektar.  Adapun Penyebaran luas areal sagu di Indonesia dapat di lihat pada tabel berikut :

    Table :  Perkiraan Luas Areal Sagu di Indonesia

         Berdasarkan data tersebut di atas maka dapat diperkirakan potensi produksi sagu pertahun dapat mencapai 2 - 16 ton/ha/tahun, dan jika  diasumsikan tersedia 40 % dari luas areal Sagu sebesar 716.000 hektar yang dapat dipanen, maka potensi produksi sagu nasional mencapai 0,6 - 4,5 juta ton/tahun. Dari potensi tersebut maka ketersedianan bahan pembuatan bioetanol ini dapat terpenuhi dan sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan karena bahan bakunya sangat dikenal masyarakat

         Teknik pengolahan metroxilon sagu menjadi bioetanol atau METROTANOL  (Metroxylon Sago Bioetanol) terdiri dari beberapa tahapan yaitu (1) persiapan bahan baku seperti limbah air cucian sagu dan ragi, (2) pemasakan pati dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (saccharification) (3) Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66 jam atau kira-kira 2.5 hari. Proses ini akan menghasilkan etanol dan CO2. Selanjutnya ragi akan menghasilkan etanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8- 12%. (4) Proses destilasi etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Setelah proses produksi selesai maka METROTANOL dapat digunakan sebagai bahan bakar. METROTALOL ini bisa dicampurkan dengan bensin dengan perbandingan METROTANOL: Bensin sebesar 1: 9 atau 2:8.

         Bioetanol dihasilkan dari sumber nabati dari tumbuhan bergula dan berselusa memiliki keunggulan sebagai berikut:

    1. Memiliki angka oktan yang tinggi
    2. Mampu menurunkan tingkat opasiti asap, emisi partikulat yang membahayakan kesehatan dan emisi CO dan CO2
    3. Mirip dengan bensin, sehingga penggunaanya tidak memerlukan modifikasi mesin.
    4. Tidak mengandung senyawa timbal    

        Mengingat potensi hutan alam sagu Indonesia yang luas, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Mengingat variasi genetik yang terbesar di dunia, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan sagu sebagai sumber energi alternatif masa datang. Untuk menutupi kebutuhan pangan hanya 5% dari potensi yang ada, sehingga sisanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioetanol. Untuk pengembangan budidaya sagu, masyarakat selama ini sudah mengenal teknik perbanyakan tanaman sagu secara vegetatif, sehingga untuk mendorong masyarakat lebih giat membudidayakan sagu tidak sulit. Pemanfaatan hutan alam sagu, maupun hutan tanaman sagu, yang diiringi pengembangan budidaya serta berdirinya industri bioetanol akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Gusmailina. 2009. Prospek Bioetanol Dari Sagu (Metroxylon Spp) Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah. (Online) https://energihijauku-gsmlina.Blogspot.com /2009/12/energi-bioe tanol-dari-sagu.html . (Diakses pada tanggal 19 april 2019)

    Mamangkey, jendri. 2016. Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Ampas Sagu (Metroxylon Sagu Rottb.) Dengan Menggunakan Bakteri Zymomonas Mobilis Dalam Menjawab Tantangan Penggunaan Biofuel Di Indonesia.(Online) https://jendrimamangkey. blogspot.com/2016/05/pembuatan-bioetanol-dari-limbah-ampas.html. (Diakses pada tanggal 19 april 2019)

    Mamangkey, jendri, dkk. 2016. Produksi Bioetanol Dari Limbah Ampas Sagu (Metroxylon   Sagu Forma Sagu Rauw) Menggunakan Bakteri Amilolitik Indigenous. (Online) https://jendrimamangkey.blogspot.com/2016/01/produksi-bioetanol-dari-limbah-ampas.html. (Diakses pada tanggal 19 april 2019)

    Vansa, hajra dan Widya sujarwati. 2015. Etrotanol (Metroxylon Sago Bioetanol): Sebagai Energi Alternatif Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Limbah Cair Cucian Sagu Untuk Menghadapi Krisis Energi Dalam Mewujudkan Indonesia Mandiri. (Online) https://hajrayansa.blogspot.com/2018/05/metrotanol-metroxylon-sag-o-bioetanol-s.html. (Diakses pada tanggal 19 april 2019)

  • Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang berlimpah. Berdasarkan sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable), sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable), dan sumber daya alam yang tidak habis (Pratiwi dkk,2000). Salah satu contoh dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable) yaitu hasil tambang berupa minyak bumi. Minyak bumi dan kehidupan sosial kita layaknya gula dan semut yang tak terpisahkan. Hal ini dikarenakan produk dari hasil pengolahan minyak bumi itu sendiri sangatlah beragam dan pemanfaatannya yang cukup luas yang sangat dibutuhkan untuk menunjang keseharian hidup umat manusia, contohnya bensin. Bensin merupakan salah satu produk hasil pengolahan minyak bumi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar kendaraan Di jaman sekarang hampir setiap keluarga mempunyai kendaraan yang tentu saja membutuhkan bahan bakar seperti bensin, maka tak heran jika permintaan akan bensin ini meningkat setiap tahunnya yang berarti bahwa permintaan akan minyak bumi juga melonjak naik. Namun karena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui menyebabkan ketersediaan minyak bumi semakin menipis. Menurut data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan terbukti minyak bumi Indonesia (per tahun 2018) hanya sebesar 3,1 miliar barel dan semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat para ilmuwan tergerak untuk menemukan sumber daya lain yang dapat menggantikan minyak bumi sebagai bahan baku utama bensin sehingga dibuatlah bioetanol. Dinilai dari karakteristiknya, bioetanol dapat digunakan sebagai alternative lain dari bensin karena memilliki karakteristik yang sama dengan bensin. Namun, karena beberapa faktor, perkembangan dari produksi serta pemanfaatannya sebagai bahan bakar masih  terbilang sedikit.

    Tabel Data Cadangan Minyak Bumi (Menurut Kementerian ESDM)

    http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=cadanganMinyakBumi/index
    http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=cadanganMinyakBumi/index

     

    Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa bensin merupakan salah satu produk hasil pengolahan minyak bumi yang tersusun dari hidrokarbon rantai lurus dengan komponen utamanya berupa oktana dan n-heptana. Komposisi kimia bensin terdiri dari senyawa hidrokarbon tak jenuh (olefin), hidrokarbon jenuh (parafin) dan hidrokarbon siklik atau hidrokarbon aromatic (Permana,2010) Bensin di dapat dari hasil destilasi minyak mentah pada temperatur 35-75oC. Semua bahan bakar yang disebut dengan bensin umumnya terdiri dari hidrokarbon, dengan atom karbon berjumlah antara 4 (disebut C4) sampai 12 ( disebut  C12). Bensin digunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran di dalam mesin kendaraan karena  memiliki kemampuan untuk menguap pada suhu yang rendah. Ketika bensin dibakar di dalam mesin kendaraan seharusnya hanya dihasilkan CO2 dan H2O sebagai hasil dari pembakaran sempurna, namun kenyataanya  pembakaran bensin juga melepaskan berbagai zat yang dapat mengakibatkan pencemaran berupa CO2, CO, NOx, dan lain-lain. Zat-zat ini dapat menyebabkan berbagai masalah seperti pencemaran udara, ozon, gas rumah kaca yang menyebabkan global warming. Ketersediaannya di bumi semakin sedikit karena jumlah bahan bakunya yang semakin menipis dan belum ditemukannya sumur migas yang baru.

    Oleh karena alasan-alasan inilah, para ilmuwan sekarang sedang berusaha untuk mengganti bahan bakar bensin dengan bahan bakar yang dapat diperbaharui dan yang lebih ramah lingkungan. Contohnya adalah penggunaan bahan baku alami berupa gula (glukosa), pati, dan selulosa yang dapat menghasilkan produk berupa bioetanol. Dalam perkembangannya, produksi bioethanol yang paling banyak digunakan adalah metode fermentasi dan destilasi (Rahmawati,2010). Fermentasi dimaksudkan  untuk menghasilkan alkohol dengan kadar rendah. Untuk meningkatkan kadar etanol hingga mencapai Fuel Grade Ethanol (FGE) 99.5% dibutuhkan proses penyulingan (distillation) dan dehidrasi (dehydration). Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor bervariasi antara blend hingga bioetanol murni. Pertamina telah menjual biopremium (E5) yang mengandung bioetanol 5% dan premium 95% sedangkan E100 untuk bioetanol 100% atau tanpa campuran. Bio ethanol disebut- sebut sebagai pengganti bensin dikarenakan mempunyai nilai kalor atau panas yang lebih rendah dibandingkan premium. “Tulisan ini juga dimuat di website https://theatmojo.com/energi/bioetanol-bahan-bakar-nabati/ “

    Sejatinya, baik bioetanol maupun bensin merupakan bahan bakar yang baik bagi kendaraan. Tapi jika ditinjau dari beberapa aspek, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Bioetanol sendiri mampu mengurangi emisi gas beracun (CO dan HC) yang umum ditemukan pada pembakaran bensin Namun sayangnya justru emisi NOx lebih tinggi dibandingkan pembakaran bahan bakar premium. Dalam bentuk persentase, pembakaran bioetanol (E100) mengurangi sekitar 45% emisi karbon dioksida dibandingkan pembakaran oktana. Bioetanol dengan kandungan 100% memiliki nilai oktan (octane) RON 116 – 129, yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan bakar premium dengan nilai oktan RON 88. Karena nilai oktan yang tinggi, bioetanol dapat digunakan sebagai pendongkrak oktan (octane booster) untuk bahan bakar beroktan rendah. Nilai oktan yang lebih tinggi pada bioetanol juga berpengaruh positif terhadap efisiensi dan daya mesin. Bioetanol juga merupakan sumber energi terbarukan yang berarti bahwa persediaan bioetanol ini tidak terbatas seperti bahan bakar fossil. Tetapi karena proses yang terbilang sulit dan hasil yang sangat murni membuat bioetanol sulit dipasarkan dengan harga rendah. Bahan bakunya yang dapat berupa singkong ini juga menjadi penghalang dari perkembangan bioetanol itu sendiri. Hal ini disebabkan karena produksi bioetanol dari singkong meliputi proses yang panjang dan juga penggunaan enzim sebagai bahan tambahan yang ketersediaannya terbatas dan harganya yang terbilang mahal. Selain itu, jika dibandingkan dengan pabrik tepung tapioka yang bahan bakunya sama-sama menggunakan singkong tetapi prosesnya jauh lebih sederhana dan harga jualnya tinggi membuat pabrik bioetanol tidak dapat bersaing dengan pabrik tepung tapioka.

    Perkembangan bioetanol di Indonesia masih terkendala karena beberapa faktor seperti  yang telah disebutkan di atas. Tapi, meskipun pada masa ini bioetanol belum dapat sepenuhnya mengatasi masalah ketergantungan umat manusia akan bahan bakar fossil, saya yakin bahwa kelak dimasa yang akan datang minat akan bioethanol sebagai energi terbarukan pengganti bahan bakar bensin dapat semakin meningkat. Bukan hanya karena ketersediaan bahan baku pembuatan bahan bakar bensin yang semakin terbatas tetapi juga demi masa depan anak cucu kita yang bebas dari pencemaran udara dan efek gas rumah kaca. Untuk itu, masih diperlukan banyak penelitian untuk menciptakan produksi bioetanol dengan proses yang sederhana dan biaya produksi yang rendah sehingga akhirnya harga jual dari bioetanol juga akan rendah dan cukup untuk menarik minat dari masyarakat umum. Dukungan dari pemerintah dan industri terkait juga sangat diharapkan.

  •   

    (sumber : Detik finance )

     

           Negara Indonesia merupakan negara yang sedang mengalami permasalahan terhadap transportasi, khususnya berkaitan dengan transportasi udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan bahan bakar lebih banyak dibandingkan dengan transportasi lainnya.Hal tersebut mengakibatkan menipisnya pasokkan minyak mentah yang berasal dari bahan bakar fosil di Indonesia ditambah lagi meningkatnya konsumsi energi seiring bertambahnya jumlah penduduk, kegiatan, dan luasnya kawasan. Kini masa kejayaan Indonesia sebagai pengekspor minyak telah usai. Data statistik menunjukan bahwa Indikator produksi dan konsumsi minyak nasional sangat berbanding jauh, dimana konsumsi minyak di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan kapasitas produksi minyak didalam negeri pada tahun 2006-2015. Menurut laporan CIA yang bertajuk Global Trends 2025, memperingatkan bahwa akan ada ancaman serius akibat kelangkaan bahan bakar fosil, yakni minyak dan gas.

           Pesawat merupakan alat transportasi yang sangat berpengaruh bagi Negara Indonesia untuk kemajuan suatu bangsa, baik dari segi ekonomi, sosial maupun politik dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan bentuk kepulauan. Negara Indonesia saat ini sedang dihadapkan masalah dimana harga tiket meningkat tajam sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menikmatinya. Permasalahan ini terjadi dikarenakan mahalnya bahan bakar avtur yang merupakan bahan bakar pesawat, harga avtur di Indonesia bahkan dinilai lebih mahal 10-15 persen jika dibandingkan dengan Negara Singapura dan Malaysia. Sedangkan menurut data Index Mundi, harga avtur dunia meningkat empat kali lipat sejak Januari 1999 dari $14,26 AS/barel menjadi $77,39/barel per Januari 2019. Dalam bisnis penerbangan, avtur memang memegang peranan penting dalam operasional sebuah maskapai. Menurut ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, avtur memberikan kontribusi sebesar 40 persen dari biaya operasional. Perlu kita ketahui, avtur adalah bahan bakar sejenis minyak tanah yang digunakan untuk mesin tipe  turbin gas dengan titik didih antara 150° - 300°C, avtur memiliki sifat yang menyerupai kerosin karena memiliki rentang panjang rantai C yang sama. Komponen-komponen kerosin dan avtur terutama adalah senyawa-senyawa hidrokarbon parafinik (CnH2n+2) dan  monoolefinik (CnH2n) atau naftenik (sikloalkan, CnH2n) dalam rentang C10 – C15. Sifat ini digunakan karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan bakar jenis lain. Contohnya adalah volatilitas dibandingkan dengan bensin, avtur memiliki volatilitas yang lebih kecil sehingga mengurangi kemungkinan kehilangan bahan bakar dalam jumlah besar akibat penguapan pada ketinggian penerbangan. Di Indonesia, avtur hanya dijual oleh Perusahaan Pertamina. Oleh karena itu, Perusahaan Pertamina bertanggung jawab atas ketersediaan avtur dan harga yang dijual dari bahan bakar avtur.

           Faktanya Indonesia memiliki potensi sumber biomassa yang melimpah, seperti TKKS yang perlu dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku energi terbarukan. Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia karena didukung oleh iklim dan tersedianya lahan yang sangat luas. Selain menghasilkan minyak sawit, pengolahan kelapa sawit juga menghasilkan produk samping yaitu limbah cair (POME), cangkang sawit, sabut, dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Jumlah terbesar dari produk samping pengolahan kelapa sawit adalah TKKS yang dapat menghasilkan 230 kg dari setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diproduksi. Maka dari itu limbah TKKS harus diolah lebih lanjut jika tidak ingin mencemari lingkungan. Dari permasalahan tersebut, ditemukan solusi alternatif yaitu melalui penggunaan bioavtur. Bioavtur dipercaya dapat mengatasi permasalahan tersebut sebab bioavtur dapat mengolah biomassa (limbah TKKS) menjadi produk yang bernilai jual tinggi. 

           Jika kita lihat dari perbedaannya, avtur merupakan bahan bakar yang berasal dari fosil yang tidak dapat diperbarui sedangkan bioavtur merupakan bahan bakar yang berbasis nabati yang dapat diperbarui dan tersedia dalam jumlah yang besar. Sedangkan dari sifatnya, bioetanol lebih mampu mereduksi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, serta lebih ramah lingkungan. Selain itu, bioavtur dikabarkan memiliki nilai lubrisitas (pelumasan) dan detergensi (pembersihan) yang cukup baik, sehingga memiliki kemampuan untuk memperbaiki kinerja dari mesin dan juga berkontribusi dalam pembersihan turbin. Akan tetapi, kelemahannya bioavtur memiliki kecenderungan untuk membeku lebih cepat daripada bahan bakar avtur berbasis fosil biasa.  

           Di Indonensia saat ini tentunya sudah mulai mengembangkan bioavtur, dilansir dari situs CNN INDONESIA, mengatakan bahwa  PT. Pertamina (Persero) berencana membangun pabrik bioavtur senilai US$ 450 juta - US$ 480 juta yang mampu memproduksi bahan bakar pesawat terbang ramah lingkungan sebanyak 260 juta liter per tahun. Untuk mewujudkan rencana tersebut, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) pelat merah akan menggandeng Wilmar Group, salah satu perusahaan kelapa sawit besar di Indonesia. "Penggunaan bioavtur sebagai bahan bakar penerbangan cepat atau lambat akan diterapkan, mengingat ICAO telah menetapkan target penurunan emisi dari penerbangan internasional yaitu kesepakatan Carbon Neutral Growthpada 2020 dan penurunan emisi dari penerbangan hingga 50 persen pada 2050 dibandingkan 2005", ujar pakar penerbangan Wendy Aritenang. Wendy menjelaskan “bila ingin memproduksi sendiri produk bioavtur, maka Indonesia harus mempersiapkan berbagai hal mulai saat ini. Indonesia memiliki beragam keanekaragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pengembangan bioavtur. Namun, apabila tidak mempersiapkan diri sejak dini, maka pilihannya ialah membeli bioavtur dari negara lain dengan biaya yang lebih tinggi dibandingkan produksi sendiri”. Saat ini di Indonesia riset dan teknologi tentang pengembangan bioavtur masih terbilang sedikit. Hal inilah yang akan menjadi tantangan bagi Indonesia ke depannya dalam memproduksi dan mengembangkan bioavtur sebagai bahan bakar transportasi udara.

     

    DAFTAR PUSTAKA :

    Aditiasari,D .2019. ”Ini Penyebab Harga Tiket Mahal”. (Online): https://finance.detik.com/infografis/d- 4445923/ini-penyebab-harga-tiket-pesawat-mahal. (Diakses pada tanggal 19 April 2019).

    Norman,M.,dkk. 2014. “Ketahanan Energi Indonesia 2015-2025 Tantangan dan Harapan”. Jakarta Pusat : CV. Rumah Buku.

    Oke finance .2017. “Indonesia Harus Buat Keputusan Produksi atau Beli Bioavtur”. (Online):https://economy.okezone.com/read/2017/04/12/320/1665302/indonesia-harus-buat-keputusan-produksi-atau-beli-bioavtur. (Diakses pada tanggal 18 April 2019).

    Primadhyta,S.2015. “Gandeng Wilmar, Pertamina Bangun Pabrik Bioavtur US$ 480 juta”. (Online): https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150812150523-85-71662/gandeng-wilmar-pertamina-bangun-pabrik-bioavtur-us--480-juta. (Diakses pada tanggal 16 April 2019).

    Setiawan, R. 2017. “Indonesia Masih Impor Minyak? Wajar Aja Sih”. (Online): https://www.kompasiana.com/cakmat/599b0fb6cba8ac0eb857d422/indonesia-masih-impor-minyak-wajar-aja-sih?page=all. (Diakses pada tanggal 17 April 2019).

    Valenta,E. 2019. “Membedah penyebab mahalnya harga avtur di Indonesia”. (Online): https://beritagar.id/artikel/berita/membedah-penyebab-mahalnya-harga-avtur-di-indonesia. (Diakses pada tanggal 17 April 2019).

     

     

  • Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun meningkat dengan pesat. Jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2017 hampir menyentuh angka 139 juta. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat menyebabkan kemacetan lalu lintas yang membuat para pengguna jalan tidak nyaman dan menambah kesemrawutan kota.

    Di Indonesia, kendaraan bermotor yang digunakan banyak memakai bahan bakar minyak dan kita tahu bahwa dampak buruk dari penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak sangatlah banyak. Dampak buruk yang dihasilkan dari kendaraan bermotor berbahan bakar minyak berasal dari gas buang yang dapat menyebabkan hujan asam, meningkatkan polusi di udara, meningkatkan pemanasan global dan juga dapat mempengaruhi perubahan iklim yang ekstrem. Gas buang terbentuk karna proses pembakaran yang tidak sempurna didalam mesin, artinya tidak semua bahan bakar yang masuk ke mesin terbakar habis atau masih ada bahan bakar yang tidak terbakar. Gas buang yang dihasilkan mengandung beberapa senyawa organik dan anorganik dengan berat molekul yang besar dan dapat langsung terhirup yang bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti gangguan pernafasan, gangguan sistem syaraf dan yang paling parah adalah kanker pada organ tubuh. Selain itu, bahan bakar minyak juga tidak dapat terbarukan dengan kata lain bahan bakar ini hanya bisa digunakan sekali saja dan tidak dapat digunakan kembali. Jika dilihat dari data diatas, jumlah kendaraan berbahan bakar minyak semakin meningkat dari tahun ke tahun dan konsumsi bahan bakar minyak semakin meningkat  juga sedangkan cadangan bahan baku untuk bahan bakar minyak di Indonesia dalam beberapa tahun yang akan datang segera habis. Maka dari itu udah saatnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar minyak.

    Salah satu bahan bakar alternatif untuk kendaraan bermotor adalah bahan bakar gas. Penggunaan bahan bakar gas di Indonesia terbilang sangat sedikit meskipun gas bumi sebagai bahan baku untuk bahan bakar gas di Indonesia lebih banyak dan melimpah dibandingkan dengan cadangan minyak. Beberapa jenis bahan bakar gas yang ada di Indonesia antara lain adalah Compressed Natural Gas (CNG), Liquid Natural Gas (LNG) dan gas hidrogen. Kelebihan dari bahan bakar gas sangat berpengaruh pada lingkungan dan mesin kendaraan. Bahan bakar gas juga memiliki angka oktan yang tinggi dan nilai oktannya diatas dari bahan bakar minyak jenis Pertamax. Bahan bakar gas ini tidak menyisakan kotoran pada mesin, membuat pembakaran pada mesin lebih sempurna, kerja mesin tidak berat. Selain itu, mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas lebih awet dan emisi gas karbon yang dihasilkan lebih sedikit dan juga penggunaan bahan bakar gas dapat menghemat pada biaya perawatan mesin. Emisi dari bahan bakar gas ini dapat mengurangi emisi gas CO2 sebesar 25%, emisi CO sebesar 95% dan emisi NOx sebesar 30% dibandingkan memakai bahan bakar minyak. Bahan bakar gas diyakini lebih ramah lingkungan karna emisi yang dihasilkan tidak banyak jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Penggunaan bahan bakar gas pada mesin kendaraan sangat irit dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Selain itu, harga bahan bakar gas jauh lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan hal ini dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan bermotor.

    Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah sedang berupaya untuk mendorong penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan yang bertujuan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak yang saat ini banyak digunakan. Selain itu, pemerintah juga sedang membangun insfrastruktur penunjang kendaraan berbahan bakar gas berupa stasiun pengisian bahan bakar gas di Indonesia secara merata dan menjadikan bahan bakar gas sebagai pengganti bahan bakar minyak beberapa tahun kedepan.

  • (sumber : www.gogreen.co

    Kegiatan industri minyak dan gas bumi dibagi atas dua kategori, yaitu kegiatan hulu (upsteram) dan kegiatan hilir (downstream). Kegiatan usaha hulu migas terdiri dari kegiatan eksplorasi dan produksi, sedangkan kegiatan hilir migas terdiri dari kegiatan pengolahan, transportasi, dan pemasaran.

    Dalam kegiatan hilir, pengolahan dilakukan untuk memurnikan minyak mentah yang diproses dalam pada refinery unit yang terdiri dari berbagai macam peralatan pengolahan. Salah satu alat utama dalam proses ini adalah kolom destilasi. Minyak mentah diolah menjadi bahan bakar dan produk setengah jadi atau produk antara. Setelah minyak bumi diolah, maka hasil olahannya dipindahkan atau diangkut ke tempat penyimpanan/penampungan ataupun kependistribusian. Pengangkutan minyak bumi biasanya menggunakan kapal,truk juga dengan menggunakan pipa. Kegiatan terakhir usaha hilir minyak bumi yaitu kegiatan pemasaran, dimana minyak bumi ataupun hasil olahannya akan diperjualbelikan, diekspor dan diimpor.

    Di Indonesia sendiri, penyaluran hasil olahan minyak bumi yaitu bahan bakar minyak (BBM) dilakukan hingga pelosok negeri. Penyaluran dilakukan dengan menggunakan angkutan darat, laut bahkan udara. Adanya sarana dan fasilitas penyaluran yang tersedia di setiap pulau di Indonesia. Meskipun begitu, tetap saja penyaluran bahan bakar minyak di Indonesia masih sama mengalami kendala, salah satunya karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih kurang 17.000 pulau dari sabang hingga merauke, dan adanya daerah-daerah terpencil di Indonesia yang sulit dijangkau.

    Kendala-kendala penyaluran bahan bakar minyak tersebut memiliki dampak pada harga BBM di beberapa daerah di Indonesia. Masalah perbedaan harga BBM yang paling banyak terjadi adalah di daerah Indonesai terutama di daerah yang sulit dijangkau/terpencil. Perbedaan harga tersebut terjadi bukan stasiun pengisian bahan bakar umum tetapi sudah di tempat pengenceran bahan bakar minyak. Faktor utama hal ini terjadi karena jauhnya jarak tempuh dari pusat stasiun pengisian bahan bakar umum, sehingga diperlukanya biaya tambahan untuk mencapai stasiun pengisian bahan bakar umum, oleh karena itu harganya akan berbeda bahkan jauh berbeda .

    Salah satu permasalahan perbedaan harga yang menjadi pemberitaan hangat yaitu harga bahan bakar minyak di Papua yang mencapai Rp.100.000/liter dipengenceran pada tahun 2016 lalu. Maka pemerintah membuat kebijakan BBM Satu Harga di seluruh di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan menyalurkan BBM ke wilayah yang terpencil dengan mengangkutnya menggunakan truk hingga pesawat kecil berbaling-baling/Air Tractor. Hingga kini upaya BBM satu harga terus dilakukan, dimana Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas mencatat, selama 2018 pelaksanaan BBM Satu Harga telah terealisasi sebanyak 131 titik lembaga penyalur yang tersebar di 131 Kecamatan, 90 Kabupaten, dan 26 Provinsi seluruh Indonesia. Dimana 29 penyalur di Pulau Sumatera, 33 penyalur di Pulau Kalimantan, 14 penyalur di Pulau Sulawesi, 11 Penyalur di Pulau Maluku dan Maluku Utara, 26 penyalur di Pulau Papua dan Papua Barat, 14 penyalur di Pulau NTB dan NTT, 1 penyalur di Pulau Bali, dan 3 penyalur di Pulau Jawa dan Madura (sumber : CNBC Indonesia).

    Dengan berjalannya program BBM Satu harga dan telah banyak penyalur BBM resmi yang didirikan,namun tetap saja biaya yang digunakan untuk menyalurkan BBM dari pengolahan tersebut ke tempat penyaluran cukup besar.

    Maka untuk itu, Indonesia juga perlu penggunaan energi baru dan terbarukan untuk mendampingi penggunaan bahan bakar minyak dan energi fosil di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan sumber energi baru dan terbarukan yang melimpah. Bahan bakar minyak bumi dapat digantikan dengan energi seperti biomassa, etanol, biodiesel, biobutanol dan lainnya. Selain itu, penggunaan energi fosil dapat digantikan dengan energi terbarukan berupa energi angin, fotovoltaik matahari, panas matahari, energi panas bumi, energi laut, energi air dan lainnya.

    Menurut data Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan yang dimanfaatkan baru sebesar 2% dengan rincian yaitu energi panas bumi memiliki potensi sumber daya 11,0 GW, menyimpan 17,5 GW, realisasi PLTP 1,949 GW (0,44%); energi air memiliki potensi 75 GW (19,3 GW), realisasi PLTA 5,124 GW dan PLTMH 0,216 GW (1,21%); energi bioenergi memiliki potensi PLT Bio 32,6 GW, BBN 200 ribu Bph, realisasi PLT Bio 1,840 GW (0,42%); energi angin memiliki potensi 60,6 GW, realisasi PLTB 76,1 MW (0,0002%); energi surya memiliki potensi PLTS 207,8 GW.

    Begitu banyak potensi yang dimiliki Indonesia yang harus dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari disamping energi fosil. Misalnya bioenergi yang diperoleh dari proses biogas dengan bantuan bakteri dan terdapat biofuel dari kelapa sawit dan lainnya. Juga contoh lainnya adanya PLTS di Indonesia karena potensi energi surya yang besar di Indonesia terutama Indonesia Timur mengingat Indonesia adalah negara Khatulistiwa.

    Faktor yang menjadi kendala dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan adalah biayanya yang lebih mahal daripada energi fosil yang relatif lebih murah. Dalam pembangunan awal energi terbarukan mahal dan membutuhkan waktu yang lama untuk komersialisasi serta terkendala dalam teknologi. Namun energi baru dan terbarukan merupakan energi bersih dan dapat menanggulangi permasalahan meningkatnya kebutuhan energi untuk kehidupan manusia itu sendiri. Dan dengan potensi yang dimiliki Indonesia maka pengembangan energi baru dan terbarukan harus dilakukan

  • Minyak bumi merupakan salah satu produk pertambangan yang kebutuhannya sangat diperlukan oleh masyarakat di seluruh dunia. Dari segi bentuk fisik, minyak bumi memiliki bentuk cairan yang kental, berwarna coklat gelap, atau kehijauan, atau hitam yang mudah terbakar. Minyak bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Disamping itu minyak bumi juga memiliki julukan ‘emas hitam’ yang disebabkan oleh cairannya yang kental dan juga warnanya yang coklat kegelapan serta kebutuhannya dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh dunia terutama sebagai bahan bakar, baik untuk kendaraan ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya (Nurlita, 2019).


    Salah satu turunan minyak bumi yang saat ini sering digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor adalah bensin atau gasoline. Bensin terdiri dari campuran kompleks dari hidrokarbon yang sebagian besar terdiri dari 4 sampai 10 atom karbon per molekul (Dwi, 2013). Bensin adalah campuran kompleks hidrokarbon yang biasanya mendidih di bawah 355 ° F (180 ° C) atau paling banyak, di bawah 390 ° F atau sekitar 200 ° C (Nibal dkk, 2014). Konstituen hidrokarbon dalam kisaran ini adalah mereka yang memiliki 4 hingga 12 atom karbon dalam struktur molekulnya. Hidrokarbon ini termasuk dalam tiga kategori seperti parafin, olefin dan aromatik (Nibal dkk, 2014) .

     

    Salah satu kriteria yang baik untuk bensin adalah angka oktan atau octane number. Octane Number(ON) adalah ukuran dari bahan bakar bensin untuk tahan terhadap ketukan atau knocking(Marquard dan Bahls, 2015). Dalam menentukan angka oktan, terdapat perbedaan utama antara Research Octane Number(RON) dan Motor Octane Number(MON). Research Octane Number(RON) menjelaskan tentang perilaku bahan bakar di engine pada suhu dan kecepatan yang lebih rendah, dan merupakan upaya untuk mensimulasikan perilaku akselerasi (Marquard dan Bahls, 2015). Motor Octane Number(MON) menggambarkan perilaku bahan bakar di engine pada suhu dan kecepatan tinggi - rentang kecepatan penuh, sebanding dengan melaju cepat di jalan raya. Angka oktan ini umumnya tidak diketahui publik, karena tidak ditentukan di stasiun layanan (Marquard dan Bahls, 2015).


    Namun, menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil, dan meningkatnya pemanasan global dan buruknya kualitas udara yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah alat transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor beberapa tahun terakhir cukup meningkat secara signifikan.

     Jenis Kendaraan Bermotor   Jumlah Kendaraan Bermotor (Unit) 
    2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
     Mobil Penumpang      8.891.041     9.548.866  10.432.259     11.484.514     12.599.038     13.480.973     14.580.666     15.493.068
     Mobil Bis      2.250.109     2.254.406     2.273.821       2.286.309       2.398.846       2.420.917       2.486.898       2.509.258
     Mobil Barang      4.687.789     4.958.738     5.286.061       5.615.494       6.235.136       6.611.028       7.063.433       7.523.550
     Sepeda motor   61.078.188  68.839.341  76.381.183     84.732.652     92.976.240     98.881.267  105.150.082  113.030.793
     Jumlah   76.907.127  85.601.351  94.373.324  104.118.969  114.209.260  121.394.185  129.281.079  138.556.669

    Dari tabel diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dari tahun ketahun, kendaraan bermotor di indonesia terus meningkat. Dengan demikian kebutuhan akan bahan bakar termasuk bensin juga akan terus meningkat. Selain itu, dampak dari penggunaan bahan bakar yang meningkat juga akan menyebabkan emisi gas buang juga semakin meningkat sebagai efek samping dari hasil pembakaran. Emisi Gas Buang adalah zat pencemar udara yang dihasilkan oleh pembakaran pada kendaraan bermotor yaitu CO, CO2, HC dan NOx. Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna karena kurangnya oksigen dalam  ruang bakar atau kurangnya waktu siklus dalam pembakaran. Premium adalah senyawa hidrokarbon (HC), jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya premium yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila emisi HC tinggi, menunjukkan ada 2 kemungkinan penyebabnya yaitu AFR yang tidak tepat (terlalu kaya) atau premium tidak terbakar dengan sempurna (Misfiring) di ruang bakar (Syarifuddin, 2015).

    Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengurangi emisi gas buang dan meningkatkan performa mesin. Sebagai bahan bakar pengganti bensin, bahan bakar campuran bensin-bioethanol dapat meningkatkan kinerja mesin. Aditif yang berbeda diaplikasikan untuk mencapai spesifikasi yang diperlukan dari bensin kelas super yang sangat anti-ketukan yang digunakan saat ini (Ibrahim dkk, 2018). Komponen selektif digunakan sebagai agen antiknock untuk meningkatkan jumlah oktan bensin tanpa timbal dibagi menjadi banyak kelompok: logam, alkohol, aromatik, dan lain-lain (Nibal dkk, 2014). Secara historis, timah telah menjadi sumber penting peningkatan angka oktan. Karena bahaya tetra etil timbal, penggunaannya telah dilarang di hampir semua negara. Oleh karena itu, banyak peneliti-peniliti di seluruh dunia mencari bahan –bahan lain yang dapat digunakan guna untuk meningkatkan kualitas dari bensin.

    Alkohol memiliki angka oktan lebih tinggi daripada bensin biasa. Mereka lebih efektif dalam bensin oktan rendah daripada dalam bensin oktan tinggi. Perilaku alkohol dalam komponen campuran sebagai penyempurnaan oktan bensin tidak diketahui dan literatur subjek ini sedikit (Nibal dkk, 2014). Berdasarkan data hasil percobaan, Bioethanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang paling menguntungkan untuk dicampurkan dengan pertalite dan digunakan pada mesin pembakaran dalam. Selain itu, bahan bakar bioetanol memiliki emisi gas buang yang rendah sehingga ramah terhadap lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Dari segi penggunaan, penyimpanan dan transportasi bahan bakar bioethanol mirip dengan bahan bakar bensin (Ibrahim dkk, 2018).

    Dari hasil analisisa yang telah dilakukan oleh orang, didapatkan kesimpulan bahwa; Hasil percobaan proyek ini untuk metode pengukuran RON menunjukkan analisis bensin yang cepat, akurat, dan andal; Semua komponen kimia selektif bertindak positif untuk meningkatkan jumlah oktan bensin; Octane Booster dari proyek ini adalah Aniline, yang tercatat sebagai RON terbesar; Campuran komponen dibuat dari komponen selektif aktif; termasuk alkohol dan senyawa aromatik; Campuran komponen persiapan terbaik lebih baik bekerja dengan bensin oktan tinggi daripada menggunakan masing-masing komponen saja (Ibrahim dkk, 2018) . Penelitian lagi juga menyebutkan bahwa Pencampuran methanol pada bahan bakar, mengakibatkan terjadinya penurunan emisi gas buang, meningkatnya persentase methanol pada bahan bakar mengakibatkan konsentrasi CO menurun yang disebabkan oleh kandungan oksigen didalam methanol lebih banyak (Syarifuddin, 2015).

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Badan Pusat Statistik. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis, 1949-2017. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/ 1133 .
    2. Dwi, Krisna. 2013. Cara meningkatkan bilangan oktan yang aman. https://bisakimia.com/2013/04/13/cara-meningkatkan-bilangan-oktan-yang-aman/
    3. Ibrahim, Husin dkk. 2018. KINERJA MESIN DAN EMISI GAS BUANG MESIN BENSIN MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR CAMPURAN PERTALITE-BIOETANOL TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT. Piston. 2(2): 40-45.
    4. Nurlita, Shafira. 2019. MINYAK BUMI : Proses Pembentukan, Manfaat, Komposisi, Pengertian. https://thegorbalsla.com/minyak-bumi/. (Diakses pada tanggal 19 April 2019)
    5. Marquard dan Bahls. 2015. Octane Number (RON, MON) & Knock Resistance. https://www.marquard-bahls.com/en/news-info/glossary/detail/term/octane-number-ron-mon.html
    6. Nibal, H. Al-Mashhadani dkk. Improvement of Gasoline Octane Number by Using Organic Compounds. Baghdad Science Journal. 11(2): 502-508.
    7. Syarifuddin, Ahmad. 2015. Pengaruh Methanol Kadar Tinggi Terhadap Performa dan Penurunan Emisi Gas Buang Mesin Bensin dengan Sistem Hot EGR. Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-10 2015.
  •  

    Kick merupakan masuknya fluida yang tidak diinginkan (formasi) disaat pengeboran yang berupa gas, minyak, dan air. Kick dapat menyebabkan ledakan yang luar biasa. Kick yang paling berbahaya adalah Gas Kick. Gas dapat menurunkan densitas dari lumpur yang sedang dalam pengeboran dan menyebabkan ledakan lumpur. Segala macam kick dapat diatasi salah satunya dengan cara mengalihkan fluidanya dengan cara membakar di sumur minyak bumi yang lainnya. Kick bisa terjadi karena tekanan fluida yang tidak diinginkan lebih besar dari tekanan hidrostatis disaat proses pengeboran minyak bumi dan yang akhirnya menyebabkan ledakan atau penyemburan ke luar alat bor. Inilah mengapa pentingnya memantau kenaikan tekanan fluida yang tidak diinginkan dan tekanan hidrostatis disaat proses pengeboran berlangsung. Adanya fluida yang tidak diinginkan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena pemisahan baru terjadi disaat fluida keluar dari pipa pengeboran,maka dari itu perlunya kesigapan dan perhatian yang lebih disaat pengeboran berlangsung dan tidak hanya memperhatikan disaat proses pemisahan minyak dan gas saja, sehingga kesiapan untuk mengantisipasi kick dapat diatasi dengan cepat dan tanggap. Selain perbedaan tekanan fluida yang tidak diinginkan dan tekanan hidrostatis, tinggi kolom lumpur turun mempengaruhi terjadinya kick disaat pengeboran berlangsung. Tinggi kolom turun disebebkan beberapa hal seperti, Lumpur masuk ke dalam fluida formasi yang dikarenakan formasi rekah atau sifat dari lumpur yang tidak sesuai. Formasi rekah karena kesalahan kerja sewaktu proses pengeboran terjadi tidak begitu saja, Squeeze effect atau peristiwa menurunkan alat pengeboran terlalu cepat dan lumpur yang kental membuat Squeeze effect (efek tekan), pemompaan yang mengejut sehingga menimbulkan tekanan yang tinggi, lalu kesesuaian sifat lumpur yang digunakan perlu diperhatikan juga, seperti viscositas lumpur, berat jenis lumpur dan gelstregth. Yang ketiga yang dapat menyebabkan kick adalah tekanan yang abnormal dari fluida yang tidak diinginkan yang biasanya disebabkan oleh patahan, struktur reservoir yang rendah, massive shale, lensa lensa pasir, dan koneksi tekanan antar lapisan. Tanda-tanda terjadinya kick terdiri dari beberapa gejala seperti, drilling break, kecepatan aliran lumpur bertambah, berat jenis lumpur turun, stroke pemompaan lumpur bertambah, tekanan sirkulasi lumpur turun, naik turunnya temperature lumpur, gas cut mud, dan beberapa gejala gas di sumur dan tripping. Gejala gas dalam sumur seperti pemboran menembus fluida formasi yang mengandung gas, connection gas, sloughing shale, shale density, flow properties, dan chloride content. Dan telah ada tesis yang menyatakan dapat mendeteksi kick secara automatis dan menghandle pengaturan tekanan pada sistem drilling oleh Espen Hauge. Pengatur tekanan pada sistem drilling akan mengatur dalam berbagai alat atau well control. Well control mengatur beberapa bagian seperti drilling break (meningkatkan penetrasi pada alat bor), flow increase, pit gain, mengurangi sirkulasi tekanan dan menaikan kecepatan pompa pada pompa utama, well flows with rig pumps off, increase in rotary torque. Dengan bantuan alat semacam ini akan memudahkan dalam mendeteksi segala macam bentuk kick terutama gas kick yang mana menyebabkan semburan yang cukup membuat kerugian  yang besar dan sudah banyak kick yang terjadi disaat pengeboran berlangsung dan membuat semburan yang meledakan sumur minyak bumi dan gas dan salah satu insiden yang terjadi adalah ledakan sumur minyak Sukowati akibat gas kick. Di thesis ini, melakukan uji coba dengan gas kick dengan berbagai teknik dan dapat dibilang cukup terjamin.

  • foto : shutterstock.com

    foto: shutterstock

    Bahan bakar Migas (Minyak dan Gas) merupakan  jenis bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui, meskipun dapat dinikmati secara melimpah pada saat ini nyatanya cadangan migas di seluruh penjuru bumi kian menipis. Suatu negara tidak dapat bergantung hanya kepada suatu ekosistem, terutama yang sumbernya tersedia terbatas di alam. Jika tidak mampu untuk mencari alternatif lain atau mencari keragaman, ekonomi suatu negara terancam hancur dan kolaps meskipun dalam kurun waktu puluhan tahun.

    Indonesia saat ini masih sangat bergantung dengan sumber energi fosil, pada tahun 2014 kementrian ESDM mencatat bahwa energi fosil masih mendominasi dalam konsumsi energi primer (tanpa biomasa tradisional), di mana konsumsi minyak bumi 88 juta TOE atau 41% dari total konsumsi energi nasional, diikuti batubara dengan 32,3% biomasa modern di 2,9% , panas bumi sebesar 1,1% dan listrik impor 0,8 % (Sumber : Indonesia Energi Outlook)

    Memasuki masa emasnya, sekitar tahun 1970-1990 produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,3 juta – 1,6 juta barrel per hari (Sumber :Reforminer Institute) . kemudian mulai memasuki tahun setelahnya sampai sekarang, produksi minyak kian menurun. Penyebabnya adalah karena natural production decline rate Indonesia sangat tinggi, mencapai angka 28 % per tahun. Ditambah 72 % produksi minyak nasional berasal dari blok migas yang rata rata sudah berumur 30 tahun keatas (Sumber: Kompas.com).

    Dikala menaiknya tingkat kebutuhan warga akan BBM, produksi BBM terus menurun. Pada tahun 2017 produksi minyak indonesia menyentuh angka 950 ribu barrel per hari sementara konsumsi akan minyak meningkat sebesar 1,65 juta barrel per hari, dapat disimpulkan bahwa angka defisit sudah mencapai 700 ribu per hari (Sumber: BP Global Company). Hal ini yang mendorong negara kita melakukan impor minyak secara besar-besaran dan memasuki tahap yang mengkhawatirkan.

    Dewasa ini, sudah banyak ditemukan alternatif pengganti BBM. Namun kebanyakan dari alternatif tersebut belum dapat kita olah dengan baik atau belum adanya infrastruktur yang dapat mendukung penggunaan energi alternatif tersebut. Sebut saja Bioethanol contohnya, Bioethanol mudah untuk diproduksi namun untuk menjadikannya Bioethanol Fuel Grade (BFG) yang memiliki tingkat kemurnian 99%, mengakibatkan harga jual nya melambung tinggi. Jika ethanol dengan kemurnian 95% yang dijual di toko bahan kimia dihargai Rp 30.000 per liter, maka untuk BFG dengan kemurnian 99% pastinya akan melebihi harga BBM dengan selisih perbedaan sangat tinggi.

    Alternatif lain adalah Compressed Natural Gas (CNG). CNG atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Bahan Bakar Gas (BBG) sebenarnya sudah mulai diterapkan di armada bus Transjakarta dan sebagian angkutan umum serta kendaraan pribadi di wilayah Jakarta. Namun tetap saja belum dapat menggantikan BBM sebagai konsumsi energi primer, Justru armada Transjakarta ber bahan bakar gas dikurangi akhir akhir ini. Beberapa alasannya adalah, masih kurangnya infrastruktur SPBG yang tersedia, kemudian tangki penyimpanan yang  kuat, karena BBG bertekanan tinggi. Opini publik yang beranggapan bahwa BBG ‘kurang aman’ rentan terjadi kecelakaan diakibatkan oleh BBG itu sendiri membuat BBG masih belum diminati.

    Mobil listrik digadang gadangkan sebagai cara pemerintah untuk menggantikan mobil konvensional ber bahan bakar minyak. Peraturan Presiden mengenai Mobil Listrik pun sudah mulai diterbitkan sebagai bukti keseriusan pemerintah untuk menggarap mobil listrik. Jika dibandingkan dengan mobil BBM, mobil listrik hampir tidak mengeluarkan emisi dan harga untuk pengisian bahan bakar listrik di Stasiun Pengisian Listrik Umum(SPLU) relatif lebih murah dibandingkan BBM.

    Dibalik keuntungan memakai mobil listrik perlu dicatatkan juga bahwa untuk pengadaan SPLU diperlukan Pembangkit Listrik yang lebih besar. Saat ini kebanyakan pembangkit listrik di Indonesia menggunakan PLTU yang berbahan bakar fossil, belum lagi  untuk melakukan pengisian di rumah sendiri menggunakan listrik dari National Grid. Menurut data terbaru dari Digest of UK Energy Statistics, dinyatakan bahwa 51 persen listrik National Grid berasal dari hasil pembakaran fosil, seperti gas dan batubara. 21 persen lain berasal dari tenaga nuklir, dan sisanya berasal dari sumber yang dimutakhirkan (Dikutip dari https://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil /17/12/04/ozcvui-ini-kelemahan-mobil-listrik  )

    Menghadapi hal seperti ini, pemerintah juga harus mempersiapkan infrastruktur untuk dapat menyokong keberlangsungan mobil listrik, dengan cara pengadaan dan penambahan pembangkit listrik yang tidak bersumber dari hal yang tidak dapat diperbaharui. Seperti PLTA, PLT Angin, PLTO, PLTPS, dll harus diperbanyak dan dijadikan sebagai sumber energi listrik utama.

  • Biodiesel dari Pemanfaatan Minyak Biji Bunga Matahari sebagai Energi Alternatif Pengganti Minyak Bumi

    Oleh : Tri Utami

    Universitas Sriwijaya

       

         Minyak Bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang berasal dari fosil dan tidak bisa diperbaharui. Kebutuhan masyarakat terhadap minyak bumi semakin meningkat setiap tahunnya, sedangkan ketersediaan minyak bumi di Indonesia pun semakin berkurang, dan minyak bumi juga tidak bisa diperbaharui. Kelangkaan minyak bumi dan meingkatnya permintaan pasar terhadap minyak bumi, ditambah lagi kenaikan harga minyak dunia menyebabkan terjadinya pula kenaikan harga minyak bumi di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah diharuskan melakukan kebijakan impor minyak, sementara di sisi lain kelangkaan minyak bumi perlu segera diatasi, salah satunya dengan melakukan penghematan terhadap penggunaan minyak bumi ini.

     Salah satu upaya untuk menghemat penggunaan minyak bumi adalah dengan menciptakan energi alternatif sebagai bahan pengganti yang bisa diperbaharui. Energi alternatif merupakan istilah untuk semua energi yang bisa digunakan untuk menggantikan bahan bakar konvensional. Hal ini merujuk pada teknologi untuk menciptakan bahan bakar pengganti minyak bumi, karena minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Selain itu, energi alternatif merupakan energi yang dapat digunakan berulang-ulang, jumlahnya berlimpah, proses pengolahannya tidak merusak alam, tidak berbahaya bagi lingkungan, aman, tidak menimbulkan penyakit akibat pengolahan maupun penggunaannya, dan juga ramah lingkungan. Ada berbagai macam energi alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan penggunaan minyak bumi. Salah satunya yaitu biodiesel. Biodiesel merupakan salah satu energi alternatif energi terbarukan. Biodiesel dapat membantu meminimalisir ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil (minyak bumi). Biodiesel merpakan produk dari reaksi kimia dari minyak nabati yang memiliki sifat seperti solar. Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dilakukan dengan mengkonversi trigliserida (komponen utama minyak nabati) menjadi metil ester asam lemak, dengan memanfaatkan katalis pada proses metanolisi atau esterifikasi. Teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu mengurangi impor Bahan Bakar Minyak, meningkatkan kesempatan kerja dalam artian membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan telnologi pertanian dan industri di dalam negeti, memperbesar basis sumber daya bahan bakar minyak nabati, mengurangi pemanasan dan pencemaran udara karena biodiesel ini merupakan energi yang ramah lingkungan. bahan bakar ini ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan solar. Selain itu, biodiesel ini memiliki cetane number yang lebih tinggi dan pemanasan lebih sempurna.  Minyak nabati tersebut bisa didapat dari berbagai jenis tanaman seperti tanaman jarak, randu, kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kemiri, kacang tanah, biji bunga matahari, dan lain sebagainya.

         Kandungan minyak pada biji bunga matahari cukup besar yaitu sekitar 48%-52%, namun hanya dimanfaatkan sebagai minyak bumi. Di sisi lain, kandungan minyak yang cukup besar dari biji bunga matahari ini bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi yaitu biodiesel. Minyak biji bunga matahari merupakan trigliserida yang tersusun atas asam lemak dan gliserol yang memiliki rantai karbon panjang. Biji bunga matahari ini juga mengandung 45%-50% lipid, sehingga memungkinkan untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Produk yang ingin diperoleh dari proses pengolahan biji bunga matahari ini adalah metil ester, yang bisa digunakan untuk menggantikan minyak bumi.  Metil ester merupakan bahan kimia dasar turunan minyak dan lemak, yang diproduksi dengan proses alkoholisis, dimana minyak atau lemak tersebut direaksikan dengan methanol atau biasa disebut dengan proses methanolisis. Biodiesel bisa dibuat dari pengolahan minyak biji bunga matahari dengan proses foolproof. Proses foolproof ini terdiri dari empat tahap. Minyak yang dihasilkan dari biji bunga matahari kemudia diekspor sebagai crude oil (minyak mentah) atau bisa diartikan dimurnikan pada tahap pertama, yaitu proses degumming, yakni dengan menamnbahkan air panas dan dikombinasikan dengan centrifuge. Minyak tersebut kemudian dicuci dan diharumkan dengan proses pemanasan atau proses pendingingan dan penyaringan akhir, yang tidak membutuhkan proses hidrogenasi. Proses degumming ini berguna untuk memisahkan gum yang berupa phospatida dengan tambahan asam phospat (H3PO4). Tahap yang kedua adalah tahap esterifikasi, yaitu penambahan larutan NaOCH3 10% untuk menetralkan kandungan asam lemak bebas. Kemudian tahap yang ketiga adalah proses transerifikasi yang berguna untuk mereaksikan triglisarida dalam minyak dengan methanol membentuk gliserin dan metil ester yang digunakan sebagai biodiesel. Kemudian untuk tahap yang terakhir adalah tahap refinery atau tahap pemurnian biodiesel untuk memperoleh biodisel dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

         Berdasarkan uraian diatas, dapat kita lihat bahwa permintaan pasar yang tinggi terhadap minyak bumi yang langka dapat diatasi dengan menggantinya dengan energi alternatif. Ada banyak jenis energi alternatif, yaitu methanol, biomassa, biodiesel dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua jenis energi itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang menggunakan minyak bumi untuk lebih menghemat penggunaan dan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar yang bisa digunakan untuk menggantikan penggunaan minyak bumi.

     

     

  • Biodiesel atau biosolar merupakan bahan bakar alternatif yang menjanjikan yang dapat diperoleh dari minyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak bekas melalui esterifikasi dengan alkohol (Özgul dan Türkay 1993; Pamuji, dkk. 2004; Gerpen 2004). The American Society for Testing and Materials (ASTM) (1998) mendefinisikan biodiesel sebagai mono-alkil ester yang terdiri dari asam lemak rantai panjang, didapat dari lemak terbarukan, seperti minyak nabati atau lemak hewani. Mono-alkil ester dapat berupa metil ester atau etil ester, tergantung dari sumber alkohol yang digunakan. Metil ester atau etil ester adalah senyawa yang relatif stabil, berwujud cairan pada suhu ruang (titik leleh antara 4°-18°C), nonkorosif, dan titik didihnya rendah (Swern, 1982). Beberapa contoh jenis biji-bijian yang terbukti bisa diproses menjadi biodiesel adalah kemiri, biji jarak pagar, nyamplung, kacang tanah, biji kapuk dan masih banyak lagi.

    Sampai saat ini telah banyak penelitian tentang biodiesel dikarenakan menurut prediksi bahan bakar fosil akan segera habis dalam kurun waktu 40 sampai 70 tahun ke depan. Bahkan Indonesia yang sejak dulu terkenal sebagai negara pengekspor minyak bumi telah menjadi salah satu negara pengimpor minyak bumi. Namun pemerintah saat ini telah membuat program yang mewajibkan bahan bakar minyak jenis solar dicampur dengan minyak kelapa sawit.

    Berdasarkan rangkuman dari Okezone Finance, berikut adalah fakta – fakta tentang biodiesel di Indonesia:

    1. Indonesia Bisa Hemat Devisa Hingga Rp79,2 Triliun jika Menggunakan Biodiesel

    Penggunaan solar dengan kandungan minyak kelapa sawit sebesar 20% atau B20 diklaim bisa menghemat devisa negara hingga USD21 juta per hari setara Rp302,4 miliar (kurs Rp14.400 per USD). Sebab, dengan penggunaan B20 pemerintah bisa menekan impor solar sekaligus meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, jika dihitung dalam satu tahun, maka penghematan cadangan devisa sebagai imbas penggunaan B20 sebagai bahan bakar setara dengan USD5,5 miliar setara Rp79,2 triliun (kurs Rp14.400 per USD). Dengan syarat, penggunaan B20 sudah dilakukan sepenuhnya oleh sektor kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO) dan non PSO.

    1. Pemerintah Menambah Target Biodiesel Jadi 3,5 juta per Tahun

    Pemerintah untuk tahun ini menambah target penggunaan biodiesel dari 2,5 juta per tahun menjadi 3,5 juta per tahun. Namun, setelah ditambah dengan pertambangan ini maka proyeksi realisasi akan mencapai 3,35 juta kilo liter per tahun. Maka untuk mencapai target maka pihaknya akan memperluas penggunaan biodiesel.

    1. Biodiesel Sasar KAI dan Sektor Tambang

    Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, setelah memperluas penggunaan ke sektor transportasi yakni ke KAI, kali ini pihaknya akan menyasar sektor pertambangan. 

    1. Pencampuran Biodiesel Akan Diperluas dari Industri hingga Pertambangan

    Pemerintah terus mendorong pencampuran bahan bakar nabati (BBN) dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebesar 15%. Mandatori penggunaan biodiesel akan diperluas untuk seluruh sektor, yakni industri, transportasi, dan pertambangan. Menurut  Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridha Mulyana, total konsumsi solar pada seluruh sektor mencapai 33-35 juta kiloliter (kl). Sedangkan total realisasi pencampuran biodiesel 15% baru mencapai 2,86 juta kiloliter untuk sektor transportasi dan per tambangan. Biodiesel juga nantinya akan menyasar ke sektor industri semen, besi dan baja dan akan segera ditindak lanjuti.

    1. Mencampur Solar dengan Minyak Kelapa Sawit dapat Menghilangkan Garansi Mesin Pabrik

    Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengungkapkan bahwa ada keluhan yang berasal dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta industri pertambangan. Mereka mengeluhkan bahwa tidak semua mesin lama memiliki kualifikasi untuk menggunakan B20 sebagai bahan bakar. Pasalnya, komponen mesin lama tidak dirancang untuk B20. Ia juga mengatakan beberapa mesin lama pada perusahaan manufaktur bahkan dapat kehilangan garansinya apabila menggunakan B20.

    1. Gugat AS, Biodiesel Dikenai Pajak Lebih Tinggi

    Departemen Perdagangan AS resmi mengerek tarif bea masuk biodiesel asal Indonesia dari 92,52% menjadi 276,65%. Kenaikan tarif bea masuk secara signifikan itu merupakan bagian dari tindakan pengamanan perdagangan yang dilakukan pemerintah AS terkait antidumping dan antisubsidi.

    Berdasarkan fakta – fakta tersebut dapat dilihat bahwa biodiesel merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi kepunahan bahan bakar fossil di masa yang akan datang bahkan dapat menggantikan bahan bakar fossil jika telah habis. Lalu mengapa biodiesel? Hal ini karena biodiesel memiliki beberapa keunggulan seperti ramah lingkungan, karena biodiesel memberi polusi yang lebih rendah dibandingkan solar dari minyak bumi, biodiesel juga tidak beracun, tidak mengandung sulfur dan senyawa aromatik dan bisa diuraikan oleh lingkungan. Studi menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida biodiesel 78,5% lebih rendah dibandingkan solar. Lalu karena biodiesel merupakan energy terbarukan, jadi bahan bakunya akan selalu tersedia tidak seperti bahan bakar fossil. Selain sebagai bahan bakar kendaraan, biodiesel juga bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk pemanas rumah, bahan bakar pembangkit listrik, serta sebagai pelarut. Produksi biodiesel membutuhkan energi 70-90% lebih sedikit dibandingkan energi yang dibutuhkan untuk membuat solar. Dan masih banyak lagi keuntungan dari biodiesel,

    Namun, biodiesel juga memiliki beberapa kekurangan seperti sama dengan solar, jika mencemari perairan biodiesel tetap akan membahayakan ekosistem air karena sifatnya sebagai minyak. Selain itu dibutuhkan lahan yang luas untuk menanam tumbuhan yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Dan walaupun sudah bisa digunakan dalam bentuk murni, biodiesel kebanyakan masih dipergunakan sebagai bahan campuran. Alasannya karena mesin – mesin dari kendaraan saat ini dan juga mesin – mesin lainnya belum mampu (atau disesuaikan) dengan karakter bahan bakar nabati itu. Apalagi bahan bakar masa depan ini memiliki titik beku yang lebih rendah daripada bahan bakar minyak. Ia akan lebih cepat membeku. Hal ini akan menyulitkan bagi negara – negara yang memiliki empat musim dimana bisa saja bahan bakar di tangki akan membeku saat temperatur udara turun. Tetapi apapun kelemahan biodiesel, saat ini kita masih belum memiliki banyak pilihan sementara persediaan bahan bakar minyak bumi semakin menipis, karena itu lah biodiesel tetap bisa menjadi pilihan untuk menghindari masalah di masa yang akan datang.

     

    Referensi:

    1. https://economy.okezone.com/read/2018/07/28/320/1928599/6-fakta-dari-biodiesel-solar-yang-dicampur-dengan-minyak-kelapa-sawit?page=2

    2. https://warstek.com/2015/06/02/biodiesel/

    3. http://www.lingkungan.lovelybogor.com/biodiesel-biosolar-bahan-bakar-nabati/

  •  Indonesia merupakan negara dengan cadangan minyak bumi relatif besar, tak heran jika banyaknya cadangan minyak bumi membuat nilai ekspor minyak bumi di Indonesia tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah minyak bumi yang di ekspor dari Indonesia ke beberapa negara tujuan utama pernah menyentuh angka tertinggi sebesar 32.857 ribu ton dengan nilai Free On Board(FOB) sebesar 5.714,7 juta US Dollar pada tahun 2004. Semakin bertambahnya tahun membuat nilai ekspor minyak bumi Indonesia terus berkurang, data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan angka ekspor minyak bumi di Indonesia sebesar 13.570,7 ribu ton dengan nilai Free On Board (FOB) sebesar 5.354,9 juta US Dollar pada tahun 2017. Ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah tingginya permintaan minyak bumi yang mengakibatkan menipisnya cadangan minyak bumi.

    Produk-produk yang dihasilkan dari fraksionasi minyak bumi yaitu gas, nafta, gasolin (bensin), kerosin, solar, pelumas, dan residu. Produk yang paling sering digunakan oleh masyarakat umum sebagai kebutuhan sehari-hari adalah gasolin  (bensin) dan solar, kedua produk ini adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor yang digunakan untuk kebutuhan transportasi.

    Namun, seiring bergantinya tahun dan banyaknya jumlah kendaran pribadi di Indonesia membuat produksi BBM tak mencukupi dengan kebutuhan masyarakat, akibatnya persediaan BBM semakin menipis dan harganya yang relatif tinggi. Tak jarang jika ada beberapa SPBU di beberapa tempat kehabisan stok BBM dan efeknya berimbas ke masyarakat yang kesulitan untuk mencari dan membeli BBM untuk kebutuhan transportasi sebagai penunjang perekonomian mereka. Hal ini sangat tidak menguntungkan.

    Pemerintah melakukan berbagai macam usaha untuk mencukupi kebutuhan BBM di Indonesia namun usaha tersebut tidak efektif untuk menutupi keterbatasan kesediaan BBM untuk didistribusikan, salah satunya adalah mengadakan BBM bersubsidi, (Ayuningtias, 2013) berpendapat bahwa Upaya pemerintah untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sejauh ini hanya bersifat tambal sulam. Pemerintah kurang kreatif dalam upaya menurunkan besaran subsidi BBM dan pemerintah harus  membuka kembali opsi kenaikan harga BBM bersubsidi. Pemberian dana subsidi BBM selama ini tidak tepat sasaran.

    Dari permasalahan diatas, ada beberapa alternatif lain untuk mecukupi kebutuhan BBM bagi masyarakat dan alternatif ini berpotensi untuk menggantikan BBM dari minyak bumi jika cadangan minyak bumi di Indonesia semakin menipis dan cenderung tidak dapat diproduksi lagi. Salah satu Alternatif ini bernama Biofuel atau Bahan Bakar Nabati (BBN). Bahan Bakar Nabati (BBN) merupakan sumber energi yang paling menjanjikan sebagai substitusi BBM fosil. oleh karena itu biofuel sering disebut pula energi hijau karena asal-usul dan emisinya yang bersifat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan peningkatan pemanasan global secara signifikan (Wijaya, 2017). Produk-produk yang dihasilkan dari Biofuel yang menjadi alternatif pengganti BBM biasa adalah Biodiesel dan Biogasolin.

    Biodiesel didefinisikan sebagai monoalkil ester dari rantai panjang asam lemak yang diturunkan dari sumber yang dapat diperbaharui seperti minyak nabati dan hewani, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Bahan-bahan mentah untuk pembuatan biodiesel merupakan trigliserida-trigliserida, bahan mentah pembuatan biodiesel adalah asam-asam lemak yang merupakan produk samping industri pemurnian (refining) lemak dan minyak-lemak. Minyak dan lemak merupakan trigliserida, karena minyak dan lemak membentuk ester dari 3 molekul asam lemak yang terikat pada gliserol.

    Biogasolin merupakan gasoline yang dibuat dari lemak atau minyak. Proses pembuatan biogasolin umumnya dilakukan dengan menggunakan metode hidrorengkah (hydrocracking). Rekasi hidrorengkah merupakan reaksi hidrogenasi pada proses katalitik dimana di dalam prosesnya memerlukan suatu katalis untuk mengikat hidrogen. Katalis yang digunakan dalam hidrorengkah harus memiliki 2 fungsi, situs asam mengkatalisis reaksi perengkahan dan situs logam mengkatalisis hidrogenasi. Kehadiran logam transisi pada material padatan seperti zeolit akan meningkatkan situs asam Lewis. Situs ini akan menangkap atom H dari gas hidrogen yang akan ditransfer pada senyawa yang akan direngkah. Selanjutnya atom H tersebut akan tersubstitusi pada senyawa hidrokarbon yang telah direngkah pada situs asam Bronsted pada katalis. Reaksi perengkahan pada ikatan C-C dengan pembentukan karbokation (karbenium dan karbonium ion) dikatalis suatu asam Bronsted dan situs asam Lewis pada padatan asam seperti SiO2 dan Al2O3 ataupun bentonit. Pada proses sintesis biogasolin dari trigliserida biasanya tidak dihasilkan produk tunggal, namun ada beberapa produk fraksi berat yang ikut dalam hasil. Dengan menggunakan teknik distilasi fraksinasi maka produk ringan (biogasolin) dapat dipisahkan dari campuran (Wijaya,2017).

    kehadiran Biodiesel dan Biogasolin tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Krisis energi yang disebabkan oleh kurangnya pasokan BBM dari minyak bumi membuat masyarakat menjadi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan transportasi kini dapat diatasi dengan adanya produk dari Biofuelini. Saat ini Biofuel telah digunakan di berbagai negara, industri Biofuel tersebar di Eropa, Amerika dan Asia. India, misalnya mengembangkan biodiesel dari tanaman jarak pagar (Jatropha). Kebanyakan biofuel dipakai untuk transportasi otomotif. India mentargetkan penggunaan 5% bioetanol sebagai bahan bakar transportasi, sementara cina sebagai prodesen utama etanol di Asia mentargetkan 15% bioetanol sebagai bahan bakar transportasinya pada tahun 2010. Biofuel dapat diproduksi dari sumber-sumber karbon dan dapat diproduksi dengan cepat dari biomassa. Sebagai Negara agraris, Indonesia sangat potensial mengembangkan industri biofuel nya sendiri. Pertama, bahan baku berupa tanaman energi tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Produksi tanaman energi  dari tahun ke tahun juga cenderung meningkat sehingga kita tidak perlu kawatir kekurangan sumber energi nabati ini (Wijaya, 2011).

    Biofuel memiliki keunggulan dibandingkan dengan BBM dari minyak bumi, diantaranya adalah biaya produksi lebih rendah, emisi pembakaran yang lebih ringan dibandingkan BBM dari minyak bumi sehingga gas yang dikeluarkan lebih bersih dan lebih ramah lingkungan, serta harga jualnya yang sedikit lebih murah, Kini penjualan Biofuel di Indonesia sudah dilaksanakan, meskipun penjualannya saat ini belum mencapai target maksimal, Biofuelini sangat berpotensi untuk memenuhi kebutuhan transportasi bagi masyarakat di masa yang akan datang.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ayuningtias, R., Murti, T. 2013. Pemerintah Kurang Kreatif Kendalikan Konsumsi BBM. https://id.beritasatu.com/energy/pemerintah-kurang-kreatif-kendalikan-konsumsi-bbm/74732.
    2. Badan Pusat statistik. 2019. Ekspor Minyak Bumi Mentah Menurut Negara Tujuan Utama 2000-2017. https://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/1011/ekspor-minyak-bumi-mentah-menurut-negara-tujuan-utama-2000-2017.html
    3. Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jendral Minyak dan Gas Bumi. Konsumsi / Penjualan BBM : http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=konsumsiBbm/index
    4. Wijaya, K. 2011. Biofuel dari Biomassa. https://pse.ugm.ac.id/biofuel-dari-biomassa/. Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
    5. Wijaya, K. 2017. Peran Riset Biofuel Sebagai Energi Baru dan Terbarukan untuk Penguatan Literasi Kimia di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Kimia UNY 2017 : Yogyakarta

     

     

     

  •  

    Biogas Sebagai Penggerak Turbin Rakyat Miskin

    Indonesia merupakan negara yang kaya akan suber daya alamnya. Selain itu Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan kekayaan hutan yang berlimpah serta iklim tropis yang membuatnya sangat cocok  untuk berbagai macam hewan ternak. Tanah yang luas dan subur, serta iklim tropis, membuat  kebanyakan  masyarakat Indonesia mencari nafkah sebagai petani dan juga peternak. Indonesia juga memiliki sumber daya energi yang sangat melimpah seperti minhnyak bumi, batu bara, dan gas alam. Sumber daya ini sangat penting bagi Indonesia sebagai sumber energi utama. Dalam penggunaannya sumber energi ini dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, bahan bakar industry, transportasi, bahan baku industri seperti industri petrokimia, dan bahkan diekspor sebagai pendapatan negara. Indonesia sangat bergantung terhadap energi konvensional ini, bahkan terlalu bergantung padanya. Jumlah warga negara yang tinggi juga merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia.

    Tetapi dibalik semua itu masih banyak kekurangan pada negeri ini seperti, jumlah warga negara yang tinggi menyebabkan pemerataan yang sulit dicapai sehingga warga desa banyak yang terbelakang karena kurangnya pendidikan dan banyak juga warga yang miskin karena kurangnya lapangan pekerjaan. Kebutuhan  masyarakat juga sulit terpenuhi salah satunya kebutuhan energi. Berdasarkan data kementrian ESDM tahun 2018 konsumsi energi Indonesia pada 2017 mencapai 1,23 miliar Barrels Oil Equivalent (BOE) naik 9% dari tahun sebelumnya. Dengan kebutuhan energi yang besar ekonomi Indonesia jadi semakin terpuruk akibat dari naiknya harga minyak mentah jenis Brent hingga ke US$ 85/barel. Apalagi kerena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui energi konvensional yang kita gunakan sebagai sumber energi utama dapat habis dalam waktu dekat.

    Maka dari itu kita perlu mencari alternatif energi yang baru seperti energi terbarukan yang memanfaatkan proses alam yang berkelanjutan untuk kedepannya. Biogas merupakan energi yang sangat potensial untuk mendukung penggunaan energi di Indonesia sendiri. Dengan banyaknya peternak yang ada di Indonesia, maka limbah kotoran yang  dihasilkan juga melimpah. Kotoran ini merupakan sumber dari bahan baku untuk menghasilkan biogas. Sehingga selain menciptakan energi baru biogas juga dapat menjadi solusi dari pencemaran limbah kotoran ternak seperti ungkapan membunuh dua burung dengan satu batu. Oleh karena itu disini penulis membuat sistem yang akan sangat bermanfaat bagi Indonesia kedepannya sehingga dapat mengatasi masalah-masalah diatas.

    Sistem yang akan dibuat merupakan kerja sama antara peternak, pemerintah, dan pertamina. Pertama pemerintah akan memberikan alat digester kepada para peternak untuk memproduksi biogas. Biogas yang diproduksi akan di diambil oleh pertamina yang nantinya dimurnikan dan diproses sebagai bahan bakar penggerak turbin gas untuk membangkitkan generator. Listrik yang diproleh dari turbin ini akan didistribusikan kemasyarakat miskin sebagai bentuk subsidi.

    Sistem ini akan dilakukan di daerah Jawa Timur karena berdasarkan data yang diproleh dari Databoks bahwa jumlah sapi potong terbanyak terdapat di Jawa Timur yaitu dengan jumlah 4,5 juta inilah alasan penulis memilih Jawa Timur sebagai tempat dilaksanakannya sistem ini.

    Biogas merupakan energi yang dihasilkan dari gas hasil fermentasi bahan organik yang diproses oleh bakteri metanogen. Proses fermentasi berlangsung di dalam reaktor biodigestersecara alami sehingga proses yang dilakukan tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan biaya yang tinggi. Mikroba (bakteri) yang berfungsi untuk menguraikan bahan organik juga dapat terbentuk secara alami asalkan kondisi biodigesterterpenuhi untuk tumbuhnya bakteri tersebut baktri yang dibutuhkan merupakan bakteri metanogen yang berasal dari rumen sapi.

    Proses pembentukan biogas

    Pertama peternak akan mengumpulkan kotoran sapi yang ditampung di reservoir dan dicampur dengan air dengan rasio 50:50 reservoir akan dilengkapi dengan pengaduk sederhana. Setelah kotoran tercampur rata dengan air kotoran akan masuk ke digester. Pada digester akan terjadi fermentasi oleh bakteri yang akan menghasilkan gas metan 50-70% dan CO2 yang akan terbentuk setelah 10 hari dan pembentukan metan ini akan terus berlangsung hingga bakteri yang ada pada digester mati kehabisan makanan. Digester ini dapat dibuat continue, batch ataupun semibatch dengan mengatur kotoran sapi yang masuk dan lama waktu didalam digester, karena bakteri yang ada didalam digester tidak akan mati bila tidak kekurangan makanan (C,N,O,H). digester akan dilengkapi dengan preassure gauge untuk mengukur berapa banyak methan yang sudah terbentuk. Setelah methan terbentuk akan dipurifikasi sederhana dengan air untuk penghilangan CO2 dan H2S yang terkandung didalam biogas.Purifikasi ini dilakukan untuk memudahkan pembawaan metan ke unit pengolahan pertamina, karena bila tidak dipurifikasi terlebih dahulu kandungan asam H2S dan CO2 akan menyebabkan korosif pada tangki. Selanjutnya slurry sisa proses akan ditampung yang nantinya akan dimanfaatkan untuk membuat pupuk sehingga proses ini tidak akan menghasilkan limbah sedikitpun pada pengolahannya.

    Gambar ini menunjukan lokasi peternakan yang ada di Jawa Timur, peternakan yang akan diambil memiliki jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain untuk mempermudah pengumpulan gas metan oleh pertamina. Pertamina akan mengumpulkan metan yang dijadikan liquid terlebih dahulu dengan meggunakan tekanan tinggi menjadi LNG agar tangki yang dibutuhkan lebih sedikit. Mobil tangki akan digunakan untuk membawa hasil metan yang diproleh dari peternakan.

    Sistem ini akan membantu konsumsi energi di Indonesia untuk mengatasi cadangan minyak Indonesia yang semakin menipis. Penggunaan biogas di Indonesia sendiri masih terbatas pada bahan bakar kompor saja dan masih belum maksimal. Padahal satu 1 ekor sapi menghasilkan kotoran 25 kg/ekor maka dari 411 ekor sapi dapat menghasilkan 10.275 kg dengan kandungan bahan kering sebesar 2.055 kg. maka akan menghasilkan biogas 82,2 m3/hari. Sedangkan setiap 1 m3 biogas menghasilkan 4,7 kWh. Oleh karena itu dari kotoran dari 441 ekor sapi berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 386,6 kWh/ hari. Menurut Hardianto dkk (2000). Dan dengan jumlah sapi sebanyak 4,5 juta maka kita bisa menghasilkan biogas sebannyak 838.775,51 m3/hari dan energi listrik sebesar 3.944.897,959 kWh/hari.

    Berdasarkan data yang saya peroleh dari Databoks penggunaan listrik perkapita pada tahun 2017 mencapai 1.012 kWh/tahun atau 2,81 kWh/hari dan selalu meningkat dari tahun tahun sebelumnya. Dengan jumlah masyarakat Indonesia yang banyak maka energi minyak bumi, gas alam dan, batu bara yang ad di Indonesia akan semakin menipis karena terbebani tetapi dengan menggunakan energi biogas dari peternakan di JawaTimur maka kita dapat menghidupkan listrik 1.403.878 rumah di Jawa Tengah dan pemerintah dapat memberikan jumlah ini sebagai subsidi kepada keluarga kurang mampu didarerah Jawa Tengah. Kedepannya semoga kita dapat menerapkan sistem ini di seluruh daerah di Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik lagi dan dapat digunakan untuk di pedesaan yang masih kekurangan listrik dan sumber energi.


    DAFTAR PUSTAKA

    Suyitno, dkk.2010. Teknologi Biogas. Graha Ilmu: Yogyakarta.

    Hardianto ,dkk.2000. Pengkajian Teknologi Usaha tani Terpadu Tanam – Ternak di Lahan Kering. Prosiding Seminar dan Ekspose Hasil Penelitian/Pengkajian BPTP Jawa Timur, ISBN: 979-8094-86.7.hal 244-256.

    Oktavia, Indri. 2016. Pemanfaatan Teknologi Biogas sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif di Sekitar Wilayah Operasional PT. Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field. ISSN: 2528-0848. Vol. 1 (1): 32-36.

    Sanjaya, Denta, dkk. 2015. PRODUKSI BIOGAS DARI CAMPURAN KOTORAN SAPI DENGAN KOTORAN AYAM. Jurnal Teknik Pertanian LampungVol. 4No. 2: 127-136.

    Dkatadata.2018. Berapa Konsumsi Energi Nasional?. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/10/berapa-konsumsi-energi-nasional. (Diakses pada 5 april 2019).

    Dkatadata.2018. Inilah Konsumsi Listrik Nasional Inilah Konsumsi Listrik Nasiona.https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/11/inilah-konsumsi-listrik-nasional.( diakses pada 19 april 2019).

     

     

  • Nama : Nurdiana Febriyanti
    Nim    : 03031181722022
           

                                                                                          

            Seiring dengan pertumbuhan penduduk, pengembangan wilayah, dan pembangunan dari tahun ke tahun, kebutuhan akan pemenuhan energi listrik dan bahan bakar secara nasional pun semakin besar. Selama ini kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh energi fosil yaitu energi yang tak terbarukan dan akan habis pada beberapa tahun yang akan datang. Diprediksi tidak lebih dari 50 tahun lagi energi fosil di dunia akan habis. Selain karena akan habis, energi fosil juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran energi fosil berdampak pada pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim. Karena itulah energi pengganti fosil sangat diperlukan untuk kebutuhan energi di masa yang akan datang dimana cadangan energi semakin lama semakin menipis dan proses produksinya membutuhkan waktu jutaan tahun. Pemanfaatan sumber energi alternatif menjadi solusi pemenuhan kebutuhan energi yang semakin lama semakin besar di masa mendatang. Berkaca pada kondisi migas Indonesia yang mulai menipis, pencarian energi terbarukan mulai digencarkan. Pemerintah mulai menyasar energi ramah lingkungan, yaitu bioenergi yang diperoleh dari proses pengolahan biomassa, termasuk kayu. Indonesia yang berada di wilayah geografis tropis memang dikaruniai kekayaan bahan baku yang melimpah. Itulah mengapa pemerintah yakin untuk beralih ke pemanfaatan biomassa.  

          Indonesia memiliki potensi yang besar untuk energi terbarukan salah satunya adalah biomassa. Potensi sumber daya biomassa di Indonesia diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. Biomassa bisa dijadikan penyeimbang dan meminimalisir ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, biomassa dapat diolah menjadi biogas sebagai penyeimbang gas alam, biooil sebagai penyeimbang minyak, dan briket sebagai penyeimbang batubara serta gas. Biomassa digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar) di Indonesia. Biomassa pada umumnya memiliki nilai ekonomis rendah, atau merupakan limbah yang telah diambil produk primernya. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan istilah biomassa pada awalnya hanya merujuk pada tanaman penghasil energi yang juga dapat dikonsumsi, seperti singkong, jagung, dan tebu. Namun, dengan mempertimbangkan ketahanan pangan, pemerintah mulai mencari alternatif lain. Muncul kemudian bahan baku nonpangan, seperti limbah pertanian (sekam, tongkol jagung, jerami), perkebunan (sisa tandan kelapa sawit), kehutanan (kayu mati), peternakan (kotoran sapi), industri (limbah pabrik kertas), sampah kota dan juga tanaman alga. Bermula dari alasan tersebut istilah biomassa meluas menjadi bahan organik yang berumur relatif muda dan berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti hutan energi, produk dan limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan). Dari banyak bahan baku untuk biomassa tersebut salah satu tanaman yang memiliki energi potensi yang tinggi namun belum diproduksi secara missal adalah tanaman sorgum.

          Sorgum atau Sorghum bicolor adalah salah satu jenis tanaman serealia dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kandungan gizi tanaman sorgum cukup tinggi dan beragam meliputi karbohidrat, lemak, kalsium, besi, dan fosfor. Didalam industri sebagai sumber bioenergi, sorgum mempunyai potensi untuk mensubtitusikan kebutuhan bahan bakar fosil serta industri tambang. Pengolahan sorgum sebagai bioenergi yaitu dengan mengolahnya batang sorgum yang diperas untuk diambil niranya sehingga menjadi limbah biomassa bagasse sorgum. Limbah biomassa bagasse sorgum selanjutnya akan diolah menjadi biopelet sebagai sumber energi alternatif melalui perlakuan umur tanaman, proses ekstraksi, dan suhu pengempaan. pelet yang terbuat dari sorghum memiliki kalori sebesar 4.000 hingga 4.500 kalori per gramnya. Sedangkan  batu bara memiliki kalori sebesar 5.000 hingga 6.000 per gramnya. Sehingga, jika dilihat dari jumlah kalorinya, pelet dan batu bara tidak berbeda jauh. Selain memiliki kalori yang hampir mendekati kalori batu bara, sorghum dapat menghasilkan bioetanol sebesar 17,7 kiloliter per hektare per tahun. Tanaman ini juga bisa menghasilkan 29,8 ton per hektare per tahun high fructose corn syrup (HFCS), sebanyak 38.3 ton per hektare per tahun pakan hewan, pembangkit listrik dari biomassa hingga pembuatan papan property. Selain itu, kelebihan dari sorghum ini ialah tingkat pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan dengan tanaman lainnya, misalnya tumbuhan tebu yang hanya dapat panen selama satu tahun sekali. Sedangkan sorghum dapat panen selama setahun tiga kali. Umur yang tepat untuk bisa memanen tumbuhan ini adalah sekitar tiga hingga empat bulan. Hal ini mempermudah dalam ketersediaan bahan baku sehingga bahan bakar biomassa tidak akan habis, karena dapat terus berulang-ulang diproduksi dan tidak menyebakan kerusakan maupun polusi lingkungan. Dalam pengembangannya tanaman sorgum merupakan tanaman asli dari wilayah-wilayah tropis dan subtropis di bagian Pasifik tenggara dan Australasia sehingga tidak sulit untuk ditanam dan dikembangkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

          Biomassa yang kemudian menghasilkan bioenergi yang menjadi salah satu potensi terbesar untuk menjadi sumber energi alternatif dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya itu, penggunaan biomassa mampu mengurangi berbagai permasalahan manajemen polusi dan pembuangan, menghemat dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Tidak diragukan lagi dengan mengoptimalkan penggunaan biomassa adalah solusi yang tepat dengan potensi yang dimiliki Indonesia dan keadaan saat ini. Dari banyaknya keuntungan dari pengolahan biomassa dari tanaman sorgum ini, maka hal ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam untuk menghemat dan menghentikan ketergantungan kepada energi fosil. Melihat dari pertumbuhan hingga manfaat yang dihasilkan maka pemerintah dapat mengembangkan dan memanfaatkan tanaman sorgum menjadi untuk dijadikan sebagai alternatif bioenergi di Indonesia.  

  • Minyak bumi adalah bahan baku dalam pembuatan bensin, solar, minyak tanah, dan sebagainya. Yang dimana minyak bumi merupakan sumber energi yang signifikan dan dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi energi di dunia, baik di sektor industri ataupun kebutuhan rumah tangga. Bensin adalah salah satu hasil olahan minyak bumi yang sangat sering digunakan dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari – hari, Sebanyak 51,3 juta kiloliter adalah konsumsi untuk bensin jenis umum yang tidak disubsidi, yakni bensin mulai oktan 88 ke atas (Satrianegara, 2018). Data tersebut merupakan data konsumsi bensin di Indonesia, hanya di Indonesia!. Kita belum mengakumulasinya dalam skala internasional. Angka konsumsi yang sangat tinggi itu akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang makin hari makin meningkat dan perlu dicatat bahwa data tersebut baru penggunaan bensin saja bagaimana dengan solar, dan senyawa paraffin lainnya yang merupakan hasil olahan minyak bumi dan memiliki angka konsumsi yang tinggi juga. Tidak terbayangkan berapa banyak minyak bumi yang harus disupplai per harinya. Kita juga tahu bahwa minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui atau dengan kata lain butuh waktu lama untuk membentuknya kembali.

  • Dalam kehidupan sehari-hari manusia telah menggunakan bahan bakar diantaranya ialah : batu bara, LPG, minyak tanah, bensin, solar dll. Minyak bumi biasa dijuluki sebagai emas hitam, adalah cairan kental, berwarna cokelat gelap yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa kerak bumi. Minyak bumi dan gas terbentuk dari proses pelapukan mikroorganisme yang terbukur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Minyak bumi diambil dari sumur minyak di pertambangan-pertambangan minyak. Lokasi sumur-sumur minyak ini bisa didapatkan setelah melalui proses studi geologi, analisis sedimen, serta karakter. Setelah itu, minyak bumi akan diproses di tempat pengilangan minyak dan dipisah-pisahkan hasilnya berdasarkan titik didihnya sehingga menghasilkan berbagai macam bahan bakar, mulai dari bensin, minyak tanah, sampai aspal dan berbagai reagen kimia yang dibutuhkan untuk membuat plastik dan juga obat-obatan. Tetapi, tidak semua di dalam bumi memiliki migas (minyak dan gas), akan tetapi memiliki aturan dan tatanan geologi tertentu sehingga dapat terjadi migas. Pada posisi di kedalamannya yang berada dekat dipermukaan bumi bahkan ada sebagian yang rembesannya terlihat secara langsung di permukaan sampai beribu dan beratus kilometer di dalam bumi. Berkat pengetahuan dan pengembangan teknologi, benda yang tak terlihat dengan mata kepala sendiri tersebut dapat diketahui keberadaanya. Tuisan ini dimuat di website https://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya. Pada kondisi temperatur dan tekanan standar, hidrokarbon yang ringan seperti metanaetanapropana, dan butana berbentuk gas yang mendidih pada -161.6 °C, -88.6 °C, -42 °C, dan -0.5 °C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1 °F), sedangkan karbon yang lebih tinggi, mulai dari pentana ke atas berbentuk padatan atau cairan. 

    Tulisan ini dimuat di website http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-eksploitasi-sumber-daya-alam/ Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data atau informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumberdaya alam di suatu tempat. Kegiatan eksplorasi sangat penting di lakukan sebelum pengusaha bahan tambang dilaksanakan mengingat bahan galian yang penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sedangkan eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya. Kegiatan ini dapat dibedakan berdasarkan sifat bahan galiannya yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.Pada saat ini banyak pihak-pihak yang melakukan eksplorasi dan juga eksploitasi tanpa melihat aspek-aspek yang ada, sehingga memberikan dampak yang ada terhadap lingkungan di sekitar, yang dimana bisa menyebabkan tanah longsor, banjir, pemanasan global warming, serta kabut asap. Sudah banyak di negara Indonesia melakukan eksploitasi tersebut sehingga merusak lingkungan. Dalam pada itu, perusakan terhadap lingkungan laut juga terjadi akibat pola seperti eksplorasi minyak dan gas bumi, penambangan pasir laut, Dampak Terhadap Lingkungan Pesisir dan Perairan Laut. Polutan dari minyak ini secara spesifik menunjukan pengaruh negatif yang penting terhadap lingkungan agar dalam pelaksanaan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi di lapangan eksplorasi nantinya pasti akan membawa banyak dampak baik dampak positif.  Suhu muka bumi semakin panas. Secara alami, permukaan bumi diselimuti oleh selubung tipis dampak terhadap lingkungan, yang diukur dari berapa banyak. Sedangkan, dampak pada eksploitas, Eksploitasi hutan di daerah hulu yang dapat menghilangkan fungsi hutan di daerah hulu sebagai penutup lahan terhadap tumpahan air hujan dan penghambat kecepatan aliran permukaan juga dapat menyebabkan banjir. Pembangunan dan penataan sarana-sarana fisik yang tidak teratur dan pengguanaan lahan yang tidak seimbang di kota-kota besar seperti Jakarta merupakan salah saru sebab ibu kota negara ini tidak pernah absen dari bencana banjir. Banyak sekali eksploitasi sumber daya alam yang membawa dampak terhadap kehidupan. Segala kegiatan pembangunan yang berlangsung diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga harus mampu menjaga kelestarian sumber daya alam. Sehingga alam tidak akan kehilangan fungsinya sebagai pengendali keseimbangan kehidupan. Sebaiknya untuk bagian pada pengeksploitasi harus berhati-hati dan memperhatikan dampak yang akan terjadi saat sedang melakukan aktivitas tersebut, agar lingkungan di negara Indonesia tidak merugikan masyarakat di sekitar.

  • Minyak bumi dalam bahasa inggris ‘petroleum’, dari bahasa Latin petrus–karang dan oleum–minyak), atau disebut juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar yang berada di lapisan atas dari beberapa area kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar meruapakan deret senyawa alkana, bervariasi dalam komposisi dan kemurniannya. Minyak bumi bersumber dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga makin hari cadangannya makin menipis sejalan dengan tuntutan kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat.

     

    Menipisnya cadangan minyak bumi serta pencemaran lingkungan merupakan isu global yang meresahkan manusia dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Hal ini berakibat melonjaknya harga minyak dunia yang memberikan dampak besar terhadap perekonomian dunia tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak bumi secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan pembangkitan tenaga listrik. Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak pada makin meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi serta aktivitas industri. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan akan bahan bakar cair juga akan semakin meningkat.

     

    Semakin menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia berdampak pada ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak bertambah. Oleh karena itu pengembangan energi bahan bakar terbarukan menjadi penting selama beberapa tahun terakhir. Salah satu alternatif sumber energi terbarukan yang cukup menjanjikan adalah biodiesel. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan

     

    Dewasa ini, banyak penemuan mengenai bahan lain pengganti bahan bakar minyak dari crude oil. Salah satunya adalah Crude Palm Oil (CPO).Minyak sawitCrudePalmOil (CPO) merupakan komoditas strategis Indonesia dan sekaligus salah satu komoditas penting di pasar internasional.

     

    Trend baru ini menunjukkan bahwa peran CPO tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan (antara lain minyak goreng) dan industri hilir lainnya. Dengan meningkatnya permintaan CPO di pasar dunia, maka permintaan CPO juga akan meningkat dan juga memiliki dampak yang lebih luas pada industri perkelapasawitan di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas maka studi tentang permintaan CPO untuk biodiesel dan dampaknya bagi industri kelapa sawit domestik menarik untuk dicari tahu.

     

    Biodiesel atau metal ester merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel atau solar. Penggunaan biodiesel sebagai sumber energi merupakan solusi menghadapi kelangkaan energi fosil pada masa mendatang. Hal ini karena biodiesel bersifat dapat diperbaharui (renewable),dapat terurai (biodegradable) dan memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin karena termasuk kelompok minyak tidak mengering (non-drying oil) dan mampu mengurangi emisi karbon dioksida dan efek rumah kaca. Biodiesel juga bersifat ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan diesel/solar, yaitu bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) rendah, terbakar sempurna (clean burning), dan tidak menghasilkan racun (non toxic).

     

    Mengkonversi CPO menjadi biodisel memang memerlukan investasi yang tidak sedikit dan memerlukan effort yang lebih banyak, sehingga mengekspor CPO mentah tentu lebih mudah dan cepat mendatangkan uang. Jelas jauh lebih mudah daripada harus mengkonversi menjadi biodisel. Seharusnya pemerintah bisa melakukan langkah-langkah yang lebih baik untuk mendorong agar pengusaha kepala sawit dapat mengembangkan hasilnya menjadi bahan baker biodisel seperti membantu mengatasi penyediaan teknologi, serta menyiapkan sasaran pasar biodisel yang dihasilkannya.

     

    Kajian ekonomi kelapa sawit Indonesia umumnya melihat permasalahan minyak sawit sebagai komoditas ekspor untuk memenuhi permintaan domestik maupun pasar internasionalsebagaisumber bahan baku industri maupun pangan. Korelasi untuk mencari hubungan harga CPO dunia dengan harga BBM dunia disajikan pada gambar berikut.

     

     

    Tahun 2008, total ekspor biofuel di pasar dunia mencapai 771 juta ton, yang bersumber dari minyak kedele dan minyak sawit. Volume ekspor USA tahun 2008 adalah 353 juta ton (45,8%) atau mendekati separuh total ekspor dunia, diikuti Negara Argentina sebesar 264 juta ton (34,2%). USA, Argentina dan Brazil adalah negara eksportir utama biodiesel di pasar dunia yang menggunakan bahan baku minyak kedele (soybean oil), sedangkan negara Indonesia menggunakan sumber minyak sawit. Pangsa ekspor biodiesel Indonesia tahun 2008 adalah 13,32% (102 juta ton).

     

    Jika dibandingkan dengan Malaysia, net ekspor Malaysia adalah 6,6% (51 juta ton). (Oil World, 2009) Berdasarkan proyeksiOil World(2009) dalam satu dekade ke depan (2008-2018), ekspor biodiesel Indonesia akan bertumbuh (growth) sebesar 1,62% per tahun, sementara Malaysia menurun (negative growth) 0,78% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen utama dan sekaligus negara eksportir utama biodiesel yang bersumber dari minyak sawit di pasar dunia. Data ini mendukung hasil studi di atas, dimana produksi CPO Indonesia memiliki peran penting untuk memenuhi permintaan energi di pasar internasional. 

     

    Trend hingga tahun 2018, dimana pertumbuhan produksi biodiesel Indonesia meningkat rata-rata 7,01% per tahun, sedangkan pertumbuhan konsumsi mencapai 15,32% per tahun, dan pertumbuhan ekspor biodiesel Indonesia ke pasar internasional adalah 0,17% per tahun. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan yang relatif baik, dimana selain untuk tujuan ekspor, produksi biodiesel Indonesia juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, bahkan komoditas substitusinya juga akan naik.

     

    Kenaikan harga BBM terhadap permintaan CPO domestik akan memberikan dampak yang luas dalam industri kelapa sawit Indonesia, antara lain pada industri hilir minyak goreng domestik. Hal ini sangat logis, dimana permintaan CPO untuk energi akan berkompetisi dengan permintaan CPO untuk energi dan juga akan berdampak pada penurunan volume ekspor CPO domestik. Selanjutnya, penurunan ekspor CPO akan dirasakan oleh negara-negara pengimpor : RRC, India dan Uni Eropa. Sejak tahun 2000, rata-rata kenaikan harga BBM dunia mencapai 18,71% per tahun. Selanjutnya angka ini digunakan sebagai dasar penetapan besarnya kenaikan harga BBM.

     

    Dari data-data diatas dapat kita lihat bahwa kenaikan harga minyak bumi secara terus menerus dapat diatasi dengan menggunakan energi terbarukan yaitu biodiesel. Selain lebih menghemat biaya untuk kedeepannya, sumber energi ini juga lebih ramah lingkungan serta merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui apabila persediaan minyak bumi dunia telah habis. Beberapa perusahaan kelapa sawit sebenarnya ada yang memproduksi biodiesel namun hanya skala kecil. Pemerintah seharusnya lebih mendukung lagi proses produksi biodiesel oleh perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit sehingga biodiesel yang mereka buat dapat dipasarkan keluar tidak hanya mereka pakai sendiri. Karena, kita tidak mungkin selamanya dapat menggunakan bahan bakar fosil yang suatu saat nanti cadangannya akan habis untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari maupun kebutuhan industri.