Minyak bumi merupakan produk hasil pelapukan sisa-sisa organisme,  seperti tumbuhan, hewan dan jasad renik yang tertimbun selama jutaan tahun, oleh karena itu, minyak bumi sering disebut sebagai bahan bakar fosil. Minyak bumi tergolong sebagai sumber daya alam tak terbarukan sebagaimana proses pembentukannya yang sangat lama, data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Dengan degradasi cadangan minyak bumi yang terus meningkat maka banyak ilmuwan yang berlomba-lomba meneliti dan menemukan berbagai bahan alternatif pengganti minyak bumi. Sebagai contoh adalah alternatif pengganti bahan bakar minyak yang telah banyak diteliti dan bahkan sudah ada yang diuji coba.

Namun ada salah satu bahan yang hingga saat ini masih belum banyak dilakukan penelitian untuk menggantikan yaitu pelumas atau oli, padahal kita tahu bahwa pelumas adalah komponen yang penting di dalam mesin, baik mesin kendaraan, mesin industri, dan berbagai mesin lainnya. Selain sebagai pelindung bagian mesin yang bergerak dengan cara mencegah kontak atau gesekan langsung dua logam yang berhubungan, ada banyak lagi fungsi pelumas sebagai bahan vital pada suatu kerja mesin, antara lain untuk mengurangi gesekan, sebagai pendingin, sebagai perapat, sebagai pembersih, sebagai anti karat, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan berbagai riset untuk inovasi bahan alternatif minyak bumi, hanya sedikit yang meneliti alternatif untuk pelumas atau oli. Salah satu yang digadang-gadang dapat menjadi aternatif dalam penggunaan pelumas pada mesin ialah dengan menggunakan minyak nabati (minyak dari tumbuh-tumbuhan) seperti minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan lain sebagainya.

Dari segi ketersediaan bahan baku di alam, Indonesia negara yang kaya akan hasil pertanian seperti kelapa sawit dan kelapa. Untuk kelapa sawit, Indonesia memiliki posisi sangat unggul karena negeri ini sekarang merupakan penghasil dan pengekspor terbesar minyak kelapa sawit di seluruh dunia. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), angka produksi minyak kelapa sawit Indonesia ada pada kisaran 41,98 juta ton pada tahun 2017, yang menunjukkan peningkatan produksi sebesar 18% jika dibandingkan dengan produksi pada tahun 2016 yakni sebesar 35,57 juta ton. Adapun untuk angka ekspor juga mengalami kenaikan sebesar 23% yang sebelumnya pada tahun 2016 sebesar 25,11 juta ton kemudian naik menjadi 31,05 juta ton pada tahun 2017. Angka ini menjadi bukti bahwa power produksi dan cadangan minyak kelapa sawit di Indonesia masih sangat memungkinkan untuk menjawab tantangan krisis minyak bumi yang akan melanda di tahun-tahun kedepan.

 Perbandingan sifat fisika antara minyak nabati dan minyak bumi dapat dilihat pada gambar berikut :

 

Pada gambar perbandingan diatas dapat dilihat bahwa rasio antara keduanya tidak terlalu jauh berbeda, ini menunjukkan masih dimungkinkan penggunaan minyak nabati sebagai pengganti minyak bumi dalam semua proses yang melibatkan kerja mesin.

Penggunaan pelumas dari minyak nabati sudah pernah dicoba di Amerika Serikat, pada tahun 2005, mesin yang menggunakan pelumas nabati adalah mesin untuk industri makanan. Minyak dibuat dari lobak, kacang kedelai, bunga matahari dan jagung. Akan tetapi dalam proses perkembangannya penggunaan minyak nabati di negara seperti Amerika Serikat dirasa kurang efektif karena ketersediaan bahan baku yang sulit karena negara ini memasok bahan baku pembuatan minyak nabati dengan impor dari negara lain.

 Inilah yang menjadi kesempatan bagi Indonesia, negara yang kaya akan perkebunan penghasil minyak nabati berkualitas, yang dapat menjadikan Indonesia negara pengekspor cadangan minyak dunia. Angka produksi minyak nabati untuk mesin industri di dunia hanya 2% saja, ini menunjukkan ada peluang besar untuk Indonesia memajukan 2 sektor sekaligus yaitu sektor industri dan perkebunan. Yang kemudian menjadi tantangan adalah menciptakan proses yang ideal dan menghasilkan produk minyak yang dapat bersaing di era global seperti saat ini.

Profil Penulis
Erik Salindra
Author: Erik Salindra
Mengenai Penulis