Minyak bumi merupakan salah satu sumber bahan bakar terbesar dunia yang diolah menjadi beberapa fraksi salah satunya adalah kerosin ( minyak tanah ). Kerosin atau disebut parrafin merupakan hasil pengolahan minyak bumi dengan cara destilasi fraksionasi pada suhu 150°C-275°C.

 

       Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki banyak cadangan minyak yang tersebar di berbagai daerah. Terlebih lagi Indonesia memiliki banyak pulau dan berada di garis khatulistiwa sehingga dimungkinkan ekspetasi terhadap cadangan migas banyak ditemukan. Teknologi yang digunakan di Indonesia sudah cukup mahir dalam pengolahan migas. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia juga mengimpor kerosin karena kebutuhan bahan bakar semakin meningkat sementara cadangan minyak bumi semakin lama berkurang.

 

       Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2016 (sumber : www.esdm.go.id/), tercatat investasi tahun 2016 menurun sekitar 29,18% atau sebesar US$ 5.247,97 juta dibandingkan tahun 2015. Indikasi penurunan investasi di bidang industri migas ini sudah terlihat dua tahun terakhir. Mengenai fakta penurunan investasi yang cukup signifikan, diperlukan sejumlah cara alternatif dalam mengolah kebutuhan bahan bakar sebagai upaya penggunaan cadangan migas secara optimal.

 

      Sebagai cara mengoptimalkan penggunaan migas, diperlukan disiplin ilmu teknik kimia dan industri dalam perkembangan kerosin. Sejauh ini, berkat penerapan ilmu teknik kimia dan industri kerosin telah banyak digunakan sebagai bahan bakar dalam keperluan rumah tangga seperti memasak, penerangan, dan pembasmi serangga. Namun kebanyakan orang telah meninggalkan penggunaan kerosin dan menggantikannya dengan bahan bakar yang lebih efektif dalam skala rumah tangga seperti penggunaan LPG sebagai bahan bakar memasak, dan listrik sebagai penerangan. Selain kebutuhan rumah tangga, kerosin saat ini terfokus sebagai penggunaan bahan bakar mesin jet yang disebut avtur. Avtur memiliki kemiripan sifat dengan kerosin yaitu volalitas yang kecil sehingga dapat meminimalisir kemungkinan kekurangan bahan bakar akibat penguapan pada saat pesawat terbang. Menurut ilmugeografi.com, " Mutu dari avtur ini dinilai dari beberapa aspek seperti kemurniannya, performa pada suhu yang rendah dan model pembakaran pada turbin. Berdasarkan aspek tersebut maka avtur harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sebelum digunakan seperti titik beku pada suhu maksimal -47 derajat Celcius dan titik nyala minimal pada suhu 38 derajat Celcius. " 

 

       Penggunaan kerosin sebagai bahan bakar mengalami perkembangan. Selain sebagai bahan bakar kompor, kerosin telah digunakan sebagai pelumas, penggerak diesel listrik, sumber pengolahan pupuk, sebagai bahan poliuretan, sebagai solvent pada industri, bahkan telah dilakukan uji sebagai bahan bakar kendaraan mobil yang sedang dikembangkan di Kediri. Dilansir dari halaman isroi.com, “ Ini merupakan salah satu ide kreatif untuk menyiasati melambungnya harga BBM. Di daerah-daerah seperti Kediri harga minyak tanah masih cukup rendah, yaitu sekitar Rp. 3.300/liter. Bisa dibandingkan dengan harga solar yang Rp. 6000/liter. Hebatnya lagi mobil ini jarang sekali bermasalah. Lampu-lampu masih sangat terang. Suaranya cukup halus, bahkan menurut saya lebih halus daripada suara mobil Panther yang juga bermesin diesel”. ( sumber https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/ )

 

Mesin kendaraan mobil yang menggunakan bahan bakar kerosin

( “Mesin kendaraan mobil yang menggunakan bahan bakar kerosin”

Sumber : https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/ )

 

      Berdasarkan optimalisasi kerosin yang telah dilakukan masyarakat, dapat dilihat bahwa kemajuan kerosin di era teknologi yang serba canggih sudah dilakukan di berbagai daerah secara antusias. Terlebih lagi tuntutan di perkotaan dimana harga BBM yang semakin meningkat membuat masyarakat mulai memperhatikan kembali bahan bakar kerosin yang sudah lama ditinggalkan.

 

        Hambatan terhadap perkembangan kerosin adalah kurangnya pengetahuan dan pembinaan tentang manfaat kerosin. Masyarakat di pedesaan saat ini hanya memanfaatkan kerosin sebagai bahan bakar kompor dan penerangan. Dimana hal ini menjadikan kerosin kurang berkembang di masyarakat pedesaan. Kurangnya sosialisasi pentingnya ilmu teknik kimia dan industri sebagai agen perubahan di masa yang akan datang. Ilmu teknik kimia dan industri sangat penting dalam kemajuan teknologi migas khususnya pada kerosin. Kurangnya dana dan lapangan kerja dalam mengembangkan kerosin sehingga mengurangi intensitas kepedulian masyarakat.

 

       Semakin maju teknologi, tidak menutup peluang terhadap perkembangan migas terutama kerosin yang telah jarang digunakan dengan harga jual yang masih rendah. Teknik kimia dan industri sangat dibutuhkan dalam perkembangan kerosin di masa yang akan datang. Tentu hal ini akan menjadi peluang untuk mengembangkan potensi bangsa, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan bagi lulusan teknik kimia. Diharapkan, aplikasi perkembangan kerosin dapat menjadi salah satu hal yang membawa Indonesia mencapai standar industri 4.0.

 

 

Daftar Pustaka

 

https://isroi.com/2008/10/20/mobil-berbahan-bakar-minyak-tanah/

https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-statistik-minyak-dan-gas-bumi-tahun-2016.pdf

 

 

Profil Penulis
Indry Permata Hani
Author: Indry Permata Hani
Mengenai Penulis