Informasi teknologi saat ini sedang hangat-hangatnya “menghidangkan”  topik sampah sebagai santapan utama dalam percakapan Dunia. Hal ini didukung oleh banyaknya kasus pencemaran sampah yang berakibat fatal bagi keberlangsungan hidup, seperti pencemaran mikroba di laut dan tanah, hewan hewan laut yang mati akibat tak sengaja memakan sampah dan masih banyak lagi. Salah satu jenis sampah yang sangat menjadi perhatian dunia adalah “Plastik”.  Tak dapat disangkal, faktanya , berdasarkan data yang diambil dari ScienceMag, jumlah produksi sampah plastik global sejak 1950 hingga 2015 cenderung selalu menunjukkan peningkatan. Pada 1950, produksi sampah dunia ada di angka 2 juta ton per tahun. Sementara 65 tahun setelah itu, pada tahun 2015 produksi sampah sudah ada di angka 381 juta ton per tahun. Angka ini meningkat 190 kali lipat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 5,8 ton per tahun. Tentu saja hal ini perlu diwaspadai, jika tren pada data terus menunjukan peningkatan dengan fakta bahwa degradasi sampah plastik bisa mencapai ratusan bahkan ribuan tahun tergantung dari jenis dan panjang rantai polimer yang terbentuk, dapat dibayangkan bumi akan berselimut sampah plastik di 20-30 tahun kedepan. Topik sampah tak hanya menjadi buah bibir di dunia, di Indonesia sendiri topik sampah masih menjadi tamparan yang memilukan sejak Jenna R Jambec pada tahun 2015 mengeluarkan laporan penelitiannya mengenai jumlah sampah plastik di laut dunia dan Indonesia masuk menjadi peringkat kedua dengan jumlah sampah plastik di lautan terbesar setelah Cina. Namun hal ini sudah dibantah oleh Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (INAplas) melalui pertemuan dengan Jambec yang menyatakan jika data dari Jambec hanya mengambil dari beberapa lautan Indonesia dan tidak menyeluruh karena terdapat perbedaan data yang sangat signifikan dengan Inaplas.

Tabel laporan penelitian Jenna R Jambec


Sumber: jambeck.engr.uga.edu/landplasticinput


Terlepas dari perdebatan antara Jambec dan Inaplas, data informasi dari Jambec menyadarkan kita bahwa ada isu  besar yang sedang mengancam lingkungan kita, lalu apa tindakan kita sebagai penghuni bumi ini untuk menekan jumlah sampah plastik? Bersama artikel ini, penulis mencoba mengulas  hal-hal yang dapat membantu meminimalisir keberadaan sampah plastik dari berbagai sisi.


Plastik merupakan hasil dari polimerisasi gabungan beberapa monomer secara linear ataupun random. Plastik sebenarnya dapat dibentuk secara organik ataupun sintetik. Sejarahnya plastik dalam buku “Plastic Material” yang ditulis oleh J.A Brydson berawal dari Eropa tahun 1850 oleh Alexandre Parkes yang melakukan penelitian terhadap benda elastis dan tahan air yang kemudian temuannya ini disebut dengan parkesin dan dilanjutkan di Amerika pada tahun 1865 oleh John Wesley Hyatt yang  menemukan material yang mampu membuat bola biliar tanpa adanya percikan api saat bertabrakan. Lalu pada tahun 1910 mulailah muncul resin sintetik dari phenolic oleh  Hendric Baekeland pada tahun 1910 bersama dengan perusahaan bakelitenya memproduksi kabel listrik. Sejak saat itu  penemuan jenis-jenis resin sintetik lainnya berkembang dengan cepat diantaranya PVC (1930), Polyethylene (1931), nylon (1939) dan secara komersial resin plastik dalam bentuk produk mulai diperkenalkan kepada dunia pada tahun 1955.

Plastik secara umum memiliki fungsi sebagai packaging dan komponen pendukung otomotif/electric. Secara packaging, ada dua jenis umum plastik yang beredar di pasaran yaitu plastik rigid dan plastik fleksibel.  Poin terlemah dari plastik sebagai packaging adalah sulit terurai namun perlu diketahui berdasarkan “International Journal of Lifecycle Assesmant, 2013”, plastik adalah material yang paling rendah potensi pemanasan global jika dibandingkan packaging lain seperti kertas, kaca, dan kaleng serta yang paling ramah energi dan air dalam proses produksinya.


Kita kembali pada pertanyaan apa yang dapat kita lakukan untuk menekan angka plastik? Meminimalisir ya bukan menghilangkan, karena sesungguhnya kita tak akan bisa bermusuhan dengan plastik. Bagi pelaku plastik, saat ini sedang gencar mengusung tema “sustainability” dalam campaignnya. Dalam beberapa tahun ini manufaktur plastik sedang asik meracik botol pastik dari resin recycle. Apa itu resin recycle? Resin recycle adalah resin yang dibuat 100% dari bahan daur ulang (sampah plastik) yang diproses kembali menjadi pelet sebagai bahan baku botol kembali. Baru ada dua jenis resin daur ulang yang beredar yaitu Recycle PET dan Recycle HDPE. Di Indonesia sendiri, sudah beberapa produk home care yang menggunakan resin daur ulang. Perlu diketahui resin recycle ini sudah tersertifikat dan teruji. Harganya tentu lebih mahal hingga 25% daripada resin murni. Jika hal ini konsisten dan mendapat dukungan dari banyak pihak, istilah “sustainability” dan penekanan angka sampah plastik tentu akan memberikan dampak yang signifikan. Selain itu, ada proyek dari salah satu perusahaan pelaku plastik dan pemerintah yang bekerja sama untuk membuat sejenis vending machine sampah dimana masyarakat dapat memasukan sampah plastiknya dan ditukar dengan vocer belanja. Semoga project ini segera terlaksana dengan terus melakukan evaluasi terhadap dampak positif dan negatifnya.

Jika hal diatas adalah dari sisi pelaku plastik, maka dibawah ini adalah tindakan-tindakan yang dapat kita lakukan untuk mendukung perbaikan lingkungan, antara lain

1. Membantu mengurangi limbah plastik air kemasan sekali pakai
Sugesti diri Anda sendiri untuk peduli terhadap lingkungan dengan cara yang paling mudah yaitu membawa botol minum sendiri kemanapun pergi. Setelah itu ajak teman, komunitas dan kantor untuk mengurangi penggunaan air mineral sekali pakai.
Pada gambar 1 dapat dilihat salah satu komunitas kanker di Jakarta yang selalu mewajibkan anggotanya saat rapat membawa botol minum sendiri bahkan alat makan sendiri.

 
Gambar 1. Anggota komunits menggunakan peralatan makan dan minum
Sumber: Pribadi

Contoh lain di salah satu industri rigid packaging yang mengultimatum kepada karyawannya untuk membawa botol minum sendiri saat bekerja dan  tidak memberikan air kemasan kepada tamu (menggantinya dengan menggunakan gelas atau biasanya diberikan botol minum).

 

Gambar 2. Ruang meeting salah satu perusahaan plastik  saat meeting internal atau eksternal
Sumber: Pribadi

 

 Gambar 3. Salah satu perusahaan plastik membagikan botol minum pada tamu/visitor (tamu dilarang memabawa air minum sekali pakai)
Sumber: Pribadi

 

  1. Meminimalisir penggunaan sampah plastik kresek dengan menggunakan tas belanja. Tahukah kalian jika jenis sampah plastik terbanyak dan menjadi PR terbesar adalah sampah plastik jenis fleksibel packagingseperti kantong kresek, plastik makanan kering, plastik makanan ringan dan sejenisnya? Anda tahu kenapa? Seperti yang penulis sampaikan sebelumnya bahwa di pasaran ada dua jenis plastik yaitu plastik rigid  seperti botol minum,botol sampo, botol deterjen dll dan plastik fleksibel seperti yang dicontohkan diatas. Plastik fleksibel itu lebih ringan sehingga tidak laku di jual oleh pemulung karena bobotnya yang sangat rendah dengan volume yang besar. Plastik fleksibel inilah yang paling banyak berserakan di area maritim dan meracuni hewan hewan laut. Karena bobotnya yang ringan sehingga mudah ditiup angin dan berserakan. Plastik fleksibel juga tidak dapat di daur ulang kecuali dibuat menjadi kerajinan. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatannya, plastik fleksibel sudah tercampur dengan lebih dari satu jenis resin, bahan additive dan tinta. Hal yang telah pemerintah lakukan adalah memberikan pajak pada penggunaan kantong kresek dan yang sedang dilakukan oleh Inaplas adalah mengajukan penambahan berat kantong plastik dan standarisasi agar memiliki nilai untuk diambil oleh pemulung. Nah hal yang bisa kita lakukan adalah mulailah membawa tas belanja sendiri, atau jadikan satu kantong plastik, bungkus makanan, diikat menjadi satu agar tak berserakan terbawa angin.
  2. Mulai menyadarkan diri untuk memilah milah sampah. Sediakan beberapa tempat sampah di rumah lalu tuliskan organik, non organik atau lebih rinci, HDPE, PET, Organik, dan lain-lain. Walalupun nanti mobil sampah menjadikan satu tapi setidaknya kita sudah menanamkan diri untuk manajemen sampah dengan memilah milah sampah. Semoga nanti pemerintah kita pun konsisten untuk melakukan manajemen angkutan sampah dengan pilahan. Jepang sukses dengan sampahnya dimulai dari manajemen dan konsistensi memilah sampah oleh warganya serta didiukung dengan teknologi yang sangat baik.
  3. Mari dukung terus  anak bangsa yang sedang giat-giatnya melakukan penelitian terhadap bioplastic, penelitian terhadap bakteri yang mampu mendegradasi sampah plastik dan penelitian lainnya yang relevan terhadap lingkungan.

Catatan penting, jangan buang sampah sembarangan. Sampah plastik tak punya kaki untuk berjalan ke area maritim seperti sungai, laut, danau. Manusialah yang membuat sampah plastik menjadi masalah. Maka dari itu bijaklah dalam menggunakan plastik dan bertanggung jawablah terhadap sampahnya.

Semoga artikel ini membantu
 

Profil Penulis
Oktarina Musdalipah
Author: Oktarina MusdalipahWebsite: https://oktarinamdp.blogspot.com
Mengenai Penulis