Nabilah Putri Fakhirah

Universitas Sriwijaya

         Minyak bumi merupakan bahan bakar fosil yang digunakan sebagai bahan baku untuk bahan bakar minyak, bensin, dan berbagai produk kimia lainnya. Minyak bumi merupakan sumber energi yang penting karena memiliki presentase yang signifikan dalam memenuhi konsumsi energi dunia. Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia, tercatat pada tahun 2015 Indonesia memproduksi sebesar 825.000 barrel per hari (sumber : BP Statistical Review of World Energy 2016). Namun dengan seiringnya zaman cadangan minyak bumi di Indonesia semakin berkurang dan diperkirakan akan habis pada tahun 2030, berdasarkan data cadangan minyak bumi di Indonesia sebesar 3,3 miliar barrel. Tercatat pada tahun 2009 minyak bumi yang terbukti diproduksi sebesar 4303,10 sedangkan pada 2018 hanya sebesar 3154,30 dengan penurunan sekitar 16,6 sampai 190 setiap tahunnya (sumber : Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM). Maka muncul beberapa upaya yang dapat dan telah dilakukan Indonesia guna meningkatkan produksi minyak bumi dalam jangka waktu yang panjang dengan mengoptimalkan teknologi-teknologi yang ada.

       Salah satu teknologi yang dapat mengoptimalkan peningkatan produksi minyak bumi adalah Enhanced Oil Recovery (EOR). Berkaitan dengan pengurasan minyak bumi (peningkatan recovery factor), data dari Lemigas menunjukkan bahwa sekitar 62% dari isi awal minyak, masih tertinggal dalam reservoir setelah pengurasan primer. Apabila diasumsikan tidak ada penemuan cadangan baru, berdasarkan rasio R/P (Reserve/Production) tahun 2014, maka minyak bumi akan habis dalam 11 tahun, gas bumi 37 tahun, dan batubara 70 tahun. Cadangan ini bahkan akan lebih cepat habis dari tahun yang disebut di atas karena kecenderungan produksi energi fosil yang terus meningkat. Di Indonesia, masih banyak cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi. Dari 128 cekungan saat ini, baru sekitar 38 cekungan yang sudah dieksplorasi sehingga sisanya masih berpotensi ditemukan cadangan minyak maupun gas bumi. Proven resources dengan tingkat kesulitan eksplorasi terendah praktis kini telah habis dieksploitasi dan menyisakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Oleh karenanya, diperlukan teknologi yang lebih canggih.

        Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat terutama di bidang perminyakan, ditemukan salah satu metode untuk membantu meningkatkan produksi minyak. Enhanced Oil Recovery (EOR) merupakan teknologi yang berhubungan dengan proses di reservoir terkait dengan pengangkatan minyak yang belum bisa terangkat dengan cara pengangkatan primer dan sekunder (primary dan secondary recovery). Usaha untuk meningkatkan faktor perolehan minyak bumi biasanya dimulai dengan tahap primer (Primary Recovery) disusul oleh teknologi tahap sekunder (Secondary Recovery) untuk menambah energi reservoir dengan menginjeksi air atau gas. Usaha berikutnya adalah meningkatkan efisiensi pendesakan (displacement efficiency) dan menambah efisiensi penyapuan secara volumetric, sekaligus menurunkan saturasi minyak bumi yang tersisa (residual oil saturation).

       Di Indonesia, EOR sudah masa uji coba. Wilayah Sumatera bagian Tengah dan Sumatera Selatan menjadi potensi terbesar EOR khususnya injeksi kimia dan CO2. Namun, saat ini pengembangannya belum mencapai tahap implementasi dan komersial di lapangan, serta hambatan lain seperti perencanaan yang membutuhkan waktu lama, mulai dari percobaan lapangan hingga menemukan komposisi injeksi yang tepat untuk diaplikasikan. Salah satu EOR yang paling sukses di Indonesia adalah injeksi steam yang diaplikasikan pada lapangan Duri, Sumatra. Pemerintah pun saat ini sedang menggencarkan penggunaan EOR di lapangan produksi. Salah satu dukungan pemerintah adalah memberikan insentif kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang menjalankan EOR.

          Upaya peningkatan produksi minyak bumi dalam jangka pendek juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi-teknologi seperti underbalance drilling, pemasangan artificial lift, submersible pump atau fracking. Teknologi-teknologi tersebut beberapa diantaranya telah diterapkan, salah satunya adalah teknologi underbalance drilling oleh Pertamina EP Jatibarang Field. Kelebihan dari teknologi underbalance drilling ini yaitu tekanan hidrostatik kolom fluida pemboran yang digunakan lebih kecil daripada tekanan formasi sehingga menimbulkan aliran gas, air, hidrokarbon dari formasi ke lubang sumur secara terus menerus (Herman Rachmadi, Jatibarang Field Manager, 2018). Kemudian ada teknologi artificial lift, yaitu mekanisme untuk mengangkat hidrokarbon dari dalam sumur ke atas permukaan. Kelebihan dari teknologi artificial lift adalah mampu mendorong minyak sampai ke permukaan walaupun tekanan reservoirnya tidak cukup tinggi. Selain itu, upaya yang dapat dilakukan guna menaikkan produksi minyak bumi dalam adalah dengan menemukan cadangan-cadangan baru dengan meningkatkan upaya-upaya eksplorasi.

 

Profil Penulis
Nabilah Putri Fakhirah
Author: Nabilah Putri Fakhirah
Mengenai Penulis