Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi di dunia. Menurunnya produksi minyak bumi saat ini sangat mengkhawatirkan yang menyebabkan tidak seimbangnya antara supply dan demand. Tingginya kebutuhan atas minyak bumi di dalam negeri tidak dapat terpenuhi dengan produksi minyak bumi kita sendiri hingga harus dilakukan impor minyak bumi baik dalam bentuk crude oil ataupun langsung dalam bentuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Lapangan sumber minyak bumi baru dengan skala besar yang sulit ditemukan membuat diharuskannya meningkatkan efisiensi dalam langkah eksploitasi dan pengolahan minyak bumi dari sumur minyak yang sudah tua. Tahapan produksi yang di dominasi oleh primary dan secondary recovery juga merupakan faktor utama menurunnya produksi minyak bumi yang terjadi sejak beberapa tahun belakangan

Metoda perolehan minyak tahap lanjut atau lebih dikenal dengan istilah Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah cara yang paling tepat untuk meningkatkan produksi minyak bumi terutama pada lapangan yang sudah tua (brown fields). Produksi minyak bumi melalui tahapan primary dan secondary recovery masih menyisakan jumlah minyak yang sangat banyak di dalam reservoir. Rata-rata minyak yang tertinggal di dalam reservoir di lapangan minyak di Indonesia setelah kedua tahapan tersebut sebesar 60-70%. Riset tentang aplikasi nano teknologi telah berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Beberapa sifat dari fluida reservoir dan batuan reservoir sangat berpengaruh terhadap peningkatan perolehan minyak seperti viskositas, densitas, tegangan antar permukaan liquid-liquid atau liquid-batuan, tekanan kapiler, permeabilitas relatif, wettability batuan, dan sudut kontak fluida-batuan.

Wettability atau tingkat kebasahan batuan adalah parameter yang sangat penting untuk peningkatan peroleh minyak. Batuan yang basah air atau water wet lebih mudah mengalirkan butiran minyak bumi ke dasar sumur dibandingkan batuan yang sifatnya basah minyak atau oil wet. Selain itu, tegangan antar permukaan liquid-liquid dan liquid-batuan juga berperan penting untuk meningkat-kan perolehan minyak. Semakin kecil tegangan antar permukaan akan menyebab-kan tekanan kapiler kecil dan minyak akan mudah lepas dari pori-pori batuan.

Onyekonwu dan Ogolo dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa polysilicon nanoparticles (PSNP) dapat merubah wettability batuan dari water wet menjadi strong water wet. Selain itu, polysilicon nanoparticles yang digunakannya dapat menurunkan tegangan antar permukaan minyak-air dengan menambah larutan alkohol kedalam campuran PSNP tersebut. Cheraghian menyimpulkan bahwa nanoparticles (NPs) dapat merubah kebasahan batuan dan hal ini yang dapat menyebakan meningkatnya perolehan minyak menuju dasar sumur produksi.

Oglo dkk menggunakan nanoparticles antara lain aluminium oxide, zink, magnesium, iron, zirconium, nikel, tin, dan silicon. Hasil ekperimen tersebut menunjukan aluminium oxide dan silicon oxide dapat bertindak sebagai agent yang baik untuk EOR. Aluminium oxide dapat meningkatkan perolehan minyak melalui mekanisme penurunan viscosity dan mekanisme silicon oxide untuk meningkatkan perolehan minyak melalui perubahan wettability batuan serta dengan penambahan alkohol dapat menurunkan tegangan permukaan minyak-air.

Bennetzen dkk, dalam makalahnya menyimpulkan beberapa faktor yang menyebabkan nanoparticles (NPs) dapat meningkat perolehan minyak melalui mekanisme seperti; NPs dapat menyebar kedalam pori-pori batuan tampa menyebabkan penyumbatan, NPs dapat menurunkan tegangan antar permukaan minyaair, NPs dapat memodifikasi viscositas air injeksi, NPs dapat di desain dari permukan kearah lokasi yang menjadi target, NPs dapat di gunakan kembali setelah di proses bersama-sama dengan minyak yang terproduksi ke permukaan menggunakan metoda magnetic separation.

Berdasaran penelitian Abdurrahman (2016), penggunaan nanopartikel dengan cara menginjeksikan nanopartikel ke dalam sampel batuan menghasilkan perolehan minyak yang lebih baik dibandingkan dengan penginjeksian air. Hal ini dikarenakan nanopartikel yang telah di modifikasi akan lebih mudah masuk ke dalam celah antara permukaan batuan dan butiran minyak sehingga minyak yang menempel pada batuan akan lebih mudah lepas dan mengalir ke dasar sumur.

Di indonesia sendiri penelitian mengenai penggunaan nanopartikel dalam industri hulu migas tidak terlalu di kenal terlebih di bidang EOR. Hal ini dikarenakan belum ada bidang keahlian untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Sebenarnya penggunaan nanopartikel sangat menguntungkan untuk peningkatan produksi minyak dari sumur-sumur tua yang ada di Indonesia. Sebagaimana dalam pengolahannya, surfactan, silicon, dan polymer merupakan bahan kimia yang terbukti dapat meningkatkan produksi minyak. Oleh karnanya, apabila kedua hal ini dikombinasikan maka akan menghasilkan suatu cara atau metode baru yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi minyak.

Beberapa hal yang menyebabkan nanopartike sulit untuk diterapkan seperti ukuran yang sangat kecil dari bahan yang digunakan akan sulit untuk dikendalikan dan akan lebih mudah tersebar di udara bebas. Nanopaktikel dapat secara mudah tersebar di udara bebas dan tertinggal ditanah serta air. Nanopartikel yang tersebar di udara bebas akan lebih mudah terpapar ke manusia yang kandungannya akan menimbulkan bahaya terhadap tubuh dan organ manusia. Diperlukan peralatan, pencegahan, dan penanganan yang tepat untuk penerapan nanopartikel ini.

Profil Penulis
Nurmala
Author: Nurmala
Mengenai Penulis