Secara berseri, InsyaAllah akan ditampilkan artikel artikel mengenai Minyak dan Gas Bumi di Website IATEK UNSRI ini, meliputi Pengetahuan Dasar Crude Oil, Pengolahan Minyak dan Gas Bumi, Sifat-Sifat Produk Minyak dan Gas Bumi dan sebagainya,

Kami mengundang juga alumni lainnya, terutama yang berkecimpung dalam bidang ini untuk dapat sharing ilmunya dengan menulis artikel mengenai hal ini..

Artikel pertama mengenai Pengetahuan Dasar Crude Oil.. dirangkum dari : Diktat, Pusdiklat Migas Cepu ; Modern Petroleum Technology, Hobson G.D ; Petroleum Refinery Engineering, Nelson W.L dan Modern Petroleum Refining Processes., Bhaskara Rao B.K Sebagai berikut :

 

CRUDE OIL

1. Komposisi Minyak Bumi

Minyak bumi atau “crude oil” adalah senyawaan hidrokarbon dan non-hidrokarbon yang terdapat di dalam bumi. Minyak bumi berwarna coklat kehitaman sampai hitam, dalam bentuk cair dan terdapat gas–gas yang melarut di dalamnya, dengan berat jenis berkisar antara 0,8000 – 1,0000.

Unsur kimia penyusun minyak bumi adalah :

unsur mayor adalah karbon dan hidrogen (disebut unsur hidrokarbon), dan

unsur minor adalah sulfur, nitrogen, oksigen, halogen dan logam (disebut unsur non-hidrokarbon)

Besarnya kandungan (konsentrasi) unsur tersebut dalam berbagai macam minyak bumi, seperti ditunjukkan pada Tabel dibawah ini :

Sifat minyak bumi antara satu dengan ainnya berbeda–beda, dari yang ringan (encer) sampai pada yang berat (kental). Hal ini sangat bergantung pada jenis dan besarnya kandungan komponen (unsur) di dalam minyak bumi.

Tabel : Kisaran kandungan unsur – unsur dalam Minyak Bumi

Unsur Konsentrasi (% wt)
Karbon (C) 83 - 87
Hidorgen (H) 10 - 14
Sulfur (S) 0.05 - 6,0
Oksigen (O) 0.05 - 1,5
Nitrogen (N) 0,1 - 2,0
Logam 10-5 -  10-2

Diharapkan bahwa minyak bumi mengandung unsur non-hidrokarbon dalam jumlah sekecil mungkin. Makin kecil kandungannya mempunyai nilai ekonomi makin tinggi, karena dengan kandungan yang kecil tidak memerlukan biaya yang tinggi dalam proses pengolahannya ataupun dalam pemenuhan spesifikasi produk yang dihasilkan.

 

2. Komponen Minyak Bumi

Komponen Minyak bumi terdiri dari :

– Komponen Hidrokarbon (HC, hydrocarbon)

– Komponen non-Hidrokarbon

 

2.1 Komponen Hidrokarbon

Minyak bumi merupakan campuran dari beratus–ratus senyawaan hidrokarbon, yang dikelompokan atas hidrokarbon parafin, naften dan aromat.

Jumlah atom karbon dalam minyak bumi mulai dari metana (satu atom karbon dalam molekulnya) sampai 60 atau lebih, dengan berat molekul 16 sampai 850 atau lebih.

  1. Hidrokarbon parafin, mulai dari metana yaitu senyawaan hidrokarbon yang paling kecil dengan 1 atom karbon sampai senyawaan hidrokarbon besar dengan 42 atom karbon (berat molekul 590) atau lebih. Hidrokarbon parafin terdiri dari normal parafin dan isoparafin
  2. Hidrokarbon naften, mulai dari mono naften sampai poli naften
  3. Hidrokarbon aromat, mulai dari mono inti benzena sampai poli inti benzena.

 

Hidrokarbon Parafin adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C dan C – H dengan struktur rantai atom C terbuka.  HC parafin mempunyai titik didih paling rendah diantara hidrokarbon naften dan aromatik. Oleh karena itu banyak terdapat pada fraksi ringan.

Sifat – sifat :

– nilai kalor tinggi (btu/lb),

– SG rendah,

– API gravity tinggi

– tahan terhadap oksidasi,

– mudah untuk dipecah (cracking) dalam proses perengkahan panas ( thermal cracking ) maupun proses perengkahan katalis (catalytic cracking) artinya proses cracking itu berjalan pada suhu yang relative rendah dibanding dengan senyawaan hidrokarbon naften dan aromat.

Rumus CnH2n+2

Hidrokarbon parafin, baik normal parafin maupun parafin cabang (iso parafin)  rumusnya adalah CnH2n+2 .

 

Hidrokarbon Naften, terdiri dari mononaften dan polinaften.

Hidrokarbon naften adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C dan C – H dengan struktur rantai atom C tertutup. Struktur molekulnya terdiri mononaften dan polinaften.

Sifat – sifat :

Hidrokarbon naften mempunyai sifat– sifat diantara hidrokarbon parafin dan hidrokarbon aromat. Hidrokarbon naften disebut pula sikloparafin atau siklo alkana. Dibandingkan dengan hidrokarbon parafin, hidrokarbon ini lebih stabil karena mempunyai rantai atom C tertutup sedang hidrokarbon parafin rantai atom C nya terbuka.

Rumus : CnH2n + 2 – 2RN

Hidrokarbon naften, rumusnya adalah CnH2n + 2 – 2RN , dimana RN adalah cincin naften dalam molekul.

Contoh  pada gambar di bawah ini :

naphten

 

Hidrokarbon Aromatik, terdiri dari monoaromat dan poliaromat

Hidrokarbon aromatik adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C, C = C dan C – H. Dikatakan hidrokarbon jenuh karena senyawa aromatik :

– tidak dapat bereaksi dengan larutan brom, dan atau

– tidak dapat bereaksi dengan larutan KMnO4 alkalis.

 

Hidrokarbon aromat ini mempunyai struktur rantai atom C tertutup berikatan rangkap dua dan tunggal yang saling bergantian (selang–seling–selang atau seling–selang–seling) diantara kedua atom C yang berdekatan.

Sifat – sifat :

– Dibandingkan dengan hidrokarbon parafin dan hidrokarbon naften, bahwa hidrokarbon aromat kurang stabil dan dapat bereaksi terutama dengan gas H2 menghasilkan naften.

– Mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan dengan hidrokarbon parafin dan naften. Oleh karena itu banyak terdapat pada fraksi berat.

– Nilai kalor rendah (btu/lb),

– SG tinggi

– API gravity rendah dan namun tahan terhadap oksidasi.

– Memerlukan panas tinggi untuk proses thermal cracking ataupun catalytic cracking, menghasilkan naften dan parafin.dengan jumlah atom lebih kecil.

Rumus CnH2n +2 – 6RA – 2RAS

Hidrokarbon aromat rumusnya adalah CnH2n +2 – 6RA – 2RAS , dimana RA = jumlah cincin aromatik dan RAS = jumlah cincin aromatik substansial. Sedang hidrokarbon campuran naften aromatik mempunyai rumus CnH2n +2RN – 6RA – 2RAS.

Contoh pada gambar dibawah ini :

benzen

Benzene -- Monoaromat

poli aromat

Napthalene --  Poliaromat

 

Atas dasar pembagian senyawaan hidrokarbon tersebut atas parafin, naften dan aromatik, dan campuran naften–aromatik, dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi minyak bumi, yaitu minyak bumi parafinik, naftenik, aromatik dan campuran. Sedang senyawaan hidrokarbon olefin tidak terdapat dalam minyak bumi, hal ini disebabkan oleh proses penjenuhan olefin dalam minyak bumi itu sendiri oleh gas H2 yang melarut di dalamnya.

 

2.2 Komponen non-Hidrokarbon

Komponen nonhidrokarbon adalah senyawaan yang di dalam molekulnya disamping unsur karbon dan hidrogen terdapat unsur sulfur, oksigen, nitrogen, halogen atau logam. Senyawaan yang demikian disebut senyawaan hidrokarbon heteroatom. Sebagai senyawa organik, keberadaannya melarut dalam minyak bumi, sedang sebagai senyawa anorganik tidak melarut dalam minyak bumi melainkan larut dalam air sebagai emulsi.

 

· Senyawaan Organik Sulfur

Senyawaan organik sulfur adalah senyawaan organik heteroatom terdiri dari atom karbon, atom hidrogen dan atom sulfur. Terdapatnya senyawaan sulfur dalam minyak bumi sangat berpengaruh dalam proses pengolahan, produk yang dihasilkan dan pada penyimpanan. Pengaruh tersebut adalah penyebab korosif dan berbau. Bila density suatu minyak bumi tinggi (0API rendah), berpeluang kandungan sulfurnya tinggi.

 

· Senyawaan Organik Oksigen

Oksigen sebagai senyawaan organik dalam minyak bumi terdiri dari berbagai macam senyawaan, dan tidak jelas bagaimana senyawaan oksigen itu dapat terbentuk di dalam minyak bumi. Kandungan oksigen jumlah (total oxygen) dalam minyak bumi umumnya kurang dari 2 %wt. Kandungan oksigen dalam minyak bumi tidak menaik dengan kenaikan titik didih fraksi.

Walaupun kandungan sulfur maupun kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat berpengaruh pada berat jenis API (API gravity), namun tidak demikian halnya bahwa kandungan oksigen dalam minyak bumi tidak proprsional dengan berat jenis API. Hal ini disebabkan karena minyak bumi dimungkinkan berhubungan dengan udara sehingga terdapat oksigen yang bereaksi dengan unsur–unsur yang terkandung dalam minyak bumi untuk menghasilkan senyawaan oksigen.

 

· Senyawaan Nitrogen Organik

Pada umumnya, kandungan nitrogen dalam minyak bumi adalah rendah, berada dalam kisaran konsentrasi 0,1 sampai 0,9 % wt walaupun beberapa minyak bumi mempunyai kandungan nitrogen sampai 2 %wt. Bagaimanapun untuk beberapa minyak bumi dengan kandungan nitrogen yang tidak terdeteksi ( not detectable ) atau dalam konsentrasi yang sangat kecil ( trace ) adalah tidak umum, bahkan minyak bumi jenis aspaltik mengandung nitrogen dalam jumlah yang sangat tinggi.

 

· Konstituen Logam

Dalam minyak bumi terdapat kira – kira 20 (dua puluh) unsur logam, dengan konsentrasi yang berbeda. Keberadaan logam dalam minyak bumi sangat menarik perhatian di dalam proses pengolahan walaupun kandungannya sangat kecil.

Pengaruh logam dalam minyak bumi adalah :

– Meskipun dalam jumlah yang kecil, unsur–unsur besi, tembaga dan terutama vanadium dan nikel, yang terdapat dalam umpan perengkahan katalitik mempunyai pengaruh terhadap aktifitas katalis dapat menghasilkan kenaikan pembentukan gas dan kokas (coke) dan menurunkan produk gasoline.

– Dalam pembangkit tenaga pada suhu tinggi, misalnya turbin gas, terdapatnya konstituen logam terutama vanadium dalam bahan bakar, dapat menghasilkan kerak abu dalam rotor turbin, akan mengurangi kebersihan. Disamping itu terdapatnya vanadium juga menyebabkan korosi.

– Abu yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan bata tahan api dapur sehingga menurunkan titik leburnya dan menyebabkan deteriorasi.

– Residu abu yang tertinggal setelah pembakaran minyak bumi berupa konstituen logam ini, sebagian berasal dari senyawaan anorganik yang larut dalam air sebagai garam–garam klorida, kalium, magnesium dan kalsium, yang terdapat dalam fasa air yaitu dalam bentuk emulsi minyak bumi. Garam–garam ini dipisahkan dalam proses pengambilan garam (desalting operations ), dapat juga dengan cara penguapan air yang kemudian dicuci dengan air bebas garam, atau dengan cara memecah emulsi. Dengan cara ini, kandungan garam dalam minyak bumi dapat berkurang.

– Kandungan abu jumlah (total ash ), adalah penjumlahan dari anorganometalik dan organometalik dari minyak bumi yang telah diambil garamnya (desalted crudes), berkisar dari 0,1 sampai 100 mg/liter.

– Logam – logam seperti seng, titanium, kalsium dan magnesium berada dalam bentuk koloidal tersuspensi. dengan sifat permukaan aktif yang teradsorp dalam permukaan air–minyak dan cenderung stabil dalam emulsi. Sebaliknya logam– logam seperti vanadium, tembaga, nikel dan sebagian besi ditemukan dalam minyak bumi sebagai senyawaan logam yang melarut dalam minyak bumi (oil–soluble compounds).

 

Temukan saya di Google+


3. Klasifikasi Minyak Bumi

Minyak bumi diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Klasifikasi ini sangat penting artinya, yaitu untuk mengetahui sifat minyak bumi, sehingga berguna untuk memprediksi produk yang akan dihasilkan. Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi dibedakan atas struktur hidrokarbon dan non hidrokarbon. Perbedaan komposisi ini akan menyebabkan perbedaan sifat minyak bumi, yaitu perbedaan susunan hidrokarbon, SG, oAPI, volatilitas, flash point, distilasi dan sebagainya.

Oleh karena itu klasifikasi minyak bumi didasarkan pada perbedaan sifat tersebut.

Tujuan klasifikasi adalah untuk mengetahui komponen hidrokarbon dalam minyak bumi.

 

Minyak bumi diklasifikasikan atas :

- Klasifikasi berdasarkan Specific Gravity 60/60oF (SG 60/60oF)

- Klasifikasi berdasarkan Sifat Penguapan (Volatility)

- Klasifikasi berdasarkan Kadar Belerang

- Klasifikasi berdasarkan Faktor Karakteristik, KUOP (Nelson, Watson & Murphy)

- Klasifikasi menurut US Bureau of Mines (Lane & Garton)

- Klasifikasi berdasarkan Indeks Korelasi (CI)

- Klasifikasi berdasarkan Viscosity Gravity Constant (VGC)

 

3.1 Klasifikasi berdasarkan Specific Gravity 60/60oF (SG 60/60 oF)

Specific Gravity (SG) minyak bumi berkisar antara 0,8000 – 1,0000. Besarnya SG untuk tiap minyak bumi sangat erat hubungannya dengan struktur molekul hidrokarbon, dan pula kandungan Sulfur dan Nitrogen. Makin kecil SG minyak bumi itu akan menghasilkan produk ringan makin besar, dan sebaliknya.

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut Specific Gravity

Minyak Bumi SG 60/600F
Ringan < 0,830
Medium Ringan 0,830  -  0,850
Medium Berat 0,850  -  0,865
Berat 0,865  -  0,905
Sangat Berat > 0,95

 

3.2 Klasifikasi berdasarkan Sifat Penguapan (Volatility)

Sifat penguapan minyak bumi dijadikan ukuran dalam klasifikasi ini. Sebagai ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini adalah jumlah fraksi ringan dinyatakan dalam % volume yang terkandung di dalam minyak bumi itu yang diperoleh dari hasil distilasi sampai suhu 300 oC.

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut Sifat Penguapan (volatility)

Minyak Bumi Fraksi Ringan % Vol
Ringan > 50
Sedang 20 - 50
Berat < 20

 

3. 3 Klasifikasi berdasarkan Kadar Belerang (% massa).

Sebagai ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini adalah kadar Sulfur dalam minyak bumi, dinyatakan dalam % massa yang terkandung dalam minyak bumi itu yang diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium dengan menggunakan metode standar ASTMD 1552 ( atau dengan metode standar yang lain).

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut Kadar Sulfur (ASTMD 1552)

Minyak Bumi Kadar Sulfur, % massa
Ringan < 0,1
Sedang 0,1 - 2,0
Berat > 2,0

 

3.4 Klasifikasi berdasarkan Faktor Karakteristik KUOP

Sebagai ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini, adalah akar pangkat tiga dari pengukuran titik didih rata – rata suatu minyak bumi dibagi dengan SG 60/60 oF.

Dirumuskan :

kuop

K = faktor karakteristik (KUOP)

T = titik didih rata – rata , oRankine (= oF + 460)

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut Faktor Karakteristik (KUOP)

KUOP Klasifikasi
10,1 - 10,5 aromatik
10,5 - 11,5 naftenik
11,5 - 12,1 campuran
12,1 - 12,9 parafinik

 

3.5 Klasifikasi berdasarkan US Bureau of Mines

Sebagai ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini adalah SG 60/60 oF dari dua fraksi yang dihasilkan dari distilasi minyak bumi itu dilakukan mula – mula pada tekanan atmosfer dan kemudian distilasi dilanjutkan pada tekanan absolut 40 mm Hg, yang terkandung dalam minyak bumi yang diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium dengan menggunakan metode standar ASTMD 2892.

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut US Bureau of Mines

Klasifikasi Kunci Fraksi I Kunci Fraksi I
  SG 60/60 0F 0API SG 60/60 0F 0API
Parafinic- Parafinic < 0,825 > = 40 < 0,876 > = 30
Parafinic - Intermediate < 0,825 > = 40 0,876 - 0,934 20 - 30
Intermediate - Parafinic 0,825 - 0,860 33 - 40 < 0,876 > = 30
Intermediate - Intermediate 0,825 - 0,860 33 - 40 0,876 - 0,934 20 - 30
Intermediate-Naphtenic 0,825 - 0,860 33 - 40 > 0,934 < = 20
Naphtenic-Intermediate > 0,860 < = 33 0,876 - 0,934 20 - 30
Naphtenic - Naphtenic > 0,860 < = 33 > 0,934 < = 20
Parafinic - Naphtenic < 0,825 < = 40 > 0,934 < = 20
Naphtenic - Parafinic > 0,860 < = 33 < 0,876 > = 30

 

3.6 Klasifikasi berdasarkan Indeks Korelasi (Correlation Index)

Ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini, adalah dengan mengukur SG 60/60 oF minyak bumi dan menghitung titik didih rata – rata distilasi minyak bumi (ASTMD 86).

Dirumuskan :

 ci

dimana : T = titik didih rata – rata, oKelvin (= oC + 273)

SG = Specific Gravity 60/60 oF

 

Tabel : Klasifikasi Minyak Bumi menurut Correlation Index ( CI )

Correlation Index Klasifikasi
0 Hidrokarbon Seri Normal Parafin
100 Hidrokarbon Benzene
0 - 15 Hidrokarbon yang dominan dalam fraksi adalah Parafinic
15 - 50 Hidrokarbon yang dominan adalah Naftenic, atau campuran Parafinic, Naftenic dan Aromatic
> 50 Hidrokarbon yang dominan dalam fraksi adalah aromatic

 

3.7 Klasifikasi berdasarkan Viscosity Gravity Constant (VGC)

Ukuran dalam klasifikasi minyak bumi ini, adalah dengan mengukur SG 60/60 oF minyak bumi dan mengukur viscosity minyak bumi (viscosity Saybolt).

Klasifikasi VGC ini digunakan untuk fraksi minyak lumas.

Dirumuskan :

vgc1

dimana : SG = Specific Gravity 60/60 oF

V = Viscosity pada 100 oF (38 oC), SSU

atau :

vgc2

dimana : SG = Specific Gravity 60/60 oF

V = Viscosity pada 210 oF (99 oC), SSU

 

Tabel  : Klasifikasi Minyak Bumi Menurut Viscocity Gravity Constant (VGC)

VGC Klasifikasi
0,800 - 0,840 Hidrokarbon Parafinic
0,840 - 0,876 Hidrokarbon Naftenic
0,876 - 1,00 Hidrokarbon Aromatic

 

4. Evaluasi Minyak Bumi

Tujuan Evaluasi Minyak Bumi adalah menentukan potensi atau tidaknya minyak bumi sebagai bahan baku kilang. Cakupan Evaluasi Minyak Bumi meliputi Pengujian/analisis sifat umum minyak bumi, Distilasi TBP (pemotongan suhu untuk memperoleh fraksi) dan Kurva distilasi TBP

 

4.1 Distilasi TBP (True Boiling Point), ASTMD 2892

Kegunaan distilasi TBP untuk prediksi kondisi operasi kilang, jumlah yield dan mutu produk minyak bumi. Jumlah sampel yang diperlukan antara 4 – 5 liter. Dilakukan pada 2 (dua) tahapan suhu, yaitu suhu pada tekanan atmosfer (narrow cut) kemudian dilanjutkan pada suhu tekanan vakum (wide cut). Suhu tekanan atmosfer untuk fraksi ringan, sedang suhu tekanan vakum untuk fraksi berat.

 

· Fraksi ringan (distilasi TBP narrow cut) :

1. Fraksi Nafta : IBP – 150 oC

2. Fraksi Kerosine : 150 – 250 oC

 

· Fraksi berat (distilasi TBP wide cut) :

1. Fraksi Gasoil : 250 – 350 oC

2. Residue : > 350 oC

 

4.2 Tipe Analisis Minyak Bumi

 

Tipe analisis Minyak Bumi meliputi :

 

Tipe A (tipe analisis cepat)

Tipe analisis A yaitu tipe analisis minyak bumi yang bertujuan untuk memberikan informasi sehubungan dengan minyak bumi yang baru diketemukan.

Analisis meliputi :

– Pengujian sifat umum minyak bumi

– Klasifikasi minyak bumi

 

Tipe B (tipe analisis sederhana)

Tipe analisis B yaitu tipe analisis minyak bumi yang bertujuan memberikan informasi tentang potensi minyak bumi sehubungan dengan minyak yang baru diketemukan.

Analisis meliputi :

– Pengujian sifat umum minyak bumi

– Klasifikasi minyak bumi

– Distilasi TBP narrow cut (hanya sampai fraksi kerosine)

 

Tipe C (tipe analisis sedang)

Tipe analisis C yaitu tipe analisis minyak bumi yang bertujuan memberikan

informasi tentang potensi minyak bumi sehubungan dengan minyak bumi yang

sedang diproduksi maupun yang dipasarkan.

Analisis meliputi :

– Pengujian sifat umum minyak bumi

– Klasifikasi minyak bumi

– Distilasi TBP narrow cut dan wide cut (sampai fraksi minyak solar)

– Analisis fraksi – fraksi dari TBP

 

Tipe D (tipe analisis lengkap)

Tipe analisis D yaitu tipe analisis minyak bumi yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi minyak bumi sehubungan dengan minyak bumi akan diolah

Analisis meliputi :

– Pengujian sifat umum minyak bumi

– Klasifikasi minyak bumi

– Distilasi TBP narrow cut dan wide cut (sampai fraksi minyak solar)

– Analisis fraksi – fraksi dari TBP

– Analisis logam (V, Pb, Ni, Cu, Na, dan lain – lain)

 

 Temukan saya di Google+

 

SUMBER

1. Diktat,  Pusdiklat Migas Cepu.

2. Hobson G.D., Modern Petroleum Technology

3. Nelson W.L., Petroleum Refinery Engineering

4. Bhaskara Rao B.K., Modern Petroleum Refining Processes.


0
0
0
s2smodern

You don`t have permission to comment here!
  • Slider 1
    Alumni / Dosen /
    Mahasiswa
  • Slider 2
    Belum bergabung?
    kilk disini untuk daftar
  • Slider 3
    udah jadi member?
    Update Data Yuk..

Siapo Yang Online?

We have 73 guests and no members online

Artikel Baru

Jadi Member Yuk

Alumni, Dosen dan Mahasiswa Teknik Kimia UNSRI, Mari Bergabung dengan Web iatekunsri :

DAFTAR

Setelah join anda dapat posting artikel, tulis komentar, diskusi di forum , akses data alumni dll

Jejaring Sosial IATEK

Website IATEK UNSRI ada di Jejaring Sosial, ikuti kami untuk selalu mendapatkan informasi terbaru