(sumber : https://migas.esdm.go.id/photos/295)

                Dalam bekerja di industri migas kesehatan keselamatan kerja merupakan hal yang sangat penting, di karnakan resiko kecelakan kerja dalam bidang ini dapat di katakan cukup tinggi di bandingkan bekerja di industri lain, Kesehatan Keselamatan Kerja di Industri minyak bumi dan gas atau sering disingkat menjadi migas adalah salah satu industri yang paling penting karena industri inilah yang menghasilkan energi untuk memenuhi konsumsi energi dunia yang terus meningkat. Industri migas terutama industri hulu migas (upstream) sangat menarik karena karakteristiknya cukup berbeda dengan jenis industri lainnya seperti industri manufaktur atau industri pertambangan. Beberapa karakteristik industri migas antara lain:

  1. Industri ini memiliki risiko ekonomi yang tinggi. Pada saat eksplorasi memiliki risiko kegagalan yang tinggi untuk mencapai tahap produksi dan besarnya peluang hilangnya modal dalam jumlah besar. Pada tahap produksi, waktu yang diperlukan untuk mencapai break even point atau balik modal sangat lama walaupun keuntungan yang diraih bisa besar
  2. Tingginya isu bahaya kerja risiko kerja baik pada tahap eksplorasi maupun produksi karena biasanya dilakukan di wilayah terpencil atau bahkan di tengah lautan dan minyak bumi atau gas itu sendiri memiliki bahaya yang signifikan serta faktor lainnya
  3. Tenaga kerja di industri migas banyak menggunakan kontraktor

Karena itu tidak aneh jika bagi perusahaan migas ada dua hal yang menjadi perhatian utama yakni kesehatan keselamatan kerja (K3) dan etika kerja.

            Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) di industri migas sangat kompleks, hampir semua aspek K3 diterapkan di industri migas, hal ini karena industri migas berhubungan dengan bahan berbahaya (minyak bumi itu sendiri mengandung substansi berbahaya), menggunakan proses yang berisiko tinggi, biasanya ada di remote area, masih menggunakan banyak manpower (minim otomasi), banyaknya pekerjaan lapangan, serta menggunakan peralatan, fasilitas atau konstruksi yang besar dan kompleks.

            Karena itu semua aspek K3 dimulai dari keselamatan proses, keselamatan pekerjaan listrik, keselamatan pekerjaan di ketinggian, keselamatan pekerjaan di area yang mungkin terbakar atau meledak, keselamatan berkendara (karena area yang remote dan luas), higiene industri, ergonomi perkantoran dan industri, keselamatan bahan kimia, keselamatan konstruksi atau alat berat, kebugaran kerja (untuk kerja berat), dan bahkan keselamatan pangan bagi pekerja pun (pekerja di remote area) diterapkan di industri migas. Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) menjadi aspek yang sangat krusial di industri ini. Sejarah perkembangan migas di Indonesia telah menunjukkan peningkatan yang signifikan terkait dengan Kesehatan Keselamatan Kerja serta lingkungan hidup, sehingga Kesehatan Keselamatan Kerja menjadi sorotan utama yang perlu mendapatkan pengawasan dari pemerintah  secara ketat.

            Pemerintah telah menyadari bahwa usaha migas memiliki risiko yang cukup tinggi dalam eksplorasi, eksploitasi maupun operasi yang mengharuskan perusahaan di bidang migas memiliki standar yang tinggi dalam teknis maupun kompetensi pekerja. Sehingga banyak peraturan perundangan yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur, membina, mengawasi sampai dengan membuat standar kompetensi bagi pekerja terkait K3 pada sektor migas.  

          Jika membicarakan standar kompetensi di Indonesia, kita akan membahas Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), SKKNI ini dikeluarkan oleh kementerian yang berwenang yaitu Kementerian Tenaga Kerja lewat Keputusan Menteri (Kepmen). Untuk SKKNI terkait Kesehatan Keselamatan Kerja di bidang migas kita bisa lihat pada Kepmenakertrans nomor 248 Tahun 2007tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja  telah menunjuk SKKNI membentuk Panitia Teknis dan Tim Teknis dengan merancang kode unit untuk menunjang kompetensi yang harus dimiliki oleh pekerja dengan level tertentu. Dalam peraturan tersebut ada beberapa level kompetensi kerja nasional Indonesia, level yang tertinggi adalah Pengawas Utama K3, di level menengah adalah Pengawas K3, dan yang paling dasar adalah Operator K3.

                                                                                                        

Pada kegiatan usaha migas, kecelakaan kerja dibagi menjadi empat klasifikasi yaitu:

  1. Ringan, kecelakaan yang tidak menimbulkan kehilangan hari kerja (pertolongan pertama/first aid).
  2. Sedang, kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja (tidak mampu bekerja sementara) dan diduga tidak akan menimbulkan cacat jasmani dan atau rohani yang akan mengganggu tugas pekerjaannya.
  3. Berat, kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan diduga akan menimbulkan cacat jasmani atau rohani yang akan mengganggu tugas dan pekerjaannya.
  4. Meninggal/fatal, kecelakaan yang menimbulkan kematian segera atau dalam jangka waktu 24 jam setelah terjadinya kecelakaan

            UU No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi mengamanatkan kepada badan usaha dan atau bentuk usaha tetap, wajib menjamin standar dan mutu, menerapkan kaidah keteknikan yang baik, keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup, mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat dan produk dalam negeri.

Keselamatan migas adalah ketentuan tentang standardisasi peralatan, sumber daya manusia, pedoman umum instalasi migas dan prosedur kerja agar instalasi migas dapat beroperasi dengan andal, aman dan akrab lingkungan agar dapat menciptakan kondisi aman dan sehat bagi pekerja (K3), aman bagi masyarakat umum (KU), aman bagi lingkungan (KL) serta aman dan andal bagi instalasi migas sendiri (KI).

manfaat dari k3l sendiri antara lain :

  • MENCEGAH TERJADINYA KECELAKAAN KERJA
  • MENCEGAH PENYAKIT AKIBAT KERJA
  • MEMELIHARA KEAMANAN LINGKUNGAN KERJA
  • MENCEGAH TINDAKAN TIDAK AMAN
  • MEMELIHARA KELANCARAN PROSES DAN PRODUKTIVITAS KERJA

            dalam bekerja pekerja harus selalu memperhatikan keselamatan dalam bekerja, pekerja adalah aset paling berharga dalam prusahaan oleh sebab itu perkerja harus mendapat perlindungan bagi keamanan dan kesehatan pekerja agar terhindar dari kecelakaan kerja. Agar keselamatan pekerja dapat tercapai, persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain terdapatnya standardisasi kompetensi, tempat kerja dan lingkungan kerja yang baik, prosedur kerja dan menggunakan alat pelindung diri (APD) bagi yang bekerja di tempat berbahaya.

 

Profil Penulis
agung dwi aryansyah
Author: agung dwi aryansyah
Mengenai Penulis