Minyak bumi merupakan salah satu produk pertambangan yang kebutuhannya sangat diperlukan oleh masyarakat di seluruh dunia. Dari segi bentuk fisik, minyak bumi memiliki bentuk cairan yang kental, berwarna coklat gelap, atau kehijauan, atau hitam yang mudah terbakar. Minyak bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Disamping itu minyak bumi juga memiliki julukan ‘emas hitam’ yang disebabkan oleh cairannya yang kental dan juga warnanya yang coklat kegelapan serta kebutuhannya dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh dunia terutama sebagai bahan bakar, baik untuk kendaraan ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya (Nurlita, 2019).


Salah satu turunan minyak bumi yang saat ini sering digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor adalah bensin atau gasoline. Bensin terdiri dari campuran kompleks dari hidrokarbon yang sebagian besar terdiri dari 4 sampai 10 atom karbon per molekul (Dwi, 2013). Bensin adalah campuran kompleks hidrokarbon yang biasanya mendidih di bawah 355 ° F (180 ° C) atau paling banyak, di bawah 390 ° F atau sekitar 200 ° C (Nibal dkk, 2014). Konstituen hidrokarbon dalam kisaran ini adalah mereka yang memiliki 4 hingga 12 atom karbon dalam struktur molekulnya. Hidrokarbon ini termasuk dalam tiga kategori seperti parafin, olefin dan aromatik (Nibal dkk, 2014) .

 

Salah satu kriteria yang baik untuk bensin adalah angka oktan atau octane number. Octane Number (ON) adalah ukuran dari bahan bakar bensin untuk tahan terhadap ketukan atau knocking (Marquard dan Bahls, 2015). Dalam menentukan angka oktan, terdapat perbedaan utama antara Research Octane Number (RON) dan Motor Octane Number (MON). Research Octane Number (RON) menjelaskan tentang perilaku bahan bakar di engine pada suhu dan kecepatan yang lebih rendah, dan merupakan upaya untuk mensimulasikan perilaku akselerasi (Marquard dan Bahls, 2015). Motor Octane Number (MON) menggambarkan perilaku bahan bakar di engine pada suhu dan kecepatan tinggi - rentang kecepatan penuh, sebanding dengan melaju cepat di jalan raya. Angka oktan ini umumnya tidak diketahui publik, karena tidak ditentukan di stasiun layanan (Marquard dan Bahls, 2015).


Namun, menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil, dan meningkatnya pemanasan global dan buruknya kualitas udara yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah alat transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor beberapa tahun terakhir cukup meningkat secara signifikan.

 Jenis Kendaraan Bermotor   Jumlah Kendaraan Bermotor (Unit) 
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
 Mobil Penumpang      8.891.041     9.548.866  10.432.259     11.484.514     12.599.038     13.480.973     14.580.666     15.493.068
 Mobil Bis      2.250.109     2.254.406     2.273.821       2.286.309       2.398.846       2.420.917       2.486.898       2.509.258
 Mobil Barang      4.687.789     4.958.738     5.286.061       5.615.494       6.235.136       6.611.028       7.063.433       7.523.550
 Sepeda motor   61.078.188  68.839.341  76.381.183     84.732.652     92.976.240     98.881.267  105.150.082  113.030.793
 Jumlah   76.907.127  85.601.351  94.373.324  104.118.969  114.209.260  121.394.185  129.281.079  138.556.669

Dari tabel diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dari tahun ketahun, kendaraan bermotor di indonesia terus meningkat. Dengan demikian kebutuhan akan bahan bakar termasuk bensin juga akan terus meningkat. Selain itu, dampak dari penggunaan bahan bakar yang meningkat juga akan menyebabkan emisi gas buang juga semakin meningkat sebagai efek samping dari hasil pembakaran. Emisi Gas Buang adalah zat pencemar udara yang dihasilkan oleh pembakaran pada kendaraan bermotor yaitu CO, CO2, HC dan NOx. Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna karena kurangnya oksigen dalam  ruang bakar atau kurangnya waktu siklus dalam pembakaran. Premium adalah senyawa hidrokarbon (HC), jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya premium yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila emisi HC tinggi, menunjukkan ada 2 kemungkinan penyebabnya yaitu AFR yang tidak tepat (terlalu kaya) atau premium tidak terbakar dengan sempurna (Misfiring) di ruang bakar (Syarifuddin, 2015).

Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengurangi emisi gas buang dan meningkatkan performa mesin. Sebagai bahan bakar pengganti bensin, bahan bakar campuran bensin-bioethanol dapat meningkatkan kinerja mesin. Aditif yang berbeda diaplikasikan untuk mencapai spesifikasi yang diperlukan dari bensin kelas super yang sangat anti-ketukan yang digunakan saat ini (Ibrahim dkk, 2018). Komponen selektif digunakan sebagai agen antiknock untuk meningkatkan jumlah oktan bensin tanpa timbal dibagi menjadi banyak kelompok: logam, alkohol, aromatik, dan lain-lain (Nibal dkk, 2014). Secara historis, timah telah menjadi sumber penting peningkatan angka oktan. Karena bahaya tetra etil timbal, penggunaannya telah dilarang di hampir semua negara. Oleh karena itu, banyak peneliti-peniliti di seluruh dunia mencari bahan –bahan lain yang dapat digunakan guna untuk meningkatkan kualitas dari bensin.

Alkohol memiliki angka oktan lebih tinggi daripada bensin biasa. Mereka lebih efektif dalam bensin oktan rendah daripada dalam bensin oktan tinggi. Perilaku alkohol dalam komponen campuran sebagai penyempurnaan oktan bensin tidak diketahui dan literatur subjek ini sedikit (Nibal dkk, 2014). Berdasarkan data hasil percobaan, Bioethanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang paling menguntungkan untuk dicampurkan dengan pertalite dan digunakan pada mesin pembakaran dalam. Selain itu, bahan bakar bioetanol memiliki emisi gas buang yang rendah sehingga ramah terhadap lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Dari segi penggunaan, penyimpanan dan transportasi bahan bakar bioethanol mirip dengan bahan bakar bensin (Ibrahim dkk, 2018).

Dari hasil analisisa yang telah dilakukan oleh orang, didapatkan kesimpulan bahwa; Hasil percobaan proyek ini untuk metode pengukuran RON menunjukkan analisis bensin yang cepat, akurat, dan andal; Semua komponen kimia selektif bertindak positif untuk meningkatkan jumlah oktan bensin; Octane Booster dari proyek ini adalah Aniline, yang tercatat sebagai RON terbesar; Campuran komponen dibuat dari komponen selektif aktif; termasuk alkohol dan senyawa aromatik; Campuran komponen persiapan terbaik lebih baik bekerja dengan bensin oktan tinggi daripada menggunakan masing-masing komponen saja (Ibrahim dkk, 2018) . Penelitian lagi juga menyebutkan bahwa Pencampuran methanol pada bahan bakar, mengakibatkan terjadinya penurunan emisi gas buang, meningkatnya persentase methanol pada bahan bakar mengakibatkan konsentrasi CO menurun yang disebabkan oleh kandungan oksigen didalam methanol lebih banyak (Syarifuddin, 2015).

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis, 1949-2017. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/ 1133 .
  2. Dwi, Krisna. 2013. Cara meningkatkan bilangan oktan yang aman. https://bisakimia.com/2013/04/13/cara-meningkatkan-bilangan-oktan-yang-aman/
  3. Ibrahim, Husin dkk. 2018. KINERJA MESIN DAN EMISI GAS BUANG MESIN BENSIN MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR CAMPURAN PERTALITE-BIOETANOL TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT. Piston. 2(2): 40-45.
  4. Nurlita, Shafira. 2019. MINYAK BUMI : Proses Pembentukan, Manfaat, Komposisi, Pengertian. https://thegorbalsla.com/minyak-bumi/. (Diakses pada tanggal 19 April 2019)
  5. Marquard dan Bahls. 2015. Octane Number (RON, MON) & Knock Resistance. https://www.marquard-bahls.com/en/news-info/glossary/detail/term/octane-number-ron-mon.html
  6. Nibal, H. Al-Mashhadani dkk. Improvement of Gasoline Octane Number by Using Organic Compounds. Baghdad Science Journal. 11(2): 502-508.
  7. Syarifuddin, Ahmad. 2015. Pengaruh Methanol Kadar Tinggi Terhadap Performa dan Penurunan Emisi Gas Buang Mesin Bensin dengan Sistem Hot EGR. Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-10 2015.
Profil Penulis
Ardi Perwira Sakti
Author: Ardi Perwira Sakti
Mengenai Penulis