KALIBERAU PENGHAMBAT KRISIS MIGAS DI INDONESIA

Oleh: Untung Waluyo (03031181722011)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya termasuk minyak dan gas bumi (migas). Industri minyak dan gas bumi (migas) sudah lama menjadi tulang punggung negara Indonesia. Namun Indonesia belum begitu banyak mengetahui bagaimana mekanisme pengolahan minyak dan gas (migas). Sehingga menyebabkan negara Indonesia kedepannya akan mengalami krisi migas. Dalam hal ini terdapat fakta-fakta mengenai krisisnya minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

Dikutip dari Liputan6, negara Indonesia saat ini kekurangan minyak dan gas, ternyata negara Indonesia saat ini sudah menjadi net oil importer dari tahun 2004, sehingga dalam hal ini mengakibatkan impor minyak Indonesia dari negara lain lebih besar daripada ekspor minyak dari dalam negeri ke luar negeri. Pada saat ini dalam negeri hanya mampu memproduksi sekitar 800 ribu barel minyak per hari, sementara konsumsi minyak dalam negeri yang dibutuhkan adalah mencapai 1,6 juta barel minyak per hari. Selain itu apabila dilihat dari sisi gas bumi, saat ini Indonesia sebenarnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan gas secara domestik. Namun, lapangan gas bumi yang ada di Indonesia kebanyakan berlokasi sangat jauh dari pemukiman dan juga jauh dari pusat industri yang mengelolah gas bumi tersebut, hal lain yang dapat menghambat juga adalah infrastruktur penerimaan gas belum begitu memadai di Indonesia, sehingga menyebabkan tidak semua gas bumi yang dimiliki alam Indonesia tidak dapat tererap dengan sempurna. Hal lain yang perlu dicermati dalam hal yang dapat menyebabkan kurangnya minyak dan gas bumi (migas) indonesia adalah  pertumbuhan konsumsi gas dalam negeri mengalami peningkatan di setiap tahunnya, dimana rata-rata pertumbuhan kebutuhan migas naik 9 persen di setiap tahunnya. Dalam hal ini apabila Indonesia dalam penambahan cadangan lambat dari pada pertumbuhan konsumsi maka akan menyebabkan Indonesia impor dari negara lain.

Indonesia apabila di bandingkan dengan negara-negara lain, masih sangat ketinggalan jauh untuk cadangan migasnya. Di kutip dari Liputan6, menurut data pada Dirjen Migas, cadangan minyak bumi di Indonesia pada januari 2016 hanya 3,3 miliar barel dan 101,2 triliun kaki kubik untuk gas. Sedangkan menurut BP Statistical Review 2016, cadangan minyak indoneia hanya sebesar 0,2 persen dari total cadangan minyak dunia. Sedangkan untuk gas, cadangan terbukti hanya 1,5 persen dari cadangan gas dunia. Tanpa adanya penambahan cadangan baru, kesenjangan antara konsumsi migas dengan produksi migas yang di hasilkan semakin melebar. Menurut data dari SKK Migas, tren lifting migas di Indonesia mengalami penurunan. Lifting migas telah turun dari 2,34 juta barel setara minyak per hari di tahun 2010 menjadi 1,96 juta barel setara minyak per hari di tahun 2015. Sehingga apabila tanpa adanya penemuan cadangan migas baru, maka lifting diperkirakan akan terus merosot menjadi 1,75 juta barel yang setara minyak per hari di tahun 2020. Cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk 12 tahun saja, sedangkan cadangan gas akan habis 37,8 tahun lagi. Tentunya hal ini bisa dicegah apabila penambahan cadangan migas berhasil ditemukan.

untung 1

Sumber:www.jawapos.com

Secara geologis alam Indonesia masih kekayaan cadangan migas yang begitu menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan migas di Indonesia itu sendiri. Dalam kurun waktu hangat-hangat ini dunia perindustrian migas dikejutkan dengan berita penemuan cadangan gas di wilayah kerja Sakakemang, Musi Banyuasin,  Sumatera Selatan. Dimana di kutip dari Kata Data penemuan ini masuk dalam 4 besar penemuan cadangan gas terbesar di dunia pada tahun 2018-2019 dan terbesar di Indonesia dalam 2 dekade terakhir sehingga menjadi bukti bahwa alam Indonesia masih menyimpan cadangan migas dan lain itu juga dengan adalanya penemuan ini dapat pemicu untuk mencgeksplorasi keberadaan cadangan migas di alam Indonesia.

 

Sumber: http://m.katadata.co.id

Penemuan ini dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Repsol melalui sumur Kaliberau Dalam-2X. Di kutip dari JawaPos sumur Kaliberau ini diperkirakan memiliki potensi cadangan migas kurang lebih 2 triliun kaki kubik gas (TCF). Akan tetapi jumlah tersebut merupakan asumsi saat ini, sehingga masih ada kemungkinan terdapata pontensi cadangan migas lainnya di lokasi tersebut. Pada awal Februari 2019, Respol dan SKK Migas menemukan potensi cadangan dengan kedalaman sumur mencapai target 2.430 MD. Keberhasilan sumur KBD2X, akan membuka eksplorasi dengan target fractured basement di Sumatera Selatan.

Sehingga dapat dicermati dengan adanya penemuan cadangan gas di sumur Kaliberau Dalam-2X ini menjadi pemicu untuk mencegah terjadinya krisis migas di Indonesia untuk kedepannya dan dapat menambah pendapatan negara untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, di samping menambah dana bagi hasil (DBH) migas di daerah Musi Banyuasin sebagi dearah penghasil. Selain itu juga, penemuan gas ini dapat menjadikan aset vital energi negara dimana dapat memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, penggunaan jaringan gas di daerah setempat dan juga dapat menyerap tenaga kerja lokal semaksimal mungkin, sehingga dapat meminimalisir angka kemiskinan di daerah serta untuk pembangunan Sumatera Selatan, khususnya daerah Musi Banyuasin itu sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

JawaPos. 2019. Penemuan Besar, Potensi Gas Blok Sakamemang Hingga 2 Tcf. www.jawapos/24/02/2019/penemuan-besar-potensi-gas-blok-sukamemang-hingga-2-tcf. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Liputan6. 2017. Enam Fakta Migas Indonesia yang Wajib Kamu Tahu. www.liputan6.com/read/2017/03/27/ enam-fakta-migas-indonesia-yang-wajib-kamu-tahu. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Setiawan, V. 2019. Blok Sakakemang, Temukan Gas Terbesar ke-4 Dunia dalam Dua Tahun. http://m.katadata.co.id/berita/2019/02/22/blok-sekakemang-temukan-gas-terbesar-ke-4-dunia-dalam-dua-tahun. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

Wulandari, D. 2019. Musi Banyuasin Masih Potensial Sumber Migas Nasional. http://m.bisnis.com/sumatra/read/20190222/534/892239/musi-banyuasin-masih-potensial-sumber-migas-nasional. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

 

 

 

 

Profil Penulis
Untung Waluyo
Author: Untung Waluyo
Mengenai Penulis