Sektor tekstil merupakan sektor yang berkontribusi ekspor terbesar kedua di Indonesia. Tekstil termasuk dalam salah satu sektor pengembangan revolusi industri 4 yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing dalam persaingan pasar global. Industri 4 erat kaitannya dengan internet dan kemajuan dalam bidang teknologi. Pemanfaatan teknologi dalam industri tekstil ini yaitu salah satunya dengan nanoteknologi yang dapat mengubah sifat material menjadi lebih istimewa dari penyusun bahan awalnya dengan mengubahnya ke dalam skala nanometer. Salah satu pengembangan nanoteknologi dalam bidang tekstil yaitu nanofiber.

Menurut Subbiah dkk (2005)Nanofiber dalam industri tekstil didefinisikan sebagai suatu serat yang memiliki diameter sebesar 100-500 nm. Ukuran nano yang sangat kecil tersebut dapat bermanfaat untuk penghalangan bakteri. Menurut Pillai dan Sharma (2009) Pembuatan nanofiber dapat dilakukan dengan bebagai cara seperti drawing, template synthesis, dan electrosinning.Drawing yaitu teknik pembuatan nanofiber dengan menyentuhkan mikropipet pada droplet dan menariknya. Template synthesis, yaitu pembuatan nanofiber dengan menekan larutan polimer pada celah membran yang kecil untuk menghasilkan nanofiber. Electrospinning, yaitu pembuatan nanofiber dengan memberi muatan pada larutan polimer yang kemudian dijatuhkan dari pipet di dalam daerah bermuatan listrik tinggi. Dari ketiga jenis metode tersebut metode Electrospinning yang cukup sederhana namun biayanya cukup efisien.Salah satu bahan polimer yang digunakan dalam nanofiber ini yaitu kitosan.  Kitosan bersifat biodegrabel dan biokampatibilitas tinggi serta mempunyai sifat antibakteri, sehingga dapat digunakan dalam industi tekstil dengan dibuat nanofiber. Pelapisan dengan kitosan  menghasilkan  pemukaan tekstil yang halus, warna yang stabil, dan tidak luntur.  Kitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi kitin, sedangkan kitin sendiridapat diperoleh dari kulit crustacea. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap pertama deproteinasi merupakan penghilangan protein. Tahap kedua demineralisasi yaitu penghilang mineral. Tahap ketiga kitosan diperoleh dengan deasetilasi kitin dengan cara penghilangan gugus asetil. Pemintalan elektrik (electrospinning) adalah metoda yang mempunyai karakteristik yang menarik dan juga unik, seperti luas permukaan yang lebih besar dari volume, memiliki sifat kimiawi, konduktivitas, dan sifat optik tertentu. Teknik Pemintalan elektrik dapat relatif cepat, sederhana, dan juga murah dalam menghasilkan nanofiber.

Menurut Anggraini (2017) keunggulan lain dari teknik electrospinning ini yaitu menghasilkan nanofiber yang cukup panjang. Pembuatan nanofiber dengan cara electrospining  menggunakan alat electrospun dan sumber listrik untuk membentuk suatu garis-garis halus (fiber) dalam ukuran nano dari suatu cairan. Proses ini sangat menarik untuk membuat biomaterial polimer menjadi nanofiber. Pembuatan Nanofiber kitosan menggunakan alat electrospun adalah bahan polimer dilarutan pada pelarut yang sesuai. Polimer yang sudah dilarutkan lalu dipintal menggunakan alat electrospun. PVA (Polyvinyl Alcohol) merupakan salah satu polimer sintetik dengan keunggulan seperti hidrofilisitas dan kompatibilitas, tidak toksik, kandungan air yang tinggi, sifat mekanik yang kuat, stabilitas kimia yang baik dibanding polimer sintetik lainnya dan biodegradabel serta merupakan polimer yang sesuai dengan metode electrospinning dengan menggunakan kitosan.

Menurut penelitian Winiati dkk (2016) teknik mengaplikasikan zat antibakteri ke dalam tekstil dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada sifat zat antibakteri dan jenis serat tekstilnya. Untuk aplikasi pada serat sintetik, zat antibakteri dapat ditambahkan ke dalam bahan polimer sebelum proses pembuatan serat. Cara ini merupakan yang terbaik karena zat antibakteri terikat secara fisik di dalam serat sehingga memiliki ketahanan yang cukup kuat. Menurut penelitian Erdawati dkk (2013) pelapisan kitosan pada kain juga dapat memberikan ketahanan warna yang lebih unggul dibandingkan dengan kain yang tidak dilapisi dengan kitosan. Kain ditreatment terlebih dahulu melalui proses degumming dan asilasi. Proses degumming bertujuan untuk menghilangkan serisin agar dihasilkan kain yang lembut dan berkilau sementara asilasi berfungsi sebagai jembatan antara kitosan dengan kain.

Pemanfaatan nanofiber dari kitosan dalam industri tekstil dapat memberikan serat alami yang lebih ramah lingkungan yang tidak memberikan efek bebahaya bagi kesehatan, selain itu nanofiber jika dibuat dari kitosan dapat memberikan zat antibakteri dan ketahanan warna yang tinggi pada industri tekstil yang dapat dikembangkan dalam revolusi industri 4 sekarang ini.      

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini. 2017. Sintesis Nanofiber Kitosan/ Polyvinyl Alcohol (PVA) Dengan Metode Electrospinning. Skripsi. Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Erdawati. dkk. 2013. Pelapisan Kain Sutera Nano Partiket Kitosan Untuk Meningkatkan Ketahanan Warna. JRSTK. Vol. 3(1): 229-238.

Pillai dan Sharma. 2009. Electrospinning of Chitin and Chitosan Nanofibres.Trens Biomater Artif Organs. Vol. 22(3): 179-201.

Subiah. dkk. 2005. Electrospinning of Nanofiber. Jounal of Applied Polymer Science. Vol. 96: 557-569.

Winiati. dkk. 2016  Aplikasi Kitosan Sebagai Zat Anti Bakteri Pada Kain Poliester Selulosa Dengan Cara Perendaman. Arena Tekstil. Vol. 31(1): 1-10.

 

Profil Penulis
Mita Agustina
Author: Mita Agustina
Mengenai Penulis