Dewasa ini, perkembangan teknologi sudah berlangsung dengan sangat cepat, termasuk perkembangan teknologi nano. Hal ini masuk akal dikarenakan benda yang memiliki ukuran partikel dalam skala nanometer memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan partikel yang memiliki ukuran bulk. Contoh keunggulan yang dimiliki oleh nanopartikel seperti memiliki kekuatan mekanik yang lebih besar dan memiliki titik leleh yang lebih rendah.

            Revolusi industri 4.0 yang saat ini sudah berlangsung di dunia menuntut adanya keterbaruan dalam seluruh hal yang berkaitan dengan industri dan tidak memberi dampak yang berbahaya bagi lingkungan seperti pada revolusi industri sebelumnya. Di Indonesia sendiri, Kementrian Perindustrian sudah menanggapi revolusi industri 4.0 dengan sejumlah strategi, diantaranya adalah fokus dalam 5 bidang yakni industri kimia, elektronik, food and beverage, tekstil, dan otomotif. Untuk mendukung supaya industri di lima bidang di atas memiliki nilai tambah dan dapat bersaing dengan produk-produk dari luar negeri perlu adanya inovasi yang digunakan, salah satunya adalah dengan penggunaan teknologi nano.

Terkhusus pada bidang industri otomotif, penggunaan nanoteknologi lebih dimaksudkan untuk menambah nilai fungsi pada perangkat-perangkat otomotif, dan memperpanjang life time dari perangkat otomotif tersebut. Contoh dari pemanfaatan nanoteknologi dalam bidang otomotif adalah dalam pembuatan nano filler. Berdasarkan fungsinya, material pengisi (filler) digolongkan menjadi tiga kelompok yakni sebagai penguat (reinforcing filler), semi penguat (semi reinforcing), dan tidak bersifat penguat (non-reinforcing filler). Beberapa bahan filler yang telah banyak beredar di pasar adalah carbon black yang termasuk ke dalam filler bersifat penguat. Namun pembuatan carbon black diketahui menghasilkan emisi berupa CO2 yang merupakan penyebab terjadinya efek rumah kaca, sehingga harus dicari solusi untuk masalah ini. Nanoteknologi dapat digunakan dalam pembuatan nanofiller yang bertujuan mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan pada penggunaan carbon black dalam pembuatan barang menjadi karet.

Pengaplikasian nanofiller pada produk olahan karet juga dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan harga jual dari karet itu tersendiri dan meningkatkan perekonomi dari petani karet. Produk olahan karet dengan nanofiller yang berkualitas dan ramah lingkungan otomatis akan menjadi nilai tambah bagi produk tersebut, sehingga akan banyak konsumen yang menggunakan produk tersebut. Hal ini berimbas pada meningkatnya jumlah produksi produk, dan meningkatnya kebutuhan akan bahan baku yakni karet. Hal ini menjadi keuntungan bagi petani karet karena produk yang mereka olah laku di pasaran.

Pengaplikasian nanofiller pada industri karet sebagian besar digunakan pada bagian interior kendaraan khususnya pada automotive foam. Penambahan nanofiller pada proses pembuatan busa kendaraan dapat meningkatkan kestabilan busa tersebut pada kondisi yang ekstrim seperti suhu dan kelembaban yang tinggi. Hal ini cocok diaplikasikan di Indonesia terutama di daerah Sumatera Selatan karena memiliki suhu yang panas dengan tingkat humidifikasi udara yang tinggi. Selain itu Sumatera Selatan juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil karet terbesar di Indonesia, sehingga sangat potensial dalam pengembangan produk ini.

Selain itu, penggunaan nanomaterial dalam bidang otomotif juga bertujuan untuk pengurangan massa kendaraan, keselamatan, dan penghematan bahan bakar, pengaplikasian dalam mesin dan katalis untuk pembersihan emisi otomotif, serta pengaplikasian dalam efisiensi energi dan sel bahan bakar. Massa dari kendaraan dapat direduksi dikarenakan suatu nanomaterial akan memiliki massa yang lebih ringan jika dibandingkan dengan material berukuran bulk, dan juga memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan material berukuran bulk. Hal ini berguna dalam mengantisipasi terjadinya kecelakaan yang diakibatkan oleh kendaraan penyok seperti kebanyakan kecelakaan yang terjadi. Seiring dengan ringannya massa dari kendaraan tersebut, maka akan semakin kecil gaya beratnya, dan akan berdampak pada semakin kecil energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan kendaraan tersebut.

Nanokatalis digunakan pada bagian saluran pembuangan emisi kendaraan yang berasal dari ruang pembakaran mesin. Pada bagian tersebut terdapat katalis yang memiliki pori-pori berukuran nano. Pori-pori yang memiliki ukuran nano tersebut akan memiliki luas permukaan yang sangat luas, sehingga daerah kontak antara nanokatalis dengan gas emisi buang akan semakin luas, dan akan semakin banyak jumlah polutan yang terserap di dalam nanokatalis tersebut.

Berkembang suatu ide dimana meletakkan solar cell pada kendaraan yang bertujuan sebagai sumber energi untuk menggerakkan kendaraan tersebut, namun hal ini masih perlu dilakukan beberapa pengembangan lagi, diantaranya adalah dengan menggunakan nanokomposit dengan matriks semikonduktor yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dari solar cell tersebut. Contoh dari nanokomposit yang telah mulai digunakan adalah TiO2 yang ditanam dalam sel semikonduktor. Efisiensi sebesar 10% dapat menghasilkan energi sebesar 0,5 kW. Energi ini hanya perlu disimpan dalam baterai untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi pada kendaraan.

Nano memang merupakan sesuatu yang berukuran kecil, namun dibalik kecilnya ukuran partikel tersebut, terdapat dampak yang sangat besar apabila digunakan secara maksimal. Melihat potensi yang telah sedikit dibahas di atas, Indonesia seharusnya dapat mengaplikasikan nanoteknologi, terutama dalam upaya untuk menjalankan revolusi industri 4.0. Oleh karenanya, pemahaman tentang ilmu nanoteknologi harus dikembangkan secara lebih intens lagi kepada seluruh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

Profil Penulis
Kevin Adrian Wijaya
Author: Kevin Adrian Wijaya
Mengenai Penulis