Kick merupakan masuknya fluida yang tidak diinginkan (formasi) disaat pengeboran yang berupa gas, minyak, dan air. Kick dapat menyebabkan ledakan yang luar biasa. Kick yang paling berbahaya adalah Gas Kick. Gas dapat menurunkan densitas dari lumpur yang sedang dalam pengeboran dan menyebabkan ledakan lumpur. Segala macam kick dapat diatasi salah satunya dengan cara mengalihkan fluidanya dengan cara membakar di sumur minyak bumi yang lainnya. Kick bisa terjadi karena tekanan fluida yang tidak diinginkan lebih besar dari tekanan hidrostatis disaat proses pengeboran minyak bumi dan yang akhirnya menyebabkan ledakan atau penyemburan ke luar alat bor. Inilah mengapa pentingnya memantau kenaikan tekanan fluida yang tidak diinginkan dan tekanan hidrostatis disaat proses pengeboran berlangsung. Adanya fluida yang tidak diinginkan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena pemisahan baru terjadi disaat fluida keluar dari pipa pengeboran,maka dari itu perlunya kesigapan dan perhatian yang lebih disaat pengeboran berlangsung dan tidak hanya memperhatikan disaat proses pemisahan minyak dan gas saja, sehingga kesiapan untuk mengantisipasi kick dapat diatasi dengan cepat dan tanggap. Selain perbedaan tekanan fluida yang tidak diinginkan dan tekanan hidrostatis, tinggi kolom lumpur turun mempengaruhi terjadinya kick disaat pengeboran berlangsung. Tinggi kolom turun disebebkan beberapa hal seperti, Lumpur masuk ke dalam fluida formasi yang dikarenakan formasi rekah atau sifat dari lumpur yang tidak sesuai. Formasi rekah karena kesalahan kerja sewaktu proses pengeboran terjadi tidak begitu saja, Squeeze effect atau peristiwa menurunkan alat pengeboran terlalu cepat dan lumpur yang kental membuat Squeeze effect (efek tekan), pemompaan yang mengejut sehingga menimbulkan tekanan yang tinggi, lalu kesesuaian sifat lumpur yang digunakan perlu diperhatikan juga, seperti viscositas lumpur, berat jenis lumpur dan gelstregth. Yang ketiga yang dapat menyebabkan kick adalah tekanan yang abnormal dari fluida yang tidak diinginkan yang biasanya disebabkan oleh patahan, struktur reservoir yang rendah, massive shale, lensa lensa pasir, dan koneksi tekanan antar lapisan. Tanda-tanda terjadinya kick terdiri dari beberapa gejala seperti, drilling break, kecepatan aliran lumpur bertambah, berat jenis lumpur turun, stroke pemompaan lumpur bertambah, tekanan sirkulasi lumpur turun, naik turunnya temperature lumpur, gas cut mud, dan beberapa gejala gas di sumur dan tripping. Gejala gas dalam sumur seperti pemboran menembus fluida formasi yang mengandung gas, connection gas, sloughing shale, shale density, flow properties, dan chloride content. Dan telah ada tesis yang menyatakan dapat mendeteksi kick secara automatis dan menghandle pengaturan tekanan pada sistem drilling oleh Espen Hauge. Pengatur tekanan pada sistem drilling akan mengatur dalam berbagai alat atau well control. Well control mengatur beberapa bagian seperti drilling break (meningkatkan penetrasi pada alat bor), flow increase, pit gain, mengurangi sirkulasi tekanan dan menaikan kecepatan pompa pada pompa utama, well flows with rig pumps off, increase in rotary torque. Dengan bantuan alat semacam ini akan memudahkan dalam mendeteksi segala macam bentuk kick terutama gas kick yang mana menyebabkan semburan yang cukup membuat kerugian  yang besar dan sudah banyak kick yang terjadi disaat pengeboran berlangsung dan membuat semburan yang meledakan sumur minyak bumi dan gas dan salah satu insiden yang terjadi adalah ledakan sumur minyak Sukowati akibat gas kick. Di thesis ini, melakukan uji coba dengan gas kick dengan berbagai teknik dan dapat dibilang cukup terjamin.

Profil Penulis
Muhammad Alief Hathami
Author: Muhammad Alief Hathami
Mengenai Penulis