Sisi Gelap Right of Way

Siapkah Homo sapiens Menanggung Dampaknya ?

Justine Tanwendo

Universitas Sriwijaya

        Industri gas telah berkembang selama puluhan tahun terakhir sesuai dengan berkembangnya permintaan pasar akan produk ini. Untuk memenuhi permintaan yang tinggi tersebut, diperlukan jalur distribusi yang mampu menghubungkan titik produksi dengan pasar dan untuk itulah gas pipeline dan RoW (Right of Way) dibutuhkan. Namun, pembangunan gas pipeline ini tidaklah lepas dari dampak negatif, khususnya dampak negatif terhadap lingkungan.

         Dampak negatif yang paling jelas dari pembangunan jalur perpipaan ini tentu saja adalah pembabatan hutan. Untuk melancarkan proses pembuatannya, proses pertama yang dilakukan dalam pembuatan jalur perpiapaan gas adalah dengan mengeliminasi semua ‘gangguan’ yang ada di sepanjang jalur perpipaan tersebut. Ironisnya kebanyakan gangguan yang dieliminasi adalah pohon.

         Menurut data yang dikumpulkan Agbagwa I.O., dalam penelitiannya dia mengungkapkan bahwa disekitaran area Niger Delta saja ada 495 hektar lahan hijau yang terdiri dari rawa-rawa, hutan mangrove, pulau penghalang, dan hutan lindung yang ‘dibersihkan’ untuk RoW. Proses pembersihan ini juga membersihkan 9,642,000 pohon yang jka diaproksimasikan, maka aktivitas pembangunan pipa gas di daerah Niger Delta ini telah membantu “membersihkan” 1.137.119.628 kilogram oksigen dari atmosfer bumi yang akan diproduksi setiap tahunnya. Fakta ini merupakan suatu ironi bagi semboyan “Save Our Planet” dan suatu tindakan pembohongan terhadap Protokol Kyoto.

         Setelah mengetahui fakta tersebut, pastilah muncul pertanyaan tentang legalitas dan tindak lanjut dari proses pemasangan pipa gas tersebut. Sebenarnya industri migas adalah industri yang memiliki sistem regulasi tinggi sehingga tentu saja seharusnya aktivitas pembangunan jalur perpipaan ini memiliki regulasi yang tinngi, setidaknya regulasi tentang penghijauan kembali. Tentu saja agar industri ini tetap berjalan, untuk menghindari sanksi, dan untuk membantu menyelamatkan dunia dari ancaman negara api, pelaku industri migas telah melakukan tindakan penghijauan. Upaya penghijauan yang nyata dapat dilihat oleh masyarakat Indonesia adalah penanaman pohon bakau oleh PT PGN dalam pembangunan jalur perpipaan gas Sumsel-Banten. Upaya ini harus diapresiasi dan merupakan tindakan yang terpuji, tetapi muncul pertanyaan baru mengenai hal ini.

       Seperti yang kita tahu setiap jenis flora dan fauna memiliki habitat dan perilaku masing-masing. Jika habitat suatu jenis fauna tertentu dihilangkan dan diganti dengan habitat bagi fauna lainnya, maka itu akan menjadi sangat tidak adil bagi fauna yang habitatnya hilang. Habitat yang hilang akan menyebabkan pertemuan antara satwa liar dan manusia menjadi lebih sering dan buntut dari pertemuan itu selalu berakhir buruk bagi kedua belah pihak, manusia sebagai individu dan satwa tersebut sebagai suatu spesies.

         Selain pertimbangan mengenai habitat satwa, perlu juga dipertimbangan mengenai pohon-pohon yang ditebang. Walaupun tindakan penghijauan telah dilakukan, diperlukan waktu puluhan tahun bagi pohon untuk mencapai ukuran seperti pohon-pohon sebelumnya. Oleh karena itu diperlukan peninjauan ulang tentang regulasi penghijauan ini.


Sumber : The Conversation

 

         Masalah yang ditimbulkan oleh proses pembangunan perpipaan gas ini memang sangat kritis, tetapi alangkah baiknya kita mengingat perkataan John F. Kennedy dalam pidatonya “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.” Pernyataan tersebut secara tidak langsung berarti  akan lebih baik jika kita, khusunya engineer teknik kimia mencari solusi untuk masalah ini ketimbang terus menerus memberikan protes. Solusi yang sangat memungkinkan dan dinilai tepat adalah sistem pemasangan jalur pipa dengan pengeboran atau pembuatan terowongan. Pembuatan terowongan seperti pada pembuatan saluran pembuangan di kota-kota besar dunia seperti Qatar akan sangat mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan.

       Selain teknik pembuatan terowongan, teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan mencari cara pengemasan gas yang lebih efisien, baik efisien dalam penggunaan dan dalam transportasi sehingga proyek besar pembangunan gas pipeline tidak diperlukan lagi. Teknik kompresi gas yang lebih baik dimana dalam satu tabung gas yang lebih kecil dapat memuat gas dengan jumlah yang sama dengan tabung gas yang beredar seperti sekarang merupakan target utama yang perlu dicapai.

        Pertanyaan pertama yang muncul pastilah mengenai pemilihan bahan. Compressed gas sangatlah berbahaya karena jika vessel yang digunakan tidak mampu menahan tekanan tinggi dari gas didalamnya maka hal tersebut akan sangat membahayakan di sektor produksi, transportasi, dan khususnya berbahaya bagi konsumen. Namun, hal ini mungkin dapat diatasi dengan penggunaan maraging steels.

         Maraging steels adalah jenis baja yang memiliki 15-25% nikel dalam campurannya dan mempunyai nilai yield strength sepuluh kali lebih besar ketimbang yield strength carbon steel. Oleh karena itu maraging steel juga dikenal sebagai baja yang memiliki strength dan toughness yang superior ketimbang jenis baja lain tanpa menghilangkan ductility. Secara keseluruhan, maraging steel adalah bahan yang dinilai cocok untuk menunaikan tugas sebagai "future gas vessel".

       Tentunya ada banyak tawaran solusi lain dari individu-individu yang lebih berkompeten di bidang ini yang dapat digunakan oleh pelaku industri untuk menuntaskan permasalahan ini. Jika solusi-solusi tersebut telah dilakukan dan diimplementasikan pada setiap kegia maka tentunya artikel ini akan mengangkat topik yang berbeda. Kenyataannya, banyak solusi yang ditawarkan mengharuskan para pelaku industri mengeluarkan dana investasi yang jauh lebih besar.

          Dana investasi yang lebih besar berarti modal yang diperlukan juga lebih besar dan modal yang besar berarti harga jual yang lebih tinggi. Hal ini tentunya juga tidak akan menjadi masalah bagi sektor industri jika konsumen tidak marah, demo, bakar ban, dan melakukan berbagai tindakan protes. Faktanya, kesalahan tidak bisa dilimpahkan pada pelaku industri karena semua tindakan sektor industri ditentukan oleh konsumennya. Konsumen yang menghendaki produk yang murah dengan kualitas tinggi adalah sebab kenapa banyak faktor lingkungan yang diabaikan. Lagipula, harapan akan perbaikan lingkungan hidup di dunia yang masih menginginkan banyak bahan bakar fosil hanyalah harapan kosong.

         Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menawarkan solusi lawas yang telah disenandungkan bertahun-tahun lalu, “Eco not Ego”. Manusia harus menyadari bahwa posisinya sebagai makhluk hidup paling superior di bumi seharusnya mencari cara agar keselarasan antar makhluk hidup dapat tercapai ketimbang menganggap spesies Homo sapiens sebagai spesies yang berada di puncak rantai makanan dan berhak memanfaatkan semua makhluk hidup lain sesuai kehendak mereka tanpa mempertimbangkan keberlangsungan hidup makhluk hidup tersebut.

Sumber : Recycling Sutainabiliy 4A

         Poin yang dapat diambil dari permasalahan ini adalah manusia harus memahami konsep “yang kuat melindungi yang lemah” agar hubungan manusia dan alam dapat menjadi lebih baik. Tindakan penghijauan yang dilakukan juga harus lebih dikhusukan untuk menciptakan kembali habitat yang lama ketimbang melakukan penghijauan dengan menanam pohon dengan jenis yang berbeda di ekosistem yang berbeda pula. Manusia juga harus memahami bahwa membayar harga tinggi untuk memperpanjang umur bumi akan lebih baik ketimbang menerima produk dengan harga murah tetapi mengorbankan planet tempat tinggal kita. Hal ini harus segera dilakukan karena jika tidak maka manusia di masa mendatang tidak akan siap menanggung dampaknya. Bahkan, akan lebih baik jika Thanos benar-benar melenyapkan separuh umat manusia agar spesies lain di bumi dan manusia di masa mendatang dapat bertahan.

Profil Penulis
Justine Tanwendo
Author: Justine Tanwendo
Mengenai Penulis