Image result for wood pellet

Aktifitas penambangan di Indonesia ini bagaikan koin bermata dua yang memiliki satu sisi baik dan sisi yang berlawanan, yang merupakan sisi kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat besar. Dalam kondisi kemakmuran, sector ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun.

                Sejak tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia menjadi eksportir tertinggi dalam batubara thermal. Jumlah dari batubara thermal yang diekspor terdiri dari 2 jenis batubara, yaitu kualitas menengah (antara 5100 an 6100 cal / gram) dan kualitas rendah (dibawah 5100 cal/gram). Peminat batubara Indonesia kebanyakan berasal dari Cina dan India. Dikutip dari BP Statistical of World Energy, Indonesia merupakan peringkat ke 9 dengan produksi seitar 2,2 persen dari total cadangan batubara global. Sekitar 60 persen dari cadangan coal total Indonesia adalah batubara kualitas rendah yang lebih murah memiliki komposisi kurang dari 6100 cal/ gram. Dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia batubara diperkirakan akan habis pada 83 tahun mendatang apabila terus dilakukan tingkat produksi seperti ini.

                Namun keuntungan batubara tidak sebanding dengan rusaknya lingkungan kata Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Yuyun Harwono. Menurut Yuyun, dirinya tidak sepakat dengan pernyataan kalangan industri batubara yang menyatakan bahwa komoditas ini sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dan menyumbang devisa negara. Nyatanya hasil perhitungan Jambi sejak tahun 2010 hingga 2013 misalnya, potensi kerugian daerah akibat bencana ekologis seperti tanah longsor  dan banjir mencapai Rp.50,46 miliar lebih. Padahal dari sector tambang, royalty yang masuk ke provinsi Jambi hanya mencapai Rp.10 miliar.

                Demi mengurangi produksi batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik, terdapat alternative dengan penggunaan Wood Pellet. Berbeda dengan batubara biasa, Wood Pellet ini memiliki kalori yang mencapai 4.800 kilo kalori (kkal). Bahkan kalau ditambah jadi arang aktif atau bio car coal kalorinya bias mencapai 7.500 kkal.

                Hasil dari produk limbah batubara termasuk kategori golongan limbah B3 atau berbahaya, sedangkan abu dari Wood Pellet bias langsung diaplikasikan ketanah sebagai pupuk. Batubara juga susah dibakar dan jika telah terbakar maka harus terbakar hingga habis dan mati. Sedangkan Wood Pellet itu seperti kayu bakar, namun memiliki tingkat kalori yang sama dengan batubara. Wood Pellet dapat dimatikan jika tidak dipakai dan dapat dipakai kembali.

                Bahan baku dari wood pellet merupakan kayu yang bagus dan keras, misalnya Caliandra callothyrsus. Pohon ini merupakan tanaman yang bandel dikarenakan dapat hidup di lahan dengan tingkat kadar air yang sangat rendah sampai lahan yang memiliki tanah yang subur. Pohon ini dapat juga tumbuh di lahan dengan ketinggian rendah seperti sekitaran pantai, hingga jauh diatas permukaan laut seperti di gunung atau perbukitan.

                Beberapa alasan batubara akan tergantikan oleh energy baru terbarukan ini adalah, Wood Pellet ramah lingkungan , oleh karena tu pemanfaatan batubara di skala Internasional berkurang secara bertahap. Kalori wood pellet setara dengan kalori batubara rendah. Produksi karbon hasil dari pembakaran lebih rendah dibandingkan batubara. Biaya Listrik yang dihasilkan wood pellet sama dengan yang dihasilkan oleh gas alam yang tentu saja lebis cheap dari batubara. Permintaan Wood Pellet berkelanjutan dalam jangka panjang memotivasi pemangku kepentingan untuk melestarikan dan memperbaiki manajemen hutan, sekaligus mengembangkan lahan kritis bekas tambang batubara, timah, emas, nikel, dan lain lain.

Profil Penulis
M Bagus Herlambang
Author: M Bagus Herlambang
Mengenai Penulis